Salah antibiotika membuat anak sering sakit

Ditulis 22 Mar 2010 - 08:17 oleh Sista BNC

Masalahnya, antibiotik bisa menimbulkan resistensi kuman dan mengurangi imunitas.

“Dok, saya bingung, bayi saya ini, kok, sering sekali bolak-balik berobat karena penyakit yang sama, flu dan flu dan flu,” kata seorang ayah di ruang praktik dokter spesialis anak, yang segera dilanjutkan oleh istrinya, “Iya, Dok. Padahal bayi saya ini sudah diperlakukan sesuai dengan apa yang dokter sarankan, diberi ASI eksklusif, saya makannya sudah 4 sehat 5 sempurna yang dimasak matang, kebersihan kamar dan rumah oke, begitu juga dengan ventilasi udara dan cahaya, sudah sesuai standar kesehatan internasional, deh.”

Sebelum si dokter sempat menjawab, si ibu kembali berkata, “Oh, ya, Dok, di rumah saya tidak ada perokok, pendingin udara di kamar dipatok pada suhu 25 derajat celcius, setiap pagi AC dimatikan dan membuka jendela lebar-lebar. Juga tak hanya antibiotik, semua obat yang diberikan dokter selalu dihabiskan seperti apa kata dokter.”

Sambil menulis resep, si dokter menanggapi, “Bu-Pak, kita semua ini manusia yang masih sedikit sekali ilmunya. Jadi pertahankan apa yang telah disebutkan Bapak dan Ibu tadi. Sekarang kita coba dulu dengan obat yang ini, mudah-mudahan berhasil.”

“Basi!” Mungkin pernyataan ini yang akan keluar dari mulut si bapak dan ibu tadi. Mungkin juga kita akan mengucapkan hal yang sama, jika hal itu-itu saja yang dikemukakan dokter setiap kali kita mempertanyakan kenapa si kecil harus sakit saban minggu.

GARA-GARA ANTIBIOTIK

Menurut Prof. Iwan Darmansjah, MD, SpFK., bayi seharusnya ditakuti oleh penyakit alias jarang sakit. Mengapa? “Karena bayi masih dibentengi imunitas tinggi yang dibawanya dari dalam kandungan, juga diperoleh dari air susu ibunya. Jadi, penyakit sehari-hari seperti flu yang ditandai panas, batuk, pilek-, penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman, seharusnya dapat ditolak bayi dengan baik,” papar senior konsultan Pusat Uji Klinik Obat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PUKO FKUI) ini.

Karenanya, jika bayi hampir saban minggu atau sebulan bisa dua kali bahkan lebih berobat ke dokter, lanjut Iwan, “Tentu akan timbul pertanyaan besar. Apakah ada yang salah dari lingkungan, apakah ada yang salah pada tubuh si bayi, ataukah dokter yang salah mendiagnosa.”

Iwan berpendapat, jika bayi berobat ke dokter karena flu hanya sesekali dalam kurun waktu 6-12 bulan, masih terbilang wajar. Tetapi kalau sudah setiap 2-3 minggu sekali harus pergi berobat ke dokter, maka tak bisa dikatakan wajar lagi.

“Kondisi ini bisa terjadi jika tak ada faktor penyulit serta sudah menghindari faktor pencetusnya-, kemungkinan besar karena si bayi selalu mengonsumsi antibiotik yang diresepkan dokter setiap dia sakit,” ungkapnya.

Padahal, tidak semua penyakit yang dialami bayi, apalagi flu, harus diobati dengan antibiotik. Sekalipun antibiotiknya itu dalam dosis, takaran, atau ukuran yang sudah disesuaikan dengan usia, berat dan tinggi badan si bayi.

FATAL AKIBATNYA

Penting diketahui, antibiotik baru ampuh dan berkhasiat jika berhadapan dengan bakteri atau kuman. Antibiotik tak akan mampu membunuh virus juga parasit. “Nah, kejadian demam karena flu itu, kan, sekitar 90%, bahkan 95% disebabkan oleh virus. Jadi, salah kaprah sekali jika bayi flu harus minum antibiotik karena tak akan menyelesaikan masalah, apalagi menyembuhkan penyakit si bayi,” bilang Iwan.

Kesalahkaprahan pemberian antibiotik ini akan ditebus mahal oleh bayi, yakni menurunkan imunitas tubuh si bayi. Makanya tak heran jika bayi yang setiap sakit demam selalu minum antibiotik, tidak akan lebih dari satu bulan pasti sakit kembali.

Lebih jauh lagi, antibiotik tak memperlihatkan efektivitasnya langsung terhadap tubuh manusia seperti obat lain, tetapi melalui kemampuannya untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman. Nah, kalau tidak ada kuman jahat untuk dibunuh ia justru membunuh kuman yang baik, dan ini merupakan efek sampingnya.

Selain itu antibiotik bisa menimbulkan resistensi kuman dan mengurangi imunitas anak terhadap virus dan kuman.

Meski resistensi kuman merupakan fenomena yang logis alamiah, tapi menurut Iwan, pemakaian antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional bisa mempercepat resistensi kuman pada tubuh pasien.  Reaksi lain yang bisa dilihat karena pemberian antibiotik adalah timbul demam, reaksi alergi, syok, hingga yang terparah yaitu kematian, karena si bayi tak tahan terhadap antibiotik yang dikonsumsinya.

“Jangankan bayi, orang dewasa saja bisa meninggal jika dia tidak tahan antibiotik yang diminumnya,” tambah Iwan.

PENGGUNAANNYA HARUS TEPAT

Lain ceritanya, lanjut Iwan, jika bayi terkena penyakit yang disebabkan kuman atau bakteri. Sekalipun tidak wajib, bayi boleh saja menjalani terapi antibiotik untuk kesembuhannya.

“Tentu harus dengan antibiotik yang sesuai untuk penyakit yang dideritanya.” Jadi, antibiotik yang diberikan harus tepat dengan jenis mikroorganisme penyebab penyakit.  Kalau tidak, maka penyakit tak akan sembuh.  Sebagai contoh, seperti dipaparkan Iwan, untuk mengobati bisul bisa digunakan Dicloxacillin, Flucloxacillin atau Eritromisin, Spiramisin, Roxithromisin, dan sejenisnya. Untuk mengobati radang paru-paru dapat digunakan antibiotik Penicillin G (injection) dan seturunan Eritromisin di atas.

“Tetapi bayi dan anak tak boleh mengonsumsi antibiotik Moxifloxacin untuk mengobati radang paru-parunya, kecuali orang dewasa.”

Sedangkan untuk mengobati tifus bisa menggunakan Kloramfenicol atau Ciprofloxacin. Khusus untuk bayi dan anak, jika tak tahan Kloramfenicol, maka dapat diberikan Ciprofloxacin.  Selain itu, pemberian antibiotik juga harus tepat dosisnya, tak boleh lebih ataupun kurang. Untuk ukuran dosis, tiap bayi berbeda-beda, tergantung seberapa parah penyakitnya, riwayat kesehatannya, hingga berat dan panjang badan si bayi.

Terakhir, harus tepat pula kapan antibiotik itu diminumkanpada si bayi, berapa jam sekali, biasanya sebelum makan, dan boleh dicampur obat lain atau tidak.

Yang perlu diperhatikan, penggunaan antibiotik tak melulu dengan cara diminum (per oral), tetapi ada pula yang lewat jalur injeksi.  Karena itu, jangan sekali-kali memberi antibiotik sendiri tanpa sepengetahuan dan resep dari dokter.

“Ingat itu berbahaya dan percuma, karena hanya dokter yang tahu antibiotik A adalah untuk mengobati kuman yang peka terhadap A,” tandas Iwan.

Hal penting lainnya, antibiotik harus dikonsumsi hingga habis supaya mikroorganisme yang menjadi sasaran antibiotik dapat dimusnahkan secara tuntas. Bila tak dihabiskan, kemungkinannya mikroorganisme tersebut akan menjadi kebal terhadap pemberian antibiotik sehingga penyakit tidak sembuh tuntas.

MENGGANGGU FUNGSI GINJAL

Penggunaan antibiotik yang tak perlu, ujar Dr. rer. nat. Budiawan dari Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan (PUSKA RKL) Universitas Indonesia, bisa menyebabkan timbulnya kekebalan mikroorganisme terhadap antibiotik yang diberikan tersebut. Sehingga, jika timbul penyakit akibat mikroorganisme yang sudah kebal tersebut, pemberian antibiotik biasa tak akan mampu menyembuhkan penyakit tersebut sehingga harus dicari antibiotik yang lebih ampuh.

Selain itu, mengonsumsi antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh bakteri yang justru diperlukan tubuh, dan bisa terjadi gangguan sistem biokimia dalam tubuh.

Efek lainya, bisa mengganggu sistem ekskresi tubuh, “Dalam hal ini gangguan terhadap fungsi ginjal, mengingat bahan aktif utama senyawa antibiotik tertentu bersifat nefrotoksik atau racun bagi fungsi sistem ginjal.”

KENAPA DOKTER “MENGOBRAL” ANTIBIOTIK?

Sekalipun dampaknya sudah jelas merugikan pasien, namun tetap saja masih banyak dokter meresepkan antibiotik padahal jelas-jelas penyakit yang diderita si bayi bukan lantaran kuman. Menurut Iwan, hal ini dikarenakan perasaan tidak secure seorang dokter dalam mengobati pasiennya.

Walau begitu, Iwan tetap tak setuju. “Kalau boleh terus terang, hingga sekarang saya juga bingung dan tak bisa mengerti, kenapa banyak sekali dokter yang berbuat sebodoh itu, pada anak-anak lagi,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bohong besar, tambah Iwan, jika dokter mengatakan kepada pasienya, penyakit flu atau pilek yang dideritanya akan bertambah parah jika tak diobati dengan antibiotik. Karena itu, sebagai pasien atau orang tua pasien harus berani dengan tegas menolak, “No antibiotik, jika penyakit yang kita derita bukan karena bakteri.” Penolakan seperti ini adalah hak pasien, lo.

APA, SIH, SEBENARNYA ANTIBIOTIK ITU?

Antibiotik dibuat sebagai obat derivat yang berasal dari makhluk hidup atau mikroorganisme, yang dapat mencegah pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain.

“Antibiotik diperoleh dari hasil isolasi senyawa kimia tertentu yang berasal dari mikroorganisme seperti jamur, actinomycetes, bakteri. Hasil isolasi tersebut dikembangkan secara sintetik kimia dalam skala industri,” kata Budi.  Akan tetapi, tidak semua makhluk hidup dapat dijadikan antibiotik, karena antibiotik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Harus efektif pada konsentrasi rendah.
2. Harus dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh satu atau lebih jenis mikroorganisme.
3. Tidak boleh memiliki efek samping bersifat toksik yang signifikan.
4. Harus efektif melawan patogen.
5. Harus dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan aktivitasnya.
6. Harus dapat dieliminasi dari tubuh secara sempurna setelah pemberian dihentikan.
7. Harus bersifat sangat stabil agar dapat diisolasi dan diproses dalam dosis yang sesuai, sehingga segera dapat diserap tubuh.

Selain dapat merusak gigi dan tulang, pemberian antibiotika yang tidak rasional pada si kecil dapat menyebabkannya kebal pada bakteri ‘jahat’.  Antibiotika sudah tak asing lagi di telinga. Bahkan, dengan ringannya kita mengkonsumsinya untuk mengobati penyakit, seperti flu atau radang tenggorokan.

Benarkah antibiotika itu seringan dugaan kita?  Organisme yang dapat dibunuh antibiotika adalah jasad renik seperti bakteria, kuman, dan parasit. Tetapi virus tidak dapat dibunuh dengan antibiotika, karena bukan benda hidup.

“Virus membutuhkan sel hidup untuk berkembang biak, oleh karena itu virus tidak bisa dibunuh antibiotika,” ujar Dokter kesehatan anak, Dr Purnamawati Sujud Pujiarto, SpAK,MMPed.

Virus yang ada di lingkungan sekitar kita pada dasarnya tidak berkembang biak dan tidak berbahaya. Namun, ketika tersapu tangan kemudian memegang hidung atau mulut, virus akan terbawa masuk ke dalam tubuh lalu menggunakan perangkat hidup manusia untuk berkembang biak.

“Selama ini banyak anggapan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus, misal flu atau pilek diobati dengan mengkonsumsi antibiotika. Padahal tidak seperti itu,” ujar lulusan FKUI ini.

Oleh karena itu, orang tua harus memiliki pengetahuan dasar kesehatan anak, misalnya batuk-pilek ringan yang disebabkan virus tidak memerlukan antibiotika. Penyakit yang disebabkan oleh virus itu tidak ada obatnya. Jadi kapankah saat yang tepat memberikan antibiotika pada anak?

Pemberian Antibiotika

Sebenarnya, tubuh kita sudah memilki sistem kekebalan (imun) alami untuk menangkal penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Sel-sel darah putih bertugas membunuh bakteri yang merugikan, tetapi ada kalanya sistem imun menurun. Ketika tubuh diserang oleh kuman ‘jahat’ lalu sistem imun melemah kemudian timbul infeksi, di saat inilah tubuh membutuhkan antibiotika.

“Karena daya tahan menurun, bisa terjadi sekunder infeksi karena bakteri jadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh,” kata farmakolog, Dr Yati Harwati Pujiarto, SPAK.

Penggunaan antibiotika harus disesuaikan dengan jenis bakteri atau kumannya. Karena antibiotika bersifat membunuh semua bakteri dalam tubuh, maka jika tak ada bakteri ‘jahat’ dalam tubuh sebaiknya tidak mengkonsumsinya. Seorang peneliti dari Harvard University, menemukan bahwa banyak sekali kuman dan bakteri yang hidup di alam semesta ini, tapi hanya kurang dari dua persen saja bakteri yang merugikan.

Untuk mengenali penyebab infeksi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan yang akurat melalui beberapa tes, salah satunya tes kultur, dengan mengambil spesimen dari bakteri tersebut kemudian dibiakkan. Setelah pemeriksaan, akan diketahui jenis bakteri penyebab infeksi misalnya, kuman gram positif contoh methicillin Stphylococcus aureus, atau kuman gram negatif seperti E coli, Pseudomonas sp untuk memberikan antibiotik yang sesuai.

“Tidak ada antibiotik yang dapat membunuh semua kuman gram positif dan kuman gram negatif.

Ada beberapa antibiotik yang ‘kuat’ menghancurkan kuman gram positif namun agak ‘lemah’ pada kuman gram negatif,” ujar Yati. ‘

Supaya pemberian antibiotika tepat, lanjut Dr Yati, harus diketahui tempat infeksinya atau spektrum aktivitas bakteri. Jika sudah dideteksi asal penyebabnya, maka diperlukan antibiotik spektrum sempit (neuro spectrum), yaitu aktivitas anti bakteri berspektrum sempit, yang mengarah pada tempat penyebab infeksi. Jika infeksi terdapat di beberapa tempat atau sulit terdeteksi maka diberikan antibiotik spekrum luas (broad spectrum).

“Untuk pemberian dosis antibiotik pada anak umumnya disesuaikan dengan berat badan dengan rumus tertentu,” ujarnya.

Pemberian antibiotika spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu flora normal usus berupa bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh.

Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, misalnya bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan dan pembentukan vitamin B dan K.  Pada bayi yang kelebihan antibiotika, bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah pendarahan.

Selain itu juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.  “Diare disebabkan karena terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus, sehingga bakteri ‘jahat’ menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan,” jelas Purnamawati.

Akibat lain dari pemberian antibiotika yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap mahkluk ciptaan tuhan memiliki kemampuan untuk bertahan (survive) begitupun dengan bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus menerus maka akan menciptakan suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi (mengubah bentuk) sehingga sulit dibunuh antibiotika.

“Jadi semakin sering mengkonsumsi antibiotika, makin tinggi pula tingkat kesuburan kuman-kuman yang menjadi resisten,” ujarnya mengingatkan.

Menurut Purnamawati, Antibiotika sesuai tingkatannya dibagi menjadi lini pertama, membunuh jenis kuman tertentu (paling ringan), lini kedua dan lini ketiga, yaitu antibiotika tergolong berat.

“Sebaiknya penggunaan dimulai dengan pemberian antibiotika lini pertama, jika tidak responsive baru diberikan antibiotika lini kedua,” sarannya. Jika kuman sudah resisten maka anak membutuhkan antibiotika yang tergolong ‘berat’. “Perlu diwaspadai, antibiotika lini ketiga selain lebih mahal juga memiliki efek samping,misalnya alergi (gatal-gatal atau ruam) dan diare,” katanya.

Apa Itu Nosokomial?

Superbugs adalah kuman, virus atau bakteri yang memiliki tingkat kekebalan paling tinggi terhadap antibiotika atau resisten. Anda bisa menemukannya di rumah sakit, karena banyak menggunakan antibiotika maka sedikit banyak dapat mengubah profil kuman ‘biasa’ menjadi superbugs, yang dikenal sebagai penyebab penyakit nosokomial.

“Karena biasanya kuman-kuman di rumah sakit sudah mengenal banyak jenis antibiotik, sehingga menjadi kebal, “ujar Yati.

Nosokomial adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri-bakteri resisten di rumah sakit, dan umumnya diderita oleh pasien yang menginap di RS. Awalnya penderita nosokomial, hanya terinfeksi kuman ‘ringan’ namun setelah diperiksa ternyata penderita mengalami infeksi ‘berat’ yang hanya dapat diatasi antibiotika dosis tinggi.

Penularan kuman di rumah sakit (infeksi nosokomial) terjadi pada sesama pasien atau lewat petugas kesehatan. Namun jangan khawatir, umumnya setiap RS melakukan sistem pengendalian infeksi secara ketat.  Perlu diingat antibiotik harus diminum habis sesuai aturan pakainya.

Karena jika kuman belum sempurna dibasmi maka akan resisten.  “Kuman akan berkesempatan membentuk enzim khusus untuk melawan antibiotik atau mengubah sistem kerjanya agar tidak bisa dibunuh dengan antibiotika tertentu,” ujarnya.

Dr Yati berpesan, orang tua jangan terlalu berlebihan memberi obat, termasuk antibiotika, pada anak, karena akan menyebabkan keracunan atau terkena penyakit Iatrogenic. “Umumnya sistem sekresi pada anak belum sempurna, penumpukan obat atau antibiotika dapat dengan mudah mengganggu sistem metabolismenya,” terangnya.

Jangan gampang memberikan antibiotika pada anak

Dr Yati Harwati Istiarto, SpAK, MMPed memberikan langkah-langkah yang tepat:
a. Jika anak terkena demam atau flu, beri kompres pada anak untuk menurunkan suhu tubuhnya, konsumsi makanan empat sehat lima sempurna, minum obat antipanas yang biasa dikonsumsi dan perbanyak minum air putih.
b. Jika kondisi anak belum juga membaik selama tiga hari dan disetai kejang-kejang, hubungi dokter secepatnya. “Ada kemungkinan anak terkena infeksi di bagian tertentu, sehingga perlu penanganan lebih lanjut dan pemberian antibiotik,” ujarnya.
c. Jika anak terluka, cukup berikan salep atau obat antiseptik.
d. Jangan lupa membersihkan tangan sebelum makan agar bakteri yang melekat pada tangan tidak terbawa masuk melalui makanan.
e. Jika anak diharuskan mengkonsumsi antibiotika, biasanya dokter memberikan antibiotika kelas ringan yaitu golongan Betalactam seperti penicillin. “Umumnya diberikan jika infeksinya juga tergolong ringan, namun pemberian antibiotik juga disesuaikan dengan jenis bakterinya,” kata Yati.
f. Pada anak usia dibawah sepuluh tahun, hindari mengkonsumsi antibiotika jenis Tetracycllin karena dapat merusak gigi (gigi kuning) dan mengganggu pertumbuhan tulang.
g. Agar tak salah langkah memberikan antibiotika, saat ini informasi mengenai kesehatan bisa Anda dapatkan melalui buku, seminar atau internet yang terpercaya agar Anda lebih rasional dalam bertindak.

Apa Itu Antibiotika?
Antibiotika berasal dari kata anti dan bios dalam bahasa latin yang artinya kehidupan, jadi antibiotika adalah zat yang dapat membunuh atau melemahkan kehidupan jasad renik (jamur, kuman, bakteri, virus).

Menurut Dr Yati Harwati Istiantoro SpFK, Staf pengajar FKUI bagian Farmakologi, Antibiotik memiliki banyak klasifikasi antara lain berdasarkan bahan kimiawi yang dikandungnya seperti golongan penicillin, atau bisa dilihat dari mekanisme kerjanya, apakah antibiotik membunuh bakteri (cidal) atau menghambat perkembangan bakteri.

Sedangkan ditilik dari proses pembuatannya antibiotika dibagi menjadi 3 yaitu, dibuat secara alami, antibiotik berasal dari bagian dari kuman itu sendiri atau jamur jenis tertentu. Secara sintetis, mengambil zat-zat aktif dengan proses reaksi kimiawi. Sedangkan semi sintetis, mengambil bahan secara alami (jamur atau bakteri) lalu melalui proses fermentasi dan kimiawi.

Apa perbedaan antara obat biasa dengan antibiotik? Obat umumnya bekerja aktif pada sel-sel manusia sedangkan antibiotika bekerja membunuh bakteri dan sedapat mungkin tidak menyentuh sel-sel manusia.

“Antibiotik diserap kemudian diedarkan menuju tempat penyebab infeksi, hanya kuman yang dibunuh. Sehingga antibiotika tidak akan berguna jika tubuh tidak terinfeksi, justru malah membunuh bakteri baik dalam tubuh,” papar Yati.
Sumber: Majalah Inspiredkids

Tentang Penulis

Tidak ada Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Lia Haris 16/01/2012 pukul 19:20 -

    Anak sy 14 bln, wkt umur 8 bln kata dokter terkena radang paru2, sejak itu hampir tiap bulan sy bawa ke dokter dan selalu diberi antibiotik. Malah makin lama intensitasnya meningkat jadi 2x sebulan berobat ke dokter dan selalu diberi antibiotik. Minggu lalu masuk rmh sakit, dan baru semiinggu sembuh dia batuk2 lg. Apa yg harus sy lakukan? Dan bgmn mengatasi kelebihan antibiotik? Dan apa yg bisa meningkatkan imunitas anak? Mohon sarannya. Terima kasih.

  2. Bunda Abraar 22/07/2010 pukul 14:53 -

    Anak saya sudah beberapa kali sakit dan selalu minum antibiotik yang berbeda..lalu apa yang harus saya lakukan supaya anak saya sehat dan tidak mudah sakit…trimksh

  3. sausan 29/05/2010 pukul 01:27 -

    Dimana saya bisa berkonsultasi dengan dokter iwan ini,terima kasih…

Leave A Response