Lapas Semarang raih rekor Muri

LEMBAGA Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Wanita Semarang, berhasil menyabet rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai LP yang mempunyai pentas seni dan wayang orang (WO) secara konsisten sejak tahun 2002.

General Manager Muri, Paulus Pangka di Semarang, Rabu mengatakan, dengan pencapaian rekor tersebut diharapkan para warga binaan di LP dapat terus berprestasi. Ia mengharapkan, para warga binaan LP menyadari dan tidak mengulangi kesalahan yang lalu, serta berkreasi lewat pentas seni dan WO tersebut. “Siapa tahu, mereka (warga binaan, red.) dapat mengembangkan kemampuan seninya dan menjadikannya sebagai mata pencaharian setelah keluar dari LP tersebut,” katanya.

Kepala LP Kelas II A Wanita Semarang, Endang Haryanti mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional Indonesia. Kegiatan tersebut, katanya, diharapkan dapat membantu membina mental dan kepribadian para warga binaan LP menjadi lebih baik. “Selain sebagai sarana hiburan bagi para warga binaan LP,” kata Endang.

Pelatih WO LP tersebut, Titin Redjeki mengatakan, pementasan kali ini menampilkan lakon “Srikandi Madek Senopati” yang berarti Srikandi menjadi Senopati. “Dalam lakon tersebut, Srikandi tampil sebagai sosok pahlawan wanita yang gagah berani dan berperang membela kebenaran, meskipun harus melawan kakek kandungnya, Bisma.” katanya.

Pada akhirnya, kata Titin, peperangan tersebut dimenangkan oleh Srikandi dan menghantarkan Srikandi menjadi Senopati. Ia mengatakan, alasan mementaskan lakon tersebut adalah untuk memberikan semangat bagi para wanita warga binaan LP. “Kami berharap para warga binaan yang semuanya wanita, dapat mencontoh sosok Srikandi,” kata Ketua Kelompok WO Wanita Budaya Semarang tersebut. “Semua pemeran pementasan tersebut adalah warga binaan LP ini, kecuali saya tentunya,” kata Titin yang juga Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Semarang Tengah tersebut.

Ia menjelaskan, kegiatan ini dapat melestarikan kebudayaan Jawa, khususnya WO lewat pementasan rutin di LP ini. “Kami selalu menyelenggarakan pementasan WO secara rutin dan pementasan ini adalah yang ketiga untuk tahun ini,” katanya.

“Saya sudah melatih di LP ini selama enam tahun, dan sampai saat ini terdapat sekitar 50 warga binaan yang tertarik dan bergabung,” katanya. Mengenai kesulitan melatih para warga binaan, ia mengakuinya, sebab mereka rata-rata berangkat dari nol dan belum tahu tentang seni, khususnya wayang orang. “Namun, semua itu tantangan dan saya menikmatinya,” kata Titin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.