Pejabat Pemprov curiga lonjakan jumlah rumah rusak di Cilacap

CILACAP – Lonjakan data jumlah rumah yang rusak akibat gempa di Cilacap  membuat sejumlah pejabat provinsi kaget. Setiap hari laporan Pemkab Cilacap menunjukan, rumah yang rusak terus mengalami peningkatan jumlahnya. Hingga Minggu (06/09) sudah mencapai 2 ribu lebih. Karena itu Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta Pemkab Cilacap membuat data yang akurat terkait dengan korban bencana gempa bumi yang melanda wilayah ini Rabu (2/9) lalu. Permintaan

Guernur Jateng saat mengunjungi lokasi gempa Cilacap (foto:n-1/BNC)
Guernur Jateng saat mengunjungi lokasi gempa Cilacap (foto:n-1/BNC)
Rumah yang ambruk rata dengan tanah (foto:tin/BNC)
Pasar yang ambrk dan rata dengan tanah (foto:tin/BNC)
Pasar yang ambrk dan rata dengan tanah (foto:tin/BNC)

ini disampaikan saat meninjau lokasi bencana di Desa Panulisan Barat, Dayeuhluhur pada Sabtu (5/9) kemarin.

Gubernur meminta, agar para camat dan kepala desa benar-benar ermat dalam menyajikan data. Hal harus dilakukan, supaya bantuan yang turun bisa tepat sasaran.

Pejabat lain yang terkejut dengan lonjakan itu adalah Sekda Jateng Hadi Prabowo. Saat meninjau lokasi bencana gempa di Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, Jumat (4/9) Hadi Prabowo mengaku kaget dengan perubahan jumlah korban yang berlangsung sangat cepat.

Pemprov Jateng akan berupaya semaksimal mungkin. Apabila ternyata mengalami kekurangan, maka pihaknya akan meminta bantuan ke pemerintah pusat.

Berdasar data yang disajikan oleh pemkab Cilacap, jumlah rumah rusak mengalami peningkatan yang sangat drastis. Diantaranya, data sebelumnya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap seperti yang d, jumlah rumah roboh hanya 98 buah, rusak berat sekitar 400 dan rumah rusak ringan sekitar 700. Namun pada Jum’at (4/9) malam kembali tersaji data dengan angka lonjakan yang fantastis. Yakni, jumlah rumah roboh di 16 kecamatan yang di guncang gempa menjadi sebanyak 445 buah, yang rusak berat sebanyak 801, dan rusak ringan menjadi 1.446 buah. Begitu pula dengan fasilitas umum yang mengalami kerusakan semakin bertambah, baik balai desa, sekolah, pasar desa dan mushola (banyumasnews.com/tin)