Tangkapan ikan menurun, nelayan Kebumen paceklik

Nelayan Kebumen merasakan musim paceklik (foto:tgr/BNC)
Nelayan Kebumen merasakan musim paceklik (foto:tgr/BNC)
Nelayan mengangkut ikan (foto:tgr/BNC)
Nelayan mengangkut ikan (foto:tgr/BNC)

KEBUMEN – Hasil tangkapan ikan oleh para nelayan di laut Selatan belakangan mengalami penurunan. Dalam tiga bulan terakhir, hasil tangkapan menurun drastis. Praktis, nelayan Kebumen menyebutnya sebagai masa-masa paceklik. Kondisi ini sangat memukul nelayan, apalagi menjelang Lebaran.

Seorang nelayan Kebumen,Sugiono Senin (07/09) mengungkapkan, hasil tangkapan ikan rata-rata hanya berujud ikan tongkol yang harganya relatif murah. Bahkan kadang tidak sebanding dengan biaya melaut yang sebagian besar habis untuk membeli bahan bakar minyak. ”Ikan tongkol yang kami dapat, paling hanya dihargai Rp 6.000 – Rp 7.000. Harga ini jelas tidak sebanding dengan ongkos melaut yang kami keluarkan,” keluh Sugiono.

Akibat penghasilan yang tidak menentu membuat para nelayan didera tekanan ekonomi. Disatu sisi, para nelayan harus mencukupi kebutuhan hidup yang semakin mahal harganya, dan disisi lain, hasil tangkapan yang jauh menurun.

Wakil Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kebumen Sagimin mengatakan, ratusan anggotanya saat ini memang tengah mengalami musim paceklik yang berkepanjangan. Diperkirakan, musim paceklik ini akan berlangsung hingga akhir tahun ini. “Kemungkinan nelayan akan kembali bersemangat melaut sekitar bulan Desember,” kata Sugimin.

Sugimin mengakui, meski musim paceklik, masih ada nelayan yang sekedar melaut hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Para nelayan hanya melaut sampai batas garis pantai. Mungkin, para nelayan berpikiran dari pada tidak mendapat penghasilan sama sekali.

Akibat banyaknya nelayan yang tidak melaut membuat Tempat pelelangan Ikan kekurangan pasokan. “Belakangan ini pasokan ikan hanya paling tinggi 500 kg. Pasokan ini jauh dibawah pasokan pada hari-hari biasa yang mencapai 1.500 kilogram,” kata Sukarman, salah seorang petugas TPI Karangduwur, Kebumen. (banyumasnews.com/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.