Penerapan pendidikan kebudayaan masih sebatas teori

Ditulis 10 Jul 2009 - 18:39 oleh Mr Banyumas

logo pendidikSeni budaya termasuk salah satu pelajaran wajib dalam kurikulum formal, yang diterapkan di sekolah-sekolah, seperti SD, SMP, dan SMA. Sayang, pendidikan kesenian ini seolah kehilangan dukungan, arah dan orientasi utamanya.
Orientasi utama pendidikan seni budaya di sekolah-sekolah terkesan hanya menanamkan nilai-nilai yang dapat mendukung kelestarian suatu tradisi.
“Penerapan seni budaya di sekolah sampai sekarang masih sebatas teori saja,” kata Pamong Budaya Kecamatan Ajibarang, Slamet Waluyo.
Menurutnya, pembinaan pelajaran seni dan budaya di sekolah belum tersentuh karena tidak ada perhatian maksimal. Pelajaran itu seolah dianaktirikan, karena sekolah lebih menonjolkan sisi akademis dibanding pelajaran Seni Budaya.
Slamet Waluyo mengatakan kalangan pendidik terutama SD kurang serius dalam menerapkan secara praktik. Kondisi ini menyebabkan siswa kurang memahami tentang seni dan budaya terutama Banyumas. “Tenaga pengajar di sekolah pun minim dalam memahami seni dan budaya,” ujarnya.
Slamet mencontohkan, peran sekolah dalam mempersiapkan atau mempraktikan kesenian dan budaya Banyumas manakala ada pentas, seperti popdaseni misalnya.
Selepas itu, kata dia, gelaran kesenian dan budaya jarang dilaksanakan di sekolah. “Implementasi pelajaran seni budaya belum merata. Mereka yang menerapkan hanya anak-anak yang mempunyai bakat saja, sedangkan anak lain hanya sebagai penonton,” tukas dia.
Slamet menilai, pembinaan secara rutin pelajaran kesenian dan budaya jika diterapkan dengan baik, maka bisa membentuk sikap dan kepribadian anak. Budi pekerti anak bisa menjadi santun karena manfaat seni dan budaya Banyumas itu akan bercermin kepada daerah sendiri.
Karena itu, agar penerapan pelajaran ini dapat diterapkan dengan baik, dibutuhkan pengawas seni dan budaya disetiap sekolah, serta tenaga tenaga pengajar khusus dibidang seni dan budaya.
Sementara itu, sejumlah pengelola SD mengakui pemberian praktik pelajaran seni dan budaya kurang berjalan optimal. Ini karena kemampuan guru berbeda-beda sehingga penerapan palajaran itu disesuaikan denga

Tentang Penulis