Kehidupan Pra dan Pasca kematian

Ditulis 02 Sep 2009 - 23:16 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
289
Dalam Tag
Muhammad Murdino

Muhammad Murdino

Oleh: Mukhamad Murdiono *)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Kutipan Al-Qur’an Surat Al-Hasyr (Pengusiran) ayat 18 menyiratkan makna bahwa setiap manusia hendaklah memperhatikan segala sesuatu yang telah diperbuatnya untuk kepentingan hari esok. Hari esok dalam konteks ini dapat dimaknai menjadi 2 hal, yaitu:
1.Hari esok pra kematian (kehidupan duniawi)
2.Hari esok pasca kematian (kehidupan akhirat)

Hari Esok Pra Kematian

Hari esok pra kematian sifatnya yang sangat jelas adalah ”serba penuh dengan kemungkinan”. Sesuatu yang ada di dunia ini adalah sesuatu yang sifatnya mungkin. Sebagian orang mengatakan bahwa kesuksesan masa depan seseorang adalah manakala ia berlimpah harta benda; mobil banyak, tanah luas, istri cantik, anak pintar dan cerdas, dan lain-lain. Sebagian orang melihat bahwa indikator orang yang sukses adalah mereka yang berlimpah harta atau kekayaan.

Anggapan semacam ini merupakan anggapan yang sengaja dikelirukan oleh peradaban barat yang materialistik. Melalui informasi yang kita terima melalui mata dan telinga, kemudian menganggap bahwa semuanya serba mungkin dengan materi. Padahal orang yang kaya dari segi materi belum tentu merupakan orang yang sukses menggapai masa depan dunia. Banyak orang-orang yang tidak betah tinggal di istana, dan sebaliknya orang-orang menjadi sukses dan memiliki karya besar setelah ia berpindah-pindah dari penjara. Buya HAMKA dalam penjara telah menyelesaikan tafsir Al-Qur’an. Dan banyak tokoh yang hidup dari penjara ke penjara tapi menemui sukes di akhir kehidupannya di dunia. Dan sebaliknya banyak orang-orang yang hina dan nista setelah ia tinggal dari istana.

Terkadang kita terlena dengan dunia, kemudian kita sibuk menumpuk tidak sempat memanfaatkan, kita sibuk membuat rumah tapi tidak sempat di rumah, kita sibuk bekerja tapi tidak sempat mensyukurinya. Djarum Super 9P: jarang dirumah suka bepergian Pergi Pagi Pulang Petang Pinggang Pegel Pengahsilan Pas Pasan. Semua tujuannya adalah menumpuk-numpuk materi sementara tidak memanfaatkan dan mensyukuri apa yang telah didapatkan.

Bukankah Allah secara jelas telah merumuskan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 : ”sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatku) maka sesungguhnya azabku sangat pedih”.

Kita buat rumah-rumah mewah dengan segala perabotnya yang maha. Kita isi dengan berbagai fasilitas modern yang berharga jutaan rupiah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sudahkah kita bekerja keras dan berusaha untuk membuat rumah sebenarnya yang akan kita tempati untuk selama-lamanya? Bukankah rumah dan segala kemewahan yang ada di dalamnya semua itu akan kita tinggalkan? Di dunia ini kita hanya ‘numpang nginep’ saja, kalaupun setelah mati kita akan menempati rumah yang telah kita buat, saya yakin paling lama hanya satu malam saja, dan itupun karena terpaksa misalnya hari sudah larut malan sehingga tidak mungkin untuk dikubur langsung atau menunggu sanak saudara yang masih dalam perjalanan menuju rumah untuk melihat jenazah yang terakhir kalinya.

Sifat masa depan pra kematian yang penuh dengan kemungkinan dapat dilihat misalnya: belajar dengan tekun tiap hari belum tentu ia menjadi juara kelas di akhir semester? Petani rajin menanam palawija atau padi di sawah belum tentu sampai panen akan selamat? Bekerja siang malam banting tulang untuk istri atau suami atau anak belum tentu istrinya atau suaminya setia dan belum tentu anaknya itu menjadi anak yang soleh, bisa jadi istri atau suaminya selingkuh, bisa jadi anaknya akan mempermalukan kedua orang tuanya karena sikap dan kelakuannya? Belum tentu yang punya wajah cantik atau tampan akan kawin lebih dulu dari yang kurang cantik atau kurang tampan? Belum tentu yang punya pacar cantik atau ganteng akan jadi istri atau suaminya? Karena untuk mencari pasangan sejati tidak harus melalui pacaran? Belum tentu setelah kawin ia akan punya anak? Belum tentu yang sekarang menabung untuk hari tua ia akan menikmati hasil tabungannya, bisa jadi sebelum tua dia sudah meninggal? Belum tentu yang sekolah tinggi sampai sarjana akan mudah mencari pekerjaan? Apalagi yang tidak sekolah? Belum tentu yang sekarang jadi pejabat tahun depan akan jadi pejabat lagi? Belum tentu yang sekarang merantau bekerja di perusahaan dapat uang melimpah tahun depan perusahaan akan tetap memakainya?

Itulah masa depan pra kematian, penuh dengan kemungkinan. Karena itulah persiapkanlah untuk mencari masa depan pasca kematian yang semuanya penuh dengan kepastian. Buatlah rumah yang akan kita tempati untuk selamanya. Minimal kita sudah mulai mencicil membuat pondasi kalau memang untuk mendirikan rumah itu belum bisa kita lakukan. Atau kalau membuat pondasi belum mampu kita lakukan. Minimal kita sudah punya kapling dan mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun rumah kita yang sebenarnya.

Masa Depan Pasca Kematian

Kematian adalah batas terhentinya masa depan pra kematian dan mulainya masa depan setelah kematian. Kita lahir kemudian hidup di alam dunia berusaha keras untuk mencapai masa depan dunia, mencari bekal untuk menggapai masa depan pasca kematian. Masa depan pasca kematian ketentuannya jelas, yang berbuat baik balasannya adalah syurga dan yang berbuat kejahatan balasannya adalah neraka.

Rumah yang sebenarnya akan kita tempati untuk selama-lamanya adalah rumah pasca kematian. Rumah-rumah pasca kematian ini bisa kita bangun ketika kita masih hidup di dunia. Pondasi yang kita bangun adalah melalui aqidah yang kuat, kemudian dinding dan penopangya atau tiangnya kita buat dengan ibadah tanpa melakukan bid’ah, kemudian kita atapi rumah tersebut dengan akhlakul karimah, berbuat baik kepada setiap manusia dan lingkungannya.

Dalam membangun rumah atau kapling pasca kematian tidak boleh mennggalkan kehidupan duniwai, secara tegas Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Qhashas ayat 77 sebagai berikut:
”dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Ayat tersebut secara tegas menyiratkan makna bahwa ketekunan kita dalam beribadah, keikhlasan kita dalam beramal, segala perilaku dan akhlakul karimah yang kita kerjakan untuk bekal masa depan pasca kematian tidak boleh meninggalkan kesuksesan masa depan pra kematian. Tidaklah benar kalau kemudian kita berusaha untuk mencapai kesuksesan masa depan pasca kematian kemudian kita setiap hari berada di masjid, beribadah terus menerus, tanpa pernah bekerja keras.

Dalam menggapai kesuksesan pasca kematian kita tetap bekerja keras untuk masa depan pra kematian. Kita harus rajin mencangkul agar bisa panen di kebun ataupun di sawah. Kita harus rajin menggeluti pekerjaan kita sehari-hari, tapi jangan sampai meninggalkan ibadah. Rumus yang perlu diperhatikan dalam mengejar urusan duniwai dan ukhrowi adalah:
”bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu sekan-akan engkau akan mati besaok pagi”

Kita tetap mencari dan mengharapkan bayaran atas apa yang kita kerjakan, tetapi kita juga perlu mengingat untuk selalu mencari ganjaran. Ganjaran dan bayaran harus dicari selaras, serasi dan seimbang. Jelas kiranya apa yang pernah disampaikan secara bijak oleh para pendahulu kita; bapak-bapak kita, simbah-simbah kita, eyang-eyang kita bahwa: ”kalau orang menanam padi pasti akan tumbuh rumput, tetapi kalau menanam rumput tidak mesti dan tidak mungkin akan tumbuh padii”. Petuah bijak ini kiranya penting untuk kita kaji bersama. Petani yang menanam padi sudah bisa dipastikan rumput akan tumbuh disekitarnya, begitu sebaliknya petani yang menanam rumput tidak pernah terjadi akan panen padi. Bahkan bisa terjadi sebelum rumput tumbuh menjadi besar sudah mati atau di makan hewan piaraan seperti sapi, kerbau, ataupun domba.

Petuah bijak dari para pendahulu kita, para petani bisa diterapkan filosofinya dalam menggapai masa depan pra dan pasca kematian. Menurut pengamatan saya jarang atau tidak pernah dijumpai orang yang begitu giat mengerjakan ibadah atau secara ketauhidan dia cukup kuat, kemudian akhlaknya mahmudah dan bekerja keras sesuai dengan pekerjaannya kemudian hidupnya tidak bahagia, hampir dipastikan mereka sudah merasakan masa depan dunianya tercapai. Kalau memang ukuran keberhasilan itu bukan dari ukuran materi.

Dan sebaliknya banyak orang yang bekerja siang malam banting tulang seharian, tapi tidak pernah melakukan ibadah sesuai yang diajarkan oleh tuntunan agama akhlaknya madzmumah, tidak sedikit yang kehidupannya kemudian tidak bahagia. Usahanya bangkrut, anak-anaknya nakal atau kurang memiliki akhlak yang baik, rumah tangganya sering terjadi pertengkaran dan lain sebagainya. Dengan kata lain orang-orang yang bekerja dengan giat untuk kehidupan duniawi tanpa meninggalkan urusan ibadah bisa dipastikan kedua-duanya akan didapatkan, baik kebahagiaan pra kematian dan pasca kematian.

Karena itu saya mengingatkan pada diri saya sendiri dan orang lain, marilah kita senantiasa bekerja keras tanpa lelah untuk kepentingan duniawi tapi jangan lupa meninggalkan kepentingan ukhrowi. Apabila mendengar azdan mari kita tanggalkan pekerjaan kita,  apapun profesi atau pekerjaan kita.

Surat Al-Ahqaaf ayat 15: ”kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

Sebagai akhir dari uraian ini, marilah kita meninggalkan dunia ini dengan penuh prestasi dan prasasti. Prestasi dapat ditunjukkan dengan keberhasilan kita menggapai masa depan pra kematian dengan ditunjukkan misalnya secara materi dengan ditunjukkan sudah memiliki rumah sebagai hasil kerja keras kita, punya anak-anak yang sholih dan sholihah, punya pekerjaan yang tetap ataupun indikator-indikator lain yang menunjukkan keberhasilan secara materi. Atau dalam fiolsofi jawa sandang, papan, dan pangan sudah tercukupi. Keberhasilan duniawi mungkin bisa dilihat dari indikator-indikator tersebut. Kemudian prasasti yang kita tinggalkan sebagai indikator yang menunjukkan keberhasilan pasca kematian adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang dapat mendoakan kedua orang tuanya. Inilah prasasti yang harus kita tinggalkan yang dapat ditiru oleh anak cucu kita. Ketiga amal tersebut akan tetap terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia, dan itulah sebenarnya sedikit bekal yang bisa kita bawa untuk menggapai keberhasilan pasca kematian.

Suryodiningratan, Ambang Pagi 8 Ramadhan.
*)Mukhamad Murdiono, lahir di Galuhtimur Tonjong Bumiayu, kini Dosen Jurusan PKn Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Tentang Penulis

Leave A Response