Bulan puasa, berkah bagi perajin gula kelapa

Ditulis 06 Sep 2009 - 10:03 oleh Banyumas1

BULAN puasa ternyata membawa berkah juga bagi para perajin gula kelapa di Kabupaten Banyumas. Kini mereka menangguk keuntungan karena harga gula terus mengalamai kenaikan sejak bulan ramadhan.

Para perajin gula ini boleh tersenyum. Setelah harga sempat jatuh sebulan lalu, kini para perajin ini mulai merasakan hasil jerih payah mereka . Karena harga gula yang semula hanya 6000 rupiah , sejak awal bulan Ramadhan harga di tingkat perajin terus mengalami kenaikan hingga 7000 rupiah per kilogramnya.Harga ini diperkirakan akan terus naik mendekati lebaran nanti.

Sejumlah sentra perajin gula merah di Kecamatan Pekuncen menuturkan, pada musim kemarau produksi nira menurun. Dari 30 pohon kelapa yang disadap, hanya menghasilkan sepuluh kilogram gula. Meski begitu, musim kali ini kualitas gula mereka tergolong super, sehingga hargapun mengalami kenaikan.

Siham dan Rohana, seorang perajin gula kelapa di desa Kranggan Kecamatan Pekuncen menuturkan,meskipun setiap hari hanya menghasilkan sekitar 15 kliogram gula kelapa yang sudah jadi,namun karena harga mahal,sehingga mereka tetap mendapatkan keuntungan yang lumayan.

“Ya Alhamdulillah , selama bula puasa, kami bias merau rejeki cukup banyak. Karena harga naik. Banyak warga yang belu untuk kebutuhan membuat manisan manisan,” ujar Rohana, perajin gula kelapa di Desa Kranggan.

Baik Rohana maupun Siham, mengaku selama bulan ramadhan sering kewalahan karena permintaan terhadap gula merah ini mengalami peningkatan tajam. Permintaan terhadap gula merah ini selain dari warga sekitar, juga dari mereka para pengepul. Para pengepul ini bisa menjual bahan pemanis makanan tersebut ke pasaran hingga 8000 perkilogramnya.

Para penderes ini rata rata memanjat 30 hingga 4o pohon kelapa setiap hari. Dari jumlah pohon tersebut,mereka harus menaikinya sebanyak dua kali, yaitu pada saat memasang pongkor untuk menampung air nira dan saat mengambil hasilnya.

Setelah pongkor berisi penuh, kemudian dimasak dalam sebuah tungku besar. Setelah air nira ini mengental, kemudian dituangkan dalam sebuah cetakan yang terbuat dari bambu. dalam waktu sekitar tiga jam gula merah inipun sudah siap jual.

Gula merah produksi perajin desa Kranggan Pekuncen dikenal enak dan alami tanpa bahan campuran berhabaya. Tak heran jika banyak pedagang besar jakarta yang sengaja datang mengambil gula dari daerah ini (banyumasnews.com/ t mutiara nissa)

Setiap hari sebanyak dua kali penderes manaiki pohon (foto:tin/BNC)

Setiap hari sebanyak dua kali penderes manaiki pohon (foto:tin/BNC)

Pongkor, tempat nira yang terbuat dari bambu (foto:tin/BNC)

Pongkor, tempat nira yang terbuat dari bambu (foto:tin/BNC)

Perajin memasak nira di atas tungku terbuat dari tanah (foto:tin/BNC)

Perajin memasak nira di atas tungku terbuat dari tanah (foto:tin/BNC)

Mencetak gula dalam bumbung bamb (foto:tin/BNC)

Mencetak gula dalam bumbung bamb (foto:tin/BNC)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. adhi 03/08/2010 pukul 00:58 -

    bagaimana cara mengolah gula jawa agar nilai jualnya tinggi dan penderes dapat merasakan taraf kehidupan yang lebih layak, karena mayoritas penduduk di daerah tempat saya tinggal adalh penderes, dan sayangnya mereka masih dalam kelas ELIT(ekonomi sulit)

  2. Nandang 15/09/2009 pukul 20:57 -

    Dengan hormat,

    Saya membutuhkan produsen gula merah kelapa yang sanggup mensuplai kebutuhan 10 ton per minggu.

    Contact 081278211433

Leave A Response