Setelah 30 tahun, puisi dari Banyumas

Oleh : Abdul Aziz Rasjid dan Teguh Trianton

Penyair Banyumas mulai mempublikasikan puisinya —dalam bahasa Indonesia— kurang lebih sejak tahun 1970-an. Sampai kini, puisi mereka mendapatkan publikasi yang cukup “besar” di beberapa lembar sastra koran, majalah, media alternatif, jurnal maupun antologi puisi bersama.

Pada periode 1970-an itu, kita tahu berbagai perambahan dalam pengucapan dan wawasan puisi di Indonesia banyak dilakukan oleh penyair. Ada puisi mbeling lewat Remy Silado yang menganggap puisi bukan sebuah hal serius apalagi agung, muncul pula puisi konkret yang mencuatkan nama Danarto yang seakan tak puas hanya sebatas kata-kata. Sedang perode 1980-an muncul puisi instalasi oleh Afrizal Malna.

Namun, di antara hingar-bingar perambahan itu, puisi dari Banyumas seakan kurang mendapat perhatian dalam percakapan produk sastra secara nasional.

Kenyataan itu, sungguh mengherankan. Sebab jika melihat kembali geliat aktivitas perpuisian di Banyumas dari tiga puluh tahun silam, idealnya spirit yang dibawa oleh beberapa orang itu membawa pengaruh segar terhadap produk sastra di Banyumas.

Apalagi, Komunitas Sastra di Banyumas —sebagai media pemicu proses kreatif / tugar gagasan/ sirkulasi informasi penyair— telah berkali-kali didirikan, sebut saja: Sanggar Pelangi (1971), Himpunan Penulis Muda Purwokerto (1974), Lingkaran Seni dan Budaya (1986), Kancah Budaya Merdeka (1993), Hujan tak Kunjung Padam (2005) sampai Bunga Pustaka (2007).

Soalnya, apakah puisi dari Banyumas tak memuat tanda tertentu untuk pantas diperbincangkan dalam lingkup nasional?

Apakah gagasan intelektual, perambahan dan kekhasan pengucapan penyair atau relasi puisi dengan kondisi sosial dan budaya Banyumas tidak pernah semarak dibicarakan dalam komunitas-komunitas itu?

Atau tulisan-tulisan yang dipublikasikan yang berkaitan dengan puisi dari Banyumas tak memuat tanda tententu yang dapat menjadi korespondensi bagi masyarakat Banyumas untuk mengetahui perkembangan kualitas puisi-puisi dari Banyumas secara aktual?

Padahal —merujuk pada Ignas Kleden— penciptaan karya sastra (puisi) tidak bisa terhindar dari kondisi sosial dan budaya di sekitar pengarangnya. Sebab karya sastra (puisi) memuat realitas sosial secara simbolik, evokatif (menggugah) dan artistik.

Atau jangan-jangan, literasi yang memuat puisi-puisi dari Banyumas yang secara nyata malah banyak terkumpul dalam antologi bersama di luar Banyumas –sebut saja: Melacak Jejak (KBM, 1993), Serayu (Harta Prima, 2005), Jentera Terkasa (TBJT, 1998) sampai Pledoi Puisi (TBJT, 2008)– yang menjadi soalnya, sebab akhirnya sirkulasi puisi tak jatuh pada pembaca di Bnayumas –hanya golongan tertentu?

Jikapun terbitnya Blues Mata Hati (DKKB, 2009) dijadikan sanggahan. Pertanyaannya kemudian, apakah kondisi ini wajar jika dalam rentang waktu tiga puluh tahun hanya melahirkan sebuah antologi bersama?

Yang dibutuhkan di Banyumas -terkait perkembangan sastra- adalah minimnya tegur sapa antar sesama pegiat sastra (kebudayaan). Tegur sapa yang cerdas dan intelek menjadi barang langka. Yang ada adalah kebiasaan ngerasani neng mburi.

Alih-alih berkembang, sastra Banyumas bahkan tak sempat jalan di tempat, mundur bahkan. Yang saya maksud tegur sapa cerdas adalah tegur sapa melalui tradisi mengkritik, mengapresiasi, meneroka karya sesama pegiat. Padahal sastra sesungguhnya adalah wilayah literasi, sehingga mustahil berkembang jika nir literasi.

Rendahnya tradisi literer sebagai roh sastra yang sesungguhnya, terjadi akibat masih kuatnya tradisi keberlisanan. Ini pula yang menyebabkan pegiat sastra di Banyumas lebih memilih berperan sebagai pembaca yang membaca -dalam arti harfiah- dari pada pembaca yang menuliskan hasil bacaan.

Sesungguhnya jika yang dimaksud berkembang adalah riuhnya panggung, maka panggung sastra Banyumas tak pernah sepi dari pementasan, tak pernah sepi dari kemunculan kantong-kantong sastra baru. Tapi permasalahnnya adalah kantong-kantong yang tumbuh ini juga tak memberikan tawaran baru.

Sangat jarang lahir penulis -apapun itu- dari kantong sastra yang bertebaran. Mereka lebih banyak memproduksi pembaca, pembaca-pembaca sastra panggung. Akibatnya panggung sastra memang riuh, tapi sepi dalam gelak esai, kritik bertanggung jawab -ilmiah- dan sepi dari pendokumentasian karya.

*)Abdul Aziz Rasjid dan Teguh Trianton pegiat Beranda Budaya, Komunitas diskusi dan literasi filsafat, budaya, sastra dan agama.

Abdul Aziz Rasjid
Abdul Aziz Rasjid
Teguh Trianton
Teguh Trianton

1 Comment

  1. Salah satu hal yang membuat “mandek”-nya sebuah dialog kritis dan cerdas adalah adanya “keberpihakan” pengelola “media dialog”.
    Sudah menjadi isu lama dan bukan rahasia lagi bahwa tidak semua “tanggapan” atas sebuah ide atau tulisan di sebuah media, khususnya media cetak, akan dimunculkan oleh redaktur media bersangkutan.
    “Keberpihakan” redaktur sebuah media massa untuk memunculkan atau tidak memunculkan tulisan tertentu di halaman yang dia kelola minimal disebabkab oleh:
    1. Keterbatasan halaman media.
    2. Penilaian “baik-buruk” tulisan itu oleh si redaktur.
    3. Keterbatasan “anggaran” media untuk membayar penulis yang tulisannya muncul sebagai sebuah “counter article”.
    – Keterbatasan space media, menyebabkan redaktur lebih selektif untuk memuat sebuah tulisan.
    – Penilaian “baik buruk” menyebabkan si pengelola hanya menurunkan tulisan-tulisan yang dia anggap baik dan mencampakkan tulisan yang dia anggap “buruk”, meski oleh penulisnya tentu dianggap “baik”. Kadang, sebuah tulisan muncul di media massa hanya karena ada kedekatan emosional antara penulis dan redaktur. Tidak tergantung pada “kualitas” sebuah tulisan.
    Ketika penulis menyadari hal itu, mereka kadang sudah berprasangka ketika akan memualai sebuah tulisan “ah ngapain capek-capek, paling juga enggak dimuat”…alih-alih jadi mengirim tulisan ke media, bahkan menulis saja enggak jadi.
    – Sementara itu masalah anggaran media untuk membayar para penulis kolom/artikel dsb juga sangat terbatas (dibatasi). Akibatnya, redaktur harus tahu diri untuk menurunkan tulisan-tulisan “produksi sendiri” yang tentu saja tidak menuntut media bersangkutan mengeluarkan “biaya tambahan”.
    Saya kebetulan lebih dari 20 tahun berkecipung di media cetak dan karenanya tahu persis bagaimana kondisi psikologis redaktur ketika memutuskan apakah sebuah tulisan “laik” turun atau tidak.
    Barangkali itu sekadar “sebuah catatan” dari satu sudut pandang yang bisa jadi tidak tepat atau malah melenceng sekali.
    Salam…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.