Din Syamsudin : Muhammadiyah Dukung Berantas Terorisme

TEMANGGUNGdin syamsudin– Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr HM Din Syamsudin berkelakar dirinya kalah tenar dibanding mBah Jahri begitu kasus penggerebegan rumah Jahri oleh Tim Densus 88 di Dusun Beji, Desi Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, beberapa waktu lalu. Rumah Jahri ketika itu menjadi sasaran berondongan peluru dan bom kecil ketika Tim Densus melumpuhkan Ibrohim yang sebelumnya diduga sebagai Nordin M Top.
”Saya mengakui, sekarang mbah Jahri lebih terkenal ketimbang Ketua Muhammadiyah. Yang datang berduyun-duyun jangan-jangan karena Mbah Jahri,” kata Din Syamsudin di hadapan ratusan warga dalam rangka pengajian menjelang bulan suci Ramadhan di halaman Masjid Jami’ Baitusalam Desa Beji, Kedu, Jum’at (21/8).
Din mengemukakan, persoalan yang menimpa mbah Jahri jangan sampai terulang lagi di Indonesia. Sebab, masalah terorisme tumbuh subur itu akibat pandangan radikalisme yang dianut oleh sebagian kecil masyarakat kita.
“Muhammadiyah tidak mengajarkan kekerasan dan Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, humanis, moderat dan demokratis. Saya tegaskan disini, bahwa Muhammadiyah mendukung upaya pemberantasan terorisme di Indonesia,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Din Syamsudin mengemukakan, maksud kedatangannya ke Beji dalam rangka pengajian menjelang bulan suci Ramadhan. Selain itu untuk mendukung Mbah Jahri yang sedang ditimpa masalah dan sempat disorot media hingga mancanegara. “Tapi alhamdulillah Mbah Jahri hanya menjadi korban kesalahpahaman saja. Beliau juga sudah diperlakukan secara baik oleh aparat polisi yang menangkapnya,” kata Din.
Ketika menyinggung soal penggantian rumah Mbah Jahri yang rusak parah pasca penggerebeken teroris oleh Densus 88, hal tersebut diserahkan kepada aparat kepolisian atau pihak Polri. Mbah Jahri sendiri mengatakan dirinya manut-manut saja, apakah rumahnya mau diperbaiki lagi atau tidak. “Sumangga kersa, saya terserah aparat saja,” tutur MBah Jahri yang kabarnya mendapat urunan bantuan dari warga Muhammadiyah sebesar Rp 25 juta dan kelak akan dipergunakan untuk naik haji ini.
Mendengar jawaban lugu Mbah Jahri, Din menyindir bahwa soal penggantian rumah yang sampai sekarang masih diberi garis polisi itu, sebenarnya bisa dengan cara warga Muhammadiyah urunan. “Ya tapi kembali pada Mbah Jahri, katanya Mbah Jahri kan terserah aparat. Mbah Jahri itu sekarang bahasanya terserah aparat, kalau ditanya wartawan. Padahal di Muhammadiyah kan tidak ada aparat,” ujar Din berkelakar. (banyumasnews.com/pyt)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.