Warga Purbalingga tolak Pasar Murah di komplek Gor

PURBALINGGA – Pedagang Kaki Lima (PKL) Gang Mayong berharap tidak ada lagi pasar murah di kompleks GOR Mahesa Jenar. Selain PKL, warga Kelurahan Purbalingga Lor, khususnya Jalan Ahmad Nur (Kauman) dan warga kelurahan Purbalingga Kulon (Jalan Serma Jumiran).

“Kali ini kami berharap bupati benar-benar menepati janjinya tidak mengijinkan kegiatan pasar murah di GOR Mahesa Jenar,” tutur Yulianto, warga kelurahan Purbalingga Kulon, Kamis (27/8).

Yulianto menunjukkan kliping berita di sebuah media massa cetak. Pada berita itu ditulis, seperti tahun lalu, Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko berjanji pasar murah pada bulan Ramadan tahun 2008 yang terakhir kalinya diselenggarakan di GOR Mahesa Jenar.

Pada 2007, Triyono sudah menjanjikan tak ada lagi pasar murah di GOR Mahesa Jenar pada 2008. Tapi karena sejumlah pertimbangan, bupati tetap mengijinkan. Saat itu Triyono beralasan ada surat edaran dari Gubernur Jateng yang menghimbau kepala daerah tidak melarang kegiatan pasar murah.

Bagi PKL di Jalan Wirasaba yang lebih dikenal dengan Gang Mayong, ’pregegan’ (hari-hari menjelang lebaran) seharusnya menjadi masa-masa panen. Saat itulah pedagang aneka makanan di Kya Kya Mayong menangguk keuntungan yang besar seiring meningkatnya omzet penjualan. Tapi keberadaan pasar murah yang didominasi pedagang dari luar daerah, justru membuat omzetnya menurun.

Keberadaan pasar murah selalu diikuti penutupan jalan Gang Mayong dari ujung utara dan selatan. Gang Mayong ditutup pada kedua ujungnya oleh panitia pasar murah untuk lahan parkir. ”Akibatnya, orang yang mau ke Gang Mayong untuk mencari makanan beralih ke tempat lain,” tutur Supono, pedagang mi ayam di Kya Kya Mayong, Kamis (27/8).

Pedagang lain juga mengeluhkan keberadaan pasar murah di kompleks GOR Mahesa Jenar itu. Menurutnya, PKL yang sehari-hari berjualan di Kya Kya Mayong membayar retribusi setiap hari kepada pemerintah. Tapi saat ’prepegan’ rejeki tahunan itu direbut oleh pedagang dari luar daerah.

“Kami PKL di Gang Mayong rutin memberikan kontribusi untuk pendapatan daerah. Tapi pemerintah malah lebih berpihak kepada pedagang dari luar dengan mengijinkan penyelenggaraan pasar murah,” keluh Yatno, PKL yang sudah delapan tahun berjualan di Gang Mayong.

Tak hanya pedagang di Kya Kya Mayong yang merasa terusik oleh keberadaan pasar murah. Warga Kelurahan Purbalingga Lor dan Kelurahan Purbalingga Kulon juga mengaku terganggu. Pada malam hari, pedagang pasar murah yang jumlahnya ratusan itu tidur di lapak masing-masing. Mereka mengandalkan toilet di GOR Mahesa dan masjid kecil di Gang Mayong untuk keperluan mandi dan buang hajat.

“Karena toilet di masjid itu hanya satu, tidak sedikit pedagang pasar murah buang air kecil di sembarang tempat. Pokoknya, kalau pas ada pasar murah, lingkungan kami terganggu bau tidak sedap. Belum lagi sampah-sampah yang berserakan,” tutur Farid, warga kelurahan Purbalingga Kulon.   (banyumasnews.com/pyt)

1 Comment

  1. ya bener kue mas…….aku setuju karo pkl gang mayong dan warga setempat. solusinya tempatkan pasar murah di lapangan…….jangan di jalan umum…..ngganggu kepentingan umum mas………trim

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.