Pesona stalagtit – stalagmit Goa Jatijajar

Ditulis 11 Sep 2009 - 17:09 oleh Banyumas1

ANDA warga Jateng?. Pernah berkunjung ke Goa Jatijajar?. Jika belum, kini saatnya Anda mencoba mengunjungi obyek wisata Goa Jatijajar yang berada di sisi paling Barat Kabupaten Kebumen. Atau tepatnya berada di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, sekitar 42 km arah Barat Daya pusat kota Kebumen.

Goa Jatijajar dengan stalagtit dan stalagmit yang unik (foto:tgr/BNC)

Goa Jatijajar dengan stalagtit dan stalagmit yang unik (foto:tgr/BNC)

Goa Dada Lawa salah satu pesona lainnya (foto:tgr/BNC)

Goa Dada Lawa salah satu pesona lainnya (foto:tgr/BNC)

Pintu masuk Gua Jatijajar (foto:tgr/BNC)

Pintu masuk Gua Jatijajar (foto:tgr/BNC)


Banyak potensi sejarah khususnya bidang geologi yang bisa dinikmati di tempat ini. Keistimewaan goa ini karena banyak terdapat stalagmit dan juga pilar atau tiang kapur, yaitu pertemuan antara stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya.


Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Goa Jatijajar merupakan Goa Kapur yang sudah tua sekali.


Batu-batuan yang ada di Goa Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Goa Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba dinosaurus sebagai simbol dari Objek Wisata Goa Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.


Goa Jatijajar ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut yang Bernama “Jayamenawi”. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.


Pada mulanya pintu-pintu Goa masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Goa yang sekarang untuk masuk. Karena dimuka pintu Goa ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka goa tersebut diberi nama Goa Jatijajar.


Pada tahun 1975 Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Goa Jatijajar yaitu Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Supeno Suryodiprojo.

Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Goa Jatijajar ditunjuk langsung oleh Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Goa Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar Seluas 5,5 hektar.

Setelah Goa Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Goa Jatijajar dibangun, di dalam Goa Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Goa Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.

Diorama yang di pasang dan dalam Goa Jatijajar ada delapan deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari “Raden KamandakaLutung Kasarung“. Adapun kaitannya dengan Goa Jatijajar ialah, dahulu kala Goa Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.

Perlu diketahui bahwa zaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat. Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan Deoramanya dipasang di dalam Goa Jatijajar.

Ada keistimewaan di obyek wisata Gua Jatijajar, yaitu terdapat sebuah patung dinosaurus sebagai simbol penting dari gua ini yang terletak di area depan lokasi Gua Jatijajar.

Pengunjung yang masuk ke dalam gua otomatis akan melewati mulut patung dinosaurus ini. Patung ini terlihat mengeluarkan air, sebagai muara dari mata air yang ada di dalam gua, yaitu dari Sendang (Sungai) Kantil dan Sendang Mawar. Air ini diyakini tidak akan habis, meski dalam kondisi cuaca kemarau sekalipun. Air ini digunakan oleh penduduk sekitar Gua Jatijajar sebagai pengairan sawah-sawah mereka.

Ketika menyusuri ruang gua lebih ke dalam lagi, pengunjung akan melihat ada banyak pemandangan yang begitu indah. Ruangan di dalam gua ini diterangi dengan banyak lampu, mulai dari arah masuk hingga ke luar, sehingga pengunjung tidak perlu risau dengan kondisi penerangan di sana. Di bagian langit-langit gua terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi gua. Di tengah-tengah ruangan terdapat kursi melingkar yang dapat digunakan sebagai tempat duduk pengunjung yang ingin istirahat, sambil melihat-lihat sekeliling ruangan dalam gua.

Pengunjung bisa melihat banyak ornamen stalagtit, stalagmit, dan tiang kapur (sebagai pertemuan antara stalagtit dan stalagmit). Di sana pengunjung juga dapat melihat delapan buah deodrama yang dipasang, ditambah adanya patung-patung yang berjumlah 32 buah. Patung-patung tersebut menceritakan kisah tentang Raden Kamandaka, yang kemudian dikenal dengan Legenda Lutung Kasarung. Konon, gua ini pernah menjadi tempat pertapaan Raden Kamandaka, putera mahkota Raja Pajajaran, untuk mendapat wangsit. Kenapa Raden Kamandaka sampai bertapa di daerah ini? Sebab ketika itu, Kebumen masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Padjajaran dengan pusat ibu kotanya Bogor (Batutulis), sekarang masuk wilayah Jawa Barat. Visualisasi dari legenda tersebut bisa dilihat dalam diodrama yang ada di dalam gua.

Pengunjung kemudian dapat melanjutkan perjalanan dengan cara menuruni tangga yang merupakan bagian dari ekor patung dinosaurus. Di ruang bawah terdapat beberapa sungai bawah tanah (sendang) yang masih aktif. Sungai-sungai itu merupakan salah satu keistimewaan Gua Jatijajar. Tercatat ada empat sendang (menurut sumber lain ada tujuh sendang, tapi data yang bisa diperoleh hanya ada empat saja), yaitu Sendang Mawar, Sendang Kantil, Sendang Jombor, dan Sendang Puser Bumi.

Aliran air di Sendang Mawar melewati lubang sempit yang menembus hingga ke luar gua. Demikian halnya dengan aliran air Sendang Kantil. Konon katanya, jika pengunjung bisa mendekati dan membasuh muka dengan air di Sendang Mawar, maka ia akan awet muda. Ada pula kepercayaan bahwa jika seseorang membasuh muka atau mandi dengan air Sedang Kantil, maka niat atau cita-citanya akan cepat terkabul. Sementara itu, oleh pihak pengelola obyek wisata Gua Jatijajar, Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi sengaja dikeramatkan. Jika ingin menelusuri lorong gua melalui dua sendang tersebut, pengunjung harus mendapat ijin yang sangat ketat dari pihak pengelola.

Setelah berpuas-puas berkeliling di dalam goa, begitu keluar pengunjung juga bisa menikmati berbagai souvenir dan jajanan khasnya. Boleh jadi, soevenir itu bisa sebagai tanda mata jika kita pernah berkunjung ke goa Jatijajar. (banyumasnews.com/C Tegar Brilianto)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. agus 24/09/2009 pukul 21:02 -

    yg bener buta makan gaji …. kebumen ayo bangkit tengok tetangga kanan kiri atau depan belakang

  2. aji 23/09/2009 pukul 21:13 -

    Mas Agus, orang Dipartanya lagi tidur kalee, makan gaji buta……..

  3. agus 23/09/2009 pukul 11:06 -

    kebumen selain dikenal sebagai tempat wisata pantai juga wisata geologi, saran buat dinas pariwisata, buatkan event event ditempat wisata secara rutine, agar warganya tidak wisata belanja terus ke mal mal, dan tingkatkan promosi agar lebih dikenal masyarakat luas utamanya yang diluar daerah

Leave A Response