Tunggakan listrik capai Rp 552 juta

Ditulis 21 Agu 2009 - 07:24 oleh Sista BNC

PURBALINGGA – Di beberapa wilayah di Purbalingga, kesadaran masyarakatnya untuk membayar tagihan listrik sangat rendah. Akibatnya, pada Juli 2009 lalu, tunggakan rekening yang harus ditanggung PLN mencapai Rp 552 juta.
“Kami kurang apa? Loket pembayaran sudah dipermudah dengan membuka di beberapa tempat. Jemput bola dengan mobil keliling juga sudah dilakukan. Tapi kembali kepada kesadaran mereka yang memprihatinkan,” kata Kepala Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) PLN Purbalingga Sunhaji, Jumat ( 21/8).
Upaya memberikan peringatan pemberitahuan pemutusan sementara tidak diindahkan pelanggan. Bahkan tak jarang ketika pemutusan sementara akan dilakukan, beberapa di antaranya mengamuk dan seakan tak terima.
“Posisi kami jadi dilematis. Ketika kami bertindak represif dengan menegakkan aturan, kami harus berhadapan frontal dengan masyarakat. Tapi bila dibiarkan, tunggakan semakin parah,” ujarnya.
Sunhaji menyebutkan beberapa wilayah di pedesaan dan sebagian wilayah kota memiliki tingkat tunggakan yang signifikan. Bahkan di salah satu kawasan industri kecil di Purbalingga kota justru sebagian besar nunggak.
Semakin besar tunggakan, jelas sangat berpengaruh terhadap operasional PLN. Terlebih untuk operasional sambung baru akan sangat terkendala. Imbasnya kepada pelanggan lagi dan secara umum operasional PLN.
Pihaknya berniat untuk berkoordinasi dengan kepolisian terkait pemutusan sambungan listrik sementara di pelanggan. Terutama di kalangan rumahtangga yang tidak jarang terjadi kesalahpahaman ketika dilakukan pemutusan.
Dengan menggandeng pihak berwajib, diharapkan tidak akan terjadi hal yang tak diinginkan di masyarakat.
“Kalau tidak dengan polisi juga ada alternatif kejaksaan. Kami masih merencanakan kepastian koordinasinya,” ujar Sunhaji.
Sejumlah warga mengaku keterlambatan membayar tagihan listik karena disengaja. Karena pelayanan PLN dianggap tidak memuaskan pelanggan.
”Sering terjadi pemadaman, tapi masyarakat bisa apa? Komplain masyarakat tidak dihiraukan PLN. Tapi saat kami terlambat satu bulan saja langsung kena tegur dan peringatan,” ungkap Hadi, warga Bobotsari.
Warga lainnya hanya menginginkan pelayanan yang adil. Jangan sampai terkesan sepihak dan menyalahkan pelanggan. PLN juga harus membenahi diri agar bisa memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan.
“Hak dan kewajiban sama-sama dibenahi. Hak kami selaku pelanggan dan kewajiban kami serta sebaliknya harus imbang penerapannya,’ ujar Yono, warga Purbalingga.(Banyumasnews.com/pyt)

Tentang Penulis

Leave A Response