Sebelum tewas, Noordin M Top siapkan 4 pelaku bom bunuh diri

Ditulis 18 Sep 2009 - 22:11 oleh Banyumas1

SOLO – Sebelum tewas ditangan Tim Densus 88 di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo (Jateng), ternyata Noordin bersama kaki tangan telah menyiapkan empat anak remaja untuk menjadi pelaku pengeboman atau calon ’pengantin’.  Keempatnya, telah dididik bela diri oleh Hadi Susilo alias Adib tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing.

Rekruitmen anak-anak remaja ini mirip yang terjadi pada Dani Permana, salah satu pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Kuningan. Dani yang masih remaja direkrut Saifudin Zuhri, salah satu buron teroris. Saifudin juga sempat mendekati beberapa anak remaja untuk didik bela diri.

Empat calon ’pengantin’ itu adalah KY (10), IP (11), AB (12) dan DN (11). Mereka adalah sebagian murid mengaji yang dibimbing Adib. Latihan bela diri itu sendiri dilakukan Adib setelah teman-teman mengaji lainnya dipulangkan. Memang tidak semua murid Adib yang berjumlah 18 anak remaja, dilatih bela diri.

Keempat remaja tanggung ini yang semula menyimpan rahasia dengan orang tuanya akhirnya membuka diri. Mereka mengaku telah dilatih bela diri oleh Adib yang baru tinggal di tempat kontrakannya lima bulan. Mereka semula tidak mau berterus terang dengan orang tuanya, karena hal itu sudah dipesan oleh Adib. “Saat kami dilatih bela diri, Mas Adib (panggilan Susilo) berpesan agar kami tidak cerita ke orang tua,” ungkap AB.

Ketika ditanya mengapa Adib hanya mengajarkan latihan bela diri silat kepada dirinya bersama tiga teman lainnya, AB  mengaku, jika Adib sempat memberikan alasan teman-temannya yang lain dinilai masih terlalu kecil. “Saya diajar silat biar berani menghadapi masalah atau saat ketemu orang jahat,” tutur AB polos yang didampingi kedua rekannya KY dan IB.

AB, KY dan IB mengungkapkan, kegiatan latihan silat dilakukan setiap Senin, pukul 17.00 usai belajar mengaji bersama belasan santri lain di teras rumah Adib. Karena selama proses belajar mengaji pintu rumah selalu tertutup, belasan santri tersebut tidak pernah ada yang sempat mengetahui isi di dalam rumah.

”Kalau habis mengaji kami diberi jajanan . Setelah teman-teman yang  lain pulang, kami berlatih silat seperti gerakan pukulan, tangkisan dan cara menendang,” tambah KY yang sempat memeragakan teknik silat yang diajarkan Adib.

Dari pengakuan KY dan juga AB, mereka baru mengaku kepada orang tuanya jika Pempat dilatih silat. pengakuan itu dilakukan setelah tahu Susilo terlibat jaringan teroris dan tewas dalam penggerebekan. ”Saya takut kalau nanti mimpi bertemua Mas Adib, jadi saya bilang sama ibu,” kata KY lugu.

Mijan (32), orang tua salah satu anak yang dilatih bela diri oleh Adib mengaku, selama ini anaknya memang sering belajar mengaji di rumah kontrakan Susilo. Mijan mengaku baru mengetahui adanya latihan silat itu setelah mendapat pengakuan dari sang anak. “Sebelumnya saya juga tidak pernah tahu. Selama ini saya tahunya kalau anak saya
nurdin-m-tophanya belajar mengaji,” kata Mijan. (banyumasnews.com/tgr)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Iklan Gratis 19/09/2009 pukul 06:00 -

    Wah, sebuah metode baru dalam upaya perekrutan “pengantin”. suatu hal yang patut diwaspadai oleh para orang tua yang mempunyai anak remaja. bila tidak, ha ini bisa saja menimpa kepada siapa pun.
    memang masa remaja merupakan masa pencarian jati diri, bila tidak bertemu orang yang tepat, maka anak remaja bisa salah jalan. namun mudah-mudahan dengan tewasnya noordin M. Top mudah-mudahan anak-anak remaja Indonesia tidak kembali menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
    Iklan Gratis

Leave A Response