Awal Puasa Warga Aboge Hari Ahad Pon

Ditulis 21 Agu 2009 - 20:46 oleh Banyumas1

Oleh: Susanto,S.Sos

MESKIPUN Pemerintah RI ataupun berbagai ormas Islam menetapkan awal Puasa Sabtu, 21 Agustus 2009 namun sebagian umat Islam d Banyumas berketetapan lain. Komunitas Aboge di Pekuncen, tepatnya di Dukuh Gandusari Desa Cibangkong, ratusan warganya sudah dipastikan akan memulai puasa pada hari Ahad Pon besok. Komunitas Aboge ini adalah warga yang masih kukuh mempertahankan perhitungan Jawa sebagai metode penentuan awal puasa dan awal bulan Hijriyah lainnya.

Menurut Santibi salah satu tokoh Aboge di dukuh Gandusari menyatakan Tahun ini adalah tahun Je maka perhitungan pokoknya Jesaing. Untuk menentukan awal puasa rumusnya sanemro, puasa enem loro. Berarti hari ke-6 setelah Selasa dan pasaran ke-2 setelah Pahing. Jadi awal Puasa adalah Ahad Pon. Itu sudah pasti sampai kapanpun.” Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa setiap orang islam yang masih memegang perhitungan aboge dimanapun akan mengalami kesamaan hari dalam penetapan awal puasa yaitu hari Ahad Pon, 22 Agustus 2009.

Kata Aboge ini dapat dikatakan berasal dari dari khasanah kosakata Jawa dimana Aboge merupakan akronim dari Alip Rebo Wage. Aboge adalah metode penghitungan Jawa untuk menentukan hari, tanggal, bulan Hijriyah. Kalender Jawa  sering disebut sebagai kalender Kurup (asal kata Arab: huruf karena nama-nama tahunnya berawalan huruf Arab, yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir. Alip adalah sebutan bagi tahun pertama dari satu windu tahun dalam kalender Jawa. Sedangkan Rebo Wage adalah hari jatuhnya Tahun Baru Jawa atau Hijriyah yaitu setiap tanggal 1 Muharram/Sura. Konon dalam perhitungan Aboge, satu bulan harus selalu berjumlah tigapuluh hari penuh, sehingga bagi yang menganut kalender perhitungan Aboge ini tidak mengenal adanya bulan ganjil yang berjumlah 29. Setiap bulan kebanyakan berjumlah 30 hari penuh termasuk di dalamnya bulan Puasa/Ramadhan. Perhitungan ini mengakibatkan perbedaan dalam menentukan hari dan tanggal Jawa/Hijriyah termasuk  bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Kalender Jawa sering disebut sebagai kalender Kurup (asal kata Arab:huruf karena nama-nama tahunnya berawalan huruf Arab, yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimawal, Jimakir. Menentukan tanggal satu Sura sangat erat keterkaitannya dengan keberadaan tahunnya misal versi Aboge.

Tasori, salah satu tokoh masyarakat Gandusari melagukan si’iran untuk menghafal rumus Etungan Dina Aboge dengan tempo cepat, tidak mendayu-dayu. Berikut si’rannya.

Huwal habii bulladzi turja safangatuhu

Likulli haulimminal ahwa lilmuktahimi

Maula ya sholli wa salim da i man abada

Ngalal habibika khoiri kholqi kullihimi

 

Aboge tahun Alip tanggale Rebo Wage

Hengadpon tahun He tanggale Ahad Pon

Jangapon tahun Jim tanggale Jemuah Pon

Jesaing tahun Je tanggale Slasa Pahing

 

Daltugi tahun Dal tanggale Setu Legi

Bemisgi tahun Be tanggale Kemis Legi

Wanenwon tahun Wawu tanggale Senen Kliwon

Jumageha tahun Jim akhir tanggale Jemuah Wage

 

Ramjii, parluji, nguwalpadma, ngukirnema

Diwaltupat, dikiropat, jablulu, banemlu

sanemro, waljiro, dahroji, jahpatji

Ikulah etungane tanggal sasi ingkang pasti

 

Artinya, setiap tahun Alip tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Rabu Wage. Kemudian hehadpon, pada tahun Ehe, jatuh Ahad Pon. Menyusul Walmahpon, di tahun Jimawal jatuh Jemuah (Jumat) Pon. Berikut Jesaing, di tahun Je jatuh Selasa Pahing.Selanjutnya Daltugi, pada tahun Dal jatuh Sabtu Legi. Kemudian Bemisgi, tahun Be jatuh Kamis Legi. Disusul Wunenwon, tahun Wawu jatuh Senin Kliwon. Terakhir Kirmahge, tahun Jimakir jatuh Jemuah Wage. Untuk menentukan tanggal satu setiap bulannya acuannya memakai pedoman penetapan hari mulai Rabu bernilai satu (ji), Kamis dua (ro), Jumat tiga (lu), Sabtu empat (pat), Ahadlima (ma), Senin enam (nem), Selasa tujuh (pit/pitu). Dibarengi pasaran mulai Wage bernilai satu (ji), Kliwon dua (ro), Legi tiga (lu), Pahing empat (pat) dan Pon lima (ma).

Metode Ramjiji, artinya tanggal 1 bulan Sura jatuhnya hari ji dan pasaran ji. Jiji di sini berarti Rabu Wage. Kemudian Parluji, artinya bulan Sapar jatuhnya hari lu dan pasaran ji atau Jumat Wage. Nguwalpama, bulan Mulud jatuh Sabtu Pon. ngukirnema, Bakdamulud – Senin Pon. diwaltupat, Jumadilawal – Selasa Pahing. dikirropat, Jumadilakir – Kamis Pahing. Jablulu, Rajab – Jumat Legi. Banemlu, Sya’ban- Ahad Legi. Sanemro, Pasa – Senin Kliwon. waljiro, Sawal – Rabu Kliwon. Dahroji,, Dulkaidah – Kamis Wage. Jahpatji, Dulhijjah – Sabtu Wage.

Demikianlah rumusan perhitungan Aboge yang bagi orang awam mungkin agak memusingkan tetapi bagi orang Aboge hal itu telah dihafalkan di luar kepala. Mereka telah mengamalkan perhitungan ini sejak turun temurun dari nenek moyangnya. Komunitas Aboge sebuah bagian religiusitas Islam di Banyumas yang berbeda dan perlu disikapi secara arif dan bijaksana oleh semua pihak.

 

SUSANTO,S.Sos

Aktif di komunitas Luar K Otak  Ajibarang

Tinggal di Cibangkong, 3/2 Pekuncen BMS

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. zainuri 24/09/2009 pukul 14:57 -

    untuk SUSANTO,S.Sos, aku sangat tertarik dan besar keinginan tahu aku akan metode perhitungan ini, karena selama ini aku selalu mendapat wejangan-wejangan perhitungan dari orang tua dengan pedoman kalender ABOGE, misalkan ketika aku mau kawin, mau mendirikan rumah, mau memulai dagang dll, aku selalu dihitungkan. untuk itu dengan segala rendah hati, kiranya bapak SUSANTO, S Sos bisa memberi petunjuk atau rincian perhitungan untuk aku bagaimana cara membuat kalender ABOGE ini sehingga aku bisa membuat kalender aboge sendiri lengkap s/d 8 tahun ( satu windu mulai tahun alif s/d tahun . . . .). lebih-lebih kalau bapak sudah punya tabelnya, akun mohon untuk dikirimi ke emaiku dia tas. akan ku tunggu bantuan dan kebaikan bapak. (saya masih belum faham apakah penentuan awal bulan setiap tahunnya baik tahun alif atau tahun-tahun yang lain sama rumusnya, sehingga aku bisa menghitung sendiri)
    sebelumnya aku sampaikan terima kasih banyak dan matur nuwun sanget , sehingga ini bisa membuat aku tidak bingung dan penasaran lagi terhadap teorinya apalagi mereka yang selama ini menjelaskan ke aku tidak bisa menjelaskan secara detail, maklum mereka orang desa terkadang kurang faham perhitungan).

Leave A Response