Waspadai daging glonggongan dan ayam tiren

WISATA PURBALINGGA
Ditulis 04 Sep 2009 - 21:42 oleh Banyumas1
Petugas memeriksa daging yang dikhawatirkan glonggongan (foto:pyt/BNC)

Petugas memeriksa daging yang dikhawatirkan glonggongan (foto:pyt/BNC)

Daging ayam sedang diperiksa petugas (foto:pyt/BNC)

Daging ayam sedang diperiksa petugas (foto:pyt/BNC)

PURBALINGGA – Mendekati lebaran, masyarakat harus mewaspadai peredaran daging bermasalah di pasaran. Pada H-3, potensi beredarnya daging tidak sehat itu meningkat, seiring semakin meningkatnya permintaan daging.

“Daging bermasalah itu meliputi daging sapi glonggongan, daging ayam yang disuntik agar bobotnya naik. Termasuk peredaran daging celeng (babi hutan) yang bisa saja nyelip di pasaran,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Purbalingga, Ir Hartono, MM Jum’at (4/9) usai melakukan pemantauan daging di Pasar Segamas dan sekitarnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya daging bermasalah itu, petugas Disnakkan secara rutin melakukan pengecekan setiap hari. Disamping pemantauan ke beberapa pasar atau penjual daging dalam jumlah besar.

Hartono menjamin, daging dari rumah pemotongan hewan di Purbalingga aman karena sudah melalui pemeriksaan dari petugas Disnakan setiap hari. Tapi terhadap daging dari luar Purbalingga masih harus dilakukan pemantauan berkelanjutan.

Hartono menjelaskan, beberapa ciri daging yang bermasalah. Diantaranya bila diperiksa dengan PH meter (power of Hydrogen) mencapai lebih dari 7 kadar keasamannya. Selain itu dilihat dengan mata telanjang, daging yang diawetkan dengan formalin tidak disukai lalat.

“Konsumen sebenarnya bisa saja curiga dan waspada jika menemukan daging yang dijual tidak ada lalat yang mendekat. Karena lalat sangat peka terhadap formalin dan tidak mau mendekat. Sedangkan daging ayam yang disuntik atau direndam air es akan cepat membusuk,” tutur Hartono.

Hartono menambahkan, khusus untuk ayam tiren (mati kemaren), konsumen bisa mengetahui ciri-cirinya dengan melihat langsung kondisi daging ayam tersebut. Yakni bila ayam utuh pada leher masih terdapat sisa darah yang berbeda dengan yang normal. Bila mendapatkan daging seperti itu diminta  tidak membelinya.

Mengenai permintaan daging menjelang lebaran, sampai awal September ini masih belum terlalu signifikan kenaikannya. Bahkan di rumah pemotongan hewan (sapi) dari target 10 ekor, paling banyak hanya 5 ekor setiap hari. “Kemungkinan pada pertengahan puasa ini kenaikan permintaan dan harga akan signifikan,” ujar Hartono.

Diperkirakan kebutuhan daging selama puasa hingga H-2 dan H+5 lebaran di  Purbalingga mencapai 1.096.202 kilogram daging. Dengan rincian 289 ekor sapi menghasilkan 57.800 kilogram daging, 254 ekor kambing (2.540 kilogram daging), unggas 272.106 ekor menghasilkan daging 358.159 kilogram daging.

“Pada kurun waktu yang sama masyarakat juga diperkirakan membutuhkan telur sedikitnya 898.970 kilogram. Pengaruh yang cukup signifikan karena meningkatnya jumlah rumahtangga dengan kebutuhan yang sama,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang pedagang daging ayam, Darisah (55) menyebutkan, sejak tiga hari menjelang lebaran, biasanya muncul penjual ayam dengan bobot tak wajar. Ayam itu kelihatannya disuntik atau direndam dalam air es agar bobot meningkat sehingga harganya lebih  tinggi.

“Saya sendiri tidak berbuat semacam itu. Hanya saja pedagang lain pada tahun sebelumnya pernah ketahuan menjual daging tak sewajarnya itu,” ujarnya. (banyumasnews.com/pyt)

Tentang Penulis

Leave A Response