Wisata ziarah Petilasan Ardi Lawet Purbalingga

Ditulis 01 Sep 2009 - 22:30 oleh Banyumas1

LAYAKNYA makam-makam Wali Songo yang tersebar di Jawa, petilasan atau makam Syech Jambukarang, di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, juga layak menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga.

Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan. Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga Banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini.

Untuk mencapai lokasi petilasan Ardi Lawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu ekitar 30-45 menit. Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah  pick up ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar  4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardilawet.

Konon petilasan Ardi Lawet merupakan makam Syech Jambukarang. Syech Jambukarang ini merupakan putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Trademan, Raja Pajajaran. Semasa kecil ia bernama  Adipati Mendang (R Mundingwangi). Sebenarnya, ia berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan orang tuanya. Namun, Jambukarang lebih memilih menjadi pendeta. Tahta kerajaan diberikan kepada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun 1190.

Saat bertapa di Jambu Dipa atau Gunung Karang, Banten, ia melihat ada tiga cahaya dari arah timur yang menjulang tinggi ke angkasa. Melihat hal itu, Jambukarang bersama para pengikutnya menuju cahaya terebut hingga sampailah di perbukitan Ardilawet itu dan mendirikan pertapaan disana.

Secara bersamaan, Syech Atas Angin dari Negara Arab dan telah berkelana menyebarkan Islam di purbalingga juga melihat adanya cahaya yang sama dari arah timur. Cahaya itu terlihat jelas  sesaat setelah ia  melaksanakan sholat Shubuh. singkat cerita Syeh Atas Angin juga menuju ke perbukitan Ardilawet. Disana, ia berjumpa dengan Jambukarang yang edang bertapa. Uluk salam disampaikan oleh Syech Atas Angin kepada Jambukarang. Namun, Jambukarang tak menyahutnya.

Tak lama kemudian, Jambukarang terlibat perdebatan dengan Syech Atas Angin. Mereka juga terlibat adu kesaktian. Namun, Syech Atas Angin memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga Jambukarang tunduk dan memeluk Islam. Saat itu, Jambukarang mencukur rambut dan kukunya dan dikuburkan di Ardilawet itu.

Selain mengangkat Syech Atas Angin menjadi gurunya, Pangeran Wali Syech Jambukarang juga menikahkan putrinya yang bernama Rubiah Bekti menjadi istri Syech Atas Angin. Setelah memeluk Islam, Syech Jambukarang aktif menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Purbalingga.

Perkawinan antara Syech Atas Angin dan Rubiah Bekti menurunkan lima orang anak masing-masing Machdum Kusen, Machdum Medem, Machdum Umar, Nyi Rubiah Raja dan Nyi Rubiyah Sekar. Putra perttama, Machdum khusen menurunkan tiga ptra yaitu Machdum Jamil, Lebe Tuleng dan Lebe Shultoni.

Machdum Jamil ini menurunkan empat putra yaitu Machdum Tores, Lebe Kudra, Lebe Majapan dan Pangeran Wali Prakosa. Pangeran Wali Prakosa inilah yang ikut serta mendirikan tiang Masjid Demak bersama Walisongo. Setelah wafat, Wali Prakosa ini dimakamkan di Desa Pekiringan Kecamatan Karangmoncol. (banyumasnews.com/Prayitno)

Pintu Gerbang wisata ziarah Petilasan Ardi Lawet (foto:pyt/BNC)

Pintu Gerbang wisata ziarah Petilasan Ardi Lawet (foto:pyt/BNC)


Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Imam 10/06/2013 pukul 09:56 -

    Kenapa didalam sejarah/cerita itu tidak ada yg bisa menjelaskan tentang “tiga cahaya dari arah timur yang menjulang ke angkasa.” tentang siapa beliau, padahal banyak Para wali yg mencari sumber cahaya itu.
    Beliau adalah wali tertua se Asia tenggara yg sewaktu dg syeh Abdul kodir al jaelani (wali kutub) py syiar mengumandangkan kalimat tauhid sempurna ” LAILAHAILALLAH MUHAMADDAROSULULLAH.”
    (maap jk ada kalimat yg tdk tepat)

  2. kusro 21/02/2013 pukul 00:30 -

    Atas nama warga Panusupan Ardilawet saya sangat berterima kasih kepada Saudara – Saudari yang telah berkenan merespon wilayah kami…tentunya mohon segala perhatian untuk langkah kami selanjutnya.. silahkan ngobrol aca di ruang cat kami. http://ardilawet.kusro.com silahkan pilih jenis Chat-nya
    Wassalam
    kus

  3. yuliana 16/12/2012 pukul 15:39 -

    subhanallah…
    saya pernah kesana bersama 5 sahabat2 saya,,
    berangkat sekitar pukul 2 siang,dalam cuaca gerimis,dan waktu perjalananpun hujan barat,kemi sempat ketakutan ,untung diantara kami berenam ada 1anak laki2 yang sedikit memberi ketenangan..
    sungguh pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan…
    penuh semangat,lelah memang,tapi setelah sampai disana(maghrib) tangis haru mewarnai kami….

  4. adhe 14/07/2012 pukul 10:12 -

    semoga semakin maju desa penusupannya dan desa2 disekitar. Tapi jgn sampe menghilangkan kesederhanaan dan kebersahajaannya…salam kompak untuk keluarga di penusupan dan serang juga karang gedang…salam juga buat lik warto dan istrinya yg jd lurah skrg….seeplah

  5. fitri listiana 20/02/2012 pukul 12:33 -

    pemandangan alam yang sangat indah dari ketinggian membuat suasana hati menjadi tenang…..
    kesejukan alami dari hembusan angin membawa kedamaian,saya bangga menjadi anak gunung lawet…………hehe

  6. mizto 16/10/2010 pukul 15:55 -

    aku sangat setuju bila mana Ardi Lawet selain untuk wisata Ziarah dan Sejarah, juga bisa untuk wisata alam, karena alamnya yang memang sangat indah.
    saya sangat bangga sebagi orang ardilawet

  7. Kayupuring 08/07/2010 pukul 14:04 -

    Usahakan supaya wisata ziarah ini terus berkembang. Sebenarnya yang tepat adalah wisata SEJARAH, karena ada keterangan bahwa penyebaran agama Islam yang pertama-tama di Pulau Jawa dimulai dari Ardi Lawet. Akan lebih menarik lagi jika daerah Ardi Lawet selain untuk wisata Ziarah dan Sejarah, juga bisa untuk wisata alam, karena alamnya yang memang sangat indah.

  8. OKTOFIANA 11/10/2009 pukul 02:04 -

    Luar biasa …………… belum lengkap petualangan Ziarah Anda kalo belum mencicipi jalan kaki 3 Km, menuju gerbang Makamnya Syech Jambu Karang. Saya ingin datang kesana lagi, karena biar melelahkan jalan kaki tapi banyak keunikan dan keasikan menuju tempat karomahnya.

Leave A Response