IP tinggi tidak menjamin gampang cari kerja

Ditulis 27 Agu 2009 - 20:02 oleh Banyumas1

PURWOKERTO-Indeks prestasi tinggi bukanlah jaminan seorang lulusan perguruan tinggi sukses dalam mencari kerja. Karena masih dibutuhkan sejumlah hal berkaitan dengan kemampuan teknis personal seorang pencari kerja.

“Hal yang menonjok bagi saya, satu-satunya fakultas di perguruan tinggi manapun yang lulusannya siap bekerja barulah Fakultas Kedokteran, karena mereka menerapkan program magang atau co ass, namun itu bukanlah suatu alasan bagi kalian, carilah kesempatan dan fasilitas lain di luar kampus yang bisa meningkatkan kemampuan,” ungkap Zainal Abidin,  Konsultan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Unsoed saat memberikan motivasi kepada sejumlah yuiornya di Kampus Unsoed,Kamis (27/8).

Dalam pandangan alumnus Fakultas Peternakan ini, lulusan perguruan tinggi memiliki gengsi yang tinggi namun tingkat kompetensinya relatif nol, dari beberapa fakultas, Zainal menilai hanya Fakultas Kedokteran yang sedari dulu telah menyiapkan lulusannya agar bisa menjadi dokter.

Lelaki yang akrab dipanggil Jae ini mencontohkan, beberapa sekolah menengah kejuruan di Jakarta telah memiliki hotel dari lima hingga 10 kamar, ada juga yang telah memiliki sejumlah unit swalayan. Inti yang mereka terapkan yakni keterlibatan siswa dalam usaha hingga 100 persen.

“Eksperimental farm sekarang jauh lebih baik jika dibandingkan saat saya kuliah beberapa tahun lalu, kalau mau praktek kami harus cari ke luar, karena peternakan fakultas terkadang ada sapinya terkadang tidak ada, untuk menunjang ilmu saya juga memelihara ikan lele, sehingga saat kuliah saya sudah tidak bergantung pada orang tua,” jelasnya.

Banyak pertanyaan menarik dari para calon wisudawan maupun wisudawati yang telah lulus maupun belum, bahkan PD III Fakultas Peternakan juga bertanya kepada mantan mahasiswanya tersebut.

Suasana audiensi semakin hidup saat seorang mahasiswa bertanya tentang bagaimana mengetahui potensi yang ada dalam diri masing-masing orang dan  bagaimana mengatasi tiap hambatan.

Ada juga mahasiswa yang bertanya apa yang semestinya dilakukan setelah lulus kelak, apakah bekerja atau langsung terjun menjadi wirausahawan.

“Masalah hambatan sebenarnya ada di mindset tiap-tiap orang, apakah harus bekerja atau memiliki usaha sendiri tentunya kembali pada diri anda, jika sudah berniat membuka usaha, sejak bekerja tentukan berapa uang yang harus ditabung untuk modal, setelah terkumpul modal segera buka usaha anda,” kata Zainal berpesan.

Namun menurutnya ada hambatan yang biasanya muncul pada diri seorang karyawan, yakni semakin besar gaji yang telah didapat, semakin sulit juga memutuskan untuk berhenti bekerja.

“Ada seorang kenalan saat awal bekerja berpuluh tahun lalu gajinya sebesar Rp 80 ribu, ketika berada di puncak karier gajinya per bulan mencapai Rp 8 juta, ironisnya saat pensiun per bulan dia hanya mendapatkan Rp 800 ribu,” ungkap Zainal.

Dia berpesan kepada seluruh adik tingkatnya bahwa usia 20 hingga 35 tahun bukanlah waktu untuk berpikir tentang uang, namun suatu masa untuk bekerja dan belajar sebanyak mungkin hal-hal baru.(banyumasnews.com/lin)

Tentang Penulis

Leave A Response