ITB dan KRCB Bandung ungkap misteri artefak Batu Klawing

Ditulis 10 Jul 2009 - 12:06 oleh Mr Banyumas

ITBSEJUMLAH dosen Fakultas Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) kembali melakukan penelitian artefak batu bersejarah di sepanjang Sungai Klawing. Tim yang terdiri 12 orang tersebut melakukan riset susulan, Jum’at (10/7) hingga Sabtu (11/7).
Tim akan terus mengungkap misteri temuan artefak batu prasejarah dan batu mulia jenis ‘Le Sang Du Christ’ yang ditemukan di sepanjang Sungai Klawing. Tim tersebut terdiri dari Dr Ir Budi Brahmantyo, M.Sc (Kepala Pusat pengembangan Pariwisata/P2PR ITB), Dr Ir A Tjipto Rahardjo (ahli fosil/dosen ITB), Dr Ir Johan Arif (ahli Prasejarah/dosen ITB), Drs T Bachtiar (dosen Uninus/penulis), Dr Ir RR Dhian Damajani (dosen Arsitektur ITB/desain grafis), Ir Iwan Darmasetiawan (ITB/praktisi arsitektur), Ir Andi S.S Mubandi Dipl, Eng (dosen Geologi Terapan ITB), Dr Ir Yunus Kusumahbrata (Kepala Museum Geologi Bandung/kurator), Ir Bandono MSc (dosen Geologi Terapan ITB), Mika Rizki Puspaningrum MT (Biologi ITB), Ir Ina Koswara MT (P2PAR ITB), dan Ir H Sujatmiko Dipl Ing (dosen tamu ITB dan dosen luar biasa Unsoed).
Sudjatmiko kepada wartawan, Jum’at (10/7), mengemukakan pihaknya bersama mahasiswa Geologi Unsoed beberapa waktu lalu menemukan temuan artefak batu prasejarah dan batumulia jenis Le Sang Du Christ’, dan batuan Panca Warna. Batuan ini merupakan batru mulia yang memiliki kualitas tinggi dan banyak diburu oleh penggemar batu.
Batuan Panca Warna, jelas Sujatmiko, pada bagian luar dari bongkah batu yang dipotret termasuk dalam jenis jasper hijau Klawing. Masuk sedikit ke dalam, tampak bercak-bercak seperti tetesan atau cipratan darah. Lebih ke dalam lagi, bercak-bercaknya menyatu bagaikan awan kumulus dengan corak memikat dan warna beragam antara lain coklat, kuning, merah, hijau, biru, dan putih.
“Batu Panca Warna ini memiliki keistimewaan pada kualitas polesnya yang bagaikan cermin. Ciri polesan ini merupakan ciri dari batumulia high quality ,” kata Sujatmiko.
Dikemukakan Sujatmiko, batu hijau Klawing tampak dilengkapi dengan hiasan mineral berwarna putih kehijauan yang memancar begitu indahnya bagaikan sinar mentari. Mineral yang memancar ini ternyata sangat reaktif dengan HCl sehingga susunan kimianya dari keluarga besar karbonat . Selain itu, jelas Sujatmiko, mineral ini tergores oleh mineral fluorit yang kekerasannya hanya empat skala Mohs.
“Meskipun berat jenisnya belum sempat diuji, namun kami sudah bisa memprediksi bahwa mineral berstruktur radial tersebut adalah mineral keluarga karbonat jenis Aragonite. Mineral Aragonite semacam ini pernah ditemukan oleh KRCB di Singajaya, Garut, dalam urat-urat jasper berwarna merah dan hijau,” kata Sujatmiko.
Dijelaskan Sujatmiko, hasil uji gemologi terhadap mineral berwarna hijau yang menyelimuti mineral radial Aragonite ternyata bukan jenis jasper hijau melainkan kalsedon hijau. Hal ini dibuktikan oleh sifat tembus cahayanya dimana potongan setebal 2 mm yang kemudian dibuat batu permata berbentuk kabocon ternyata tembus cahaya alias translusen.
“Batu mulia jenis jasper prinsipnya tidak tembus cahaya. Jika diuji dengan alat refraktometer, hasilnya sungguh menggembirakan karena nilai indek refraksinya sama dengan yang dimiliki Chrysoprase atau Krisopras yaitu sekitar 1,530-1,534. Dengan demikian maka nilai komersialnya tentu lebih tinggi dari sekedar jasper,” jelas Sujatmiko (banyumasnews.com/pyt)

Tentang Penulis

Leave A Response