Menilik madrasah gula kelapa Cilongok

Ditulis 11 Sep 2009 - 10:20 oleh Banyumas1
Sorang perajin Gula Kelapa tengah memasak nira (foto:ham/BNC)

Sorang perajin Gula Kelapa tengah memasak nira (foto:ham/BNC)

Mencetak Gula Kelapa (foto:ham/BNC)

Mencetak Gula Kelapa (foto:ham/BNC)

BAGI warga masyarakat yang ingin menjadi perawat kini banyak tersedia Akademi Keperawatan. Juga bagi masyarakat yang ingin mendalami ilmu agama juga telah banyak madrasah dan pesantren. Lantas bagaimana bagi para penderes gula yang ingin meningkatkan mutu produksi serta melimpahkan hasil nira setiap menderes? Bagaimana pula agar dapat melakukan kiat memasarkan produksinya dengan harga yang menggiurkan?

Khususnya bagi para penderes gula kelapa di wilayah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tentu sudah tahu jawaban kemana dia harus menimba ilmu terapan itu. Tak lain di pusat pengembangan gula kelapa dan Industri Kecil Menengah (IKM) center yang berada di bawah naungan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Kabupaten Banyumas. Alamatnya di jalan raya Pageraji Cilongok KM 1.

Menurut Kepala Dinperindagkop, Ir.H. Didi Rudwianto SH, MSi, salah satu fungsi dari pusat pengembangan gula kelapa yaitu sebagai madrasah gula kelapa dan krisis center bagi para penderes setempat.

“Madrasah pusat pengembangan gula kepala makasudnya, di madrasah itu ada hikmah dari kajian ilmu yang bermanfaat kaitannya dengan upaya peningkatan produksi dan kualitas hasil gula kelapa,” papar Didi saat memberikan sambutan menjelang peresmian pusat pengembangan gula kelapa dan Industri Kecil Menengah (IKM) center, Senin (07/09/09) siang.

Dijelaskan, secara rinci fungsi utama dari keberadaan tempat terrsebut sebagai pusat data dan informasi produk gula kelapa, sebagai pusat tataniaga dan informasi tataniaga gula kelapa, sebagai pusat pengembangan dan teknologi peningkatan mutu dan produk industri gula kelapa, sebagai pusat pelajaran sosial pengrajin gula kelapa, sebagai madrasah pusat pengembangan gula kelapa dan sebagai krisis center serta klinik gula kelapa.

Jika program itu bisa dijalankan, Didi optimis nantinya akan muncul inovasi baru dan peningkatan daya saing di antara para perajin gula. “Semua ini tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan para penderes gula kelapa,” tandas Didi.

Sebagaimana diharapkan Camat Cilongok Fatikul Iksan, peresmian pusat pengembangan gula kelapa oleh Bupati Banyumas Drs Mardjoko, semakin menambah kesejahteraan penderes khususnya dan bagi masyarakat Cilongok pada umumnya.

Dijelaskan Fatikul, potensi yang terkait dengan produksi gula di Kecamatan Cilongok sangat besar. Jumlah pohon kelapa ada 150 batang. Setiap pohon mampu menghasilkan gula rata-rata 3 ons perhari sehingga jumlahnya mencapai 50 ton. Harga gula kini berkisar antara Rp 6.600 – Rp 6.700/ Kg.

“Namun nasib penderes di Cilongok dari dulu sampai sekarang tetap susah,” kata Fatikul prihatin.

Menurutnya, kini upaya peningkatan perbaikan nasib para penderes mulai dijalankan pemerintah kabupaten melaui program yang dijalankan dinas terkait serta adanya bantuan sebagai bukti perhatian terhadap nasib penderes. Diyakini, dengan adanya kerjasama antara tiga pilar pembangunan yakni pemerintah daerah, pengusaha dan masyarakat penderes diharapkan dapat sukses mencapai tujuan. “Pemerintah sudah memberikan bantuan, juga adanya program PNPM sedangkan pengusaha sudah memberikan modalnya, kini tinggal bagaimana aksi masyarakat penderes, mau berubah atau tidak,” ujar Fatikul

Kedepannya, lanjut Fatikul di Cilongok tepatnya di dekat Koramil Pernasidi akan dibangun kios-kios atau outlet yang menyediakan jajanan dan hasil produksi gula kelapa dalam kemasan menarik. Nantinya akan ada kerjasama dengan Dinas Pariwisata agar setiap bus yang membawa turis mislanya dari Baturaden bisa mampir di Pernasidi untuk membeli gula kelapa buat oleh-oleh (banyumasnews.com/khamidin krazan)

Tentang Penulis

Leave A Response