100 siswa SD Pius ikuti demo membatik

Ditulis 29 Agu 2009 - 21:21 oleh Banyumas1
PURBALINGGA–Tangan mungil Rengganu Katon Kesuma, siswi Klas VI SD Pius Purbalingga terlihat masih kesulitan dalam menorehkan canting yang sudah diisi malam berwarna kecoklatan ke lembaran kain putih.Keringat yang menetes dari dahinya, tak ia hiraukan. Rengganu dengan tekun menelusuri motif yang telah digambarkan pada selembar kain putih berbingkai kayu.
Memang ia tampak kesulitan dalam menorehkan canting itu, sehingga tak jarang tetesan cairan malam (lilin yang dipakai untuk membatik, red.) tidak sesuai garis-garis motif. Di samping Rengganu, guru  mata pelajaran  seni budaya dan ketrampilan SD Pius, Anastasia Sri Pujiatun berdiri  mengamati satu persatu murid-muridnya yang juga tengah membatik.
“Saya sangat senang dengan kegiatan ini karena dapat melatih kesabaran dan mencintai budaya Indonesia,” kata Rengganu  yang baru belajar membatik sekitar satu minggu,” ujar Rengganu polos.
Rengganu adalah satu diantara seratus siswa SD Pius Purbalingga–sebagian besar etnis China–, yang pada Sabtu (28/8) pagi itu di halaman  Gereja Katolik Paroki Santo Agustinus, Purbalingga mengikuti aksi membatik bersama untuk memperingati HUT ke-64 Kemerdekaan RI dengan tema “Mari Kita Cintai Budaya Indonesia”. 100 siswa SD Pius yang mengikuti kegiatan itu, semuanya duduk di klas V dan VI.
Kepala Sekolah SD Pius Purbalingga , Suster Theofillia SND yang didampingi wakil kepala sekolahnya, Fransiskus Sukiswanto, S.Pd  dan dua guru Seni budaya dan ketrampilan , Anastasia Sri Pujiatun dan Cune Yulianto di sela-sela kegiatan itu mengatakan, kegiatan membatik bersama itu dilakukan untuk mengembangkan pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI.
Menurut dia, dipilihnya kegiatan membatik yakni sebagai upaya untuk menggali potensi pada diri anak didik.
“Selain itu, kegiatan ini juga didasari rasa keprihatinan terhadap seni dan budaya bangsa Indonesia yang seakan kurang mendapat perhatian dari generasi muda,” ujarnya kepada banyumasnews.com.
Bahkan adanya klaim negara lain terhadap salah satu budaya Indonesia, kata dia, kemungkinan juga disebabkan kurangnya kepedulian generasi muda terhadap budaya bangsa. Untuk itu, lanjutnya, SD Pius Purbalingga berusaha memberikan pengenalan dasar mengenai cara membatik tulis dan selanjutnya akan ditingkatkan pada proses pewarnaan hingga penyelesaian.
Menurut dia, pelajaran membatik ini untuk sementara diberikan kepada siswa sebagai ekstrakulikuler dan tidak menutup kemungkinan akan diusulkan menjadi muatan lokal. Anastasia Sri Pujiatun menambahkan, siswa SD sebenar masih kurang tanggap terhadap cara membatik, tetapi hal itu tidak menjadi masalah, karena merupakan bagian dari proses pembelajaran.
“Ini langkah awal untuk mengenalkan membatik kepada para siswa, sehingga dapat dimaklumi jika mereka sulit memegang canting hingga akhirnya cairan malamnya menetes di luar motif,” katanya.
Ia mengatakan, kegiatan yang digelar di halaman gereja ini semula direncanakan sebagai demo membatik di atas kain sepanjang 50 meter oleh 100 siswa SD Pius Purbalinggga.

Siswa SD Pius tengah asyik membatik (foto:pyt/BNC)

Siswa SD Pius tengah asyik membatik (foto:pyt/BNC)

Akan tetapi karena para siswa baru mengenal cara membatik, kata dia, kain sepanjang 50 meter tersebut dipotong-potong sehingga setiap siswa mendapat satu bagian.

“Kalau tetap dibuat utuh sepanjang 50 meter, dikhawatirkan siswa akan berdesakan atau saling canda sehingga dapat membahayakan mereka, yakni dapat terkena tetesan cairan malam atau terkena kompor,” timpal Cune Yulianto yang juga dikenal sebagai pelukis di Purbalingga.

Kegiatan membatik  ini bukan hanya sesaat. Artinya, setelah siswa selesai merohkan malam dengan canting ke kain putih bebingkai kayu, selanjutnya kain itu diproses menjadi batik di sentra batik di Desa Galuh, Purbalingga. “Nantinya, siswa akan diajak melihat dari dekat cara memproses itu. Selanjutnya bahan kain itu, akan dibawa para siswa untuk dibikin aneka ketrampilan, seperti tas, tempat laptop, baju boneka dan lain-lain. Dan hasil dari kreasi anak-anak dengan bahan batik itu, kelak di akhir tahun  pelajaran kami pamerkan, dan sebagian dijual ke umum,”  ujar Suster Theofillian SND.  (banyumasnews.com/pyt)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. rohana 31/08/2009 pukul 12:14 -

    bagus……budaya kita harus diwariskan sejak dini..agar batik tidak diklaim sebagai produk budaya malaysia. selamat untuk sd pius purbalingga

Leave A Response