Ketimpangan gender dalam pendidikan di Banyumas

PURWOKERTO – Ketimpangan gender dalam dunia pendidikan belum mampu dihapuskan sepenuhnya. Di Banyumas tercatat rasio partisipasi perempuan dalam pendidikan masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan rasio partisipasi laki-laki. “Akses perempuan di wilayah Banyumas terhadap pendidikan baik itu SD, SMP, SMA masih sangat sedikit, ketimpangan begitu terlihat terlebih di sekolah kejuruan SMK” ungkap Dra.Khalimah M salah seorang pengamat gender yang juga staff pendidikan masyarakat Dinas Pendidikan Banyumas Sabtu (12/09).

Merurut Khalimah ketimpangan tersebut selain karena keadaan ekonomi juga karena konstruksi sosial di masyarakat yang masih memposisikan perempuan pada umumnya sebagai “kanca wingking” belum lagi kurikulum pendidikan pada buku ajar yang mendeskriditkan perempuan. Di tingkat SD, terdapat 73.720 murid perempuan sedangkan laki-laki ada sekitar 81.327, murid-murid tersebut tersebar di 824 SD se-kabupaten Banyumas.

Untuk tingkat SMP jumlah murid perempuan sebanyak 32.083 dan laki-laki sebanyak 32.331 orang murid yang tersebar di 143 SMP se-Kabupaten Banyumas. Sedangkan SMA terdapat 9287 murid perempuan dan 6528 murid laki-laki. Menurut Khalimah meskipun jumlah murid perempuan besar ditingkatan SMA namun tidak begitu di tingkat SMK, disparitas jumlah begitu menonjol dimana murid laki-laki begitu mendominasi yakni sebanyak 17.048 murid sedangkan murid perempuan hanya berjumlah 11.662 orang.

Triana Ahdiati, M.Si staff pengajar mata kuliah Gender dan Politik UNSOED Purwokerto, ketika dihubungi mengatakan ada beberapa hal yang mendasari ketimpangan gender diwilayah pendidikan diantaranya adalah ketika jenjang pendidikan semakin tinggi maka biaya semakin tinggi pula, pada sebagian besar masyarakat bila ada pihak laki-laki, maka laki-lakilah yang didahulukan dari pada perempuan.

Selain itu investasi pendidikan formal pada perempuan yang kurang dirasakan oleh orang tua, karena adanya anggapan pada nantinya perempuan setelah menikah akan mengikuti suami. “Nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat yang menyebabkan ketimpangan gender, bukan hanya diwilayah pendidikan tapi juga kesehatan, politik, dan lain sebagainya” ungkap Triana. (banyumasnews.com/cit)

4 Comments

  1. kpriwe pendidikan nang banyumas arep maju kalo kiye kenyataane… Pak Mardjoko kalo bisa jadikan pendidikan dasar kye 12 tahun, smape SMA kaya nang jembrana-Bali.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.