Peserta antusias ikuti workshop teknologi pedesan Pattra Unsoed

Ditulis 19 Agu 2009 - 20:07 oleh Banyumas1

PICT0030
PURWOKERTO – Sebanyak 30 peserta workshop pedesaan yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan dan Pusat Alih Teknologi dan Kemitraan (PATTRA) Unsoed, begitu antusias mengikuti tahap demi tahap kegiatan.

Seorang peserta bernama Mukirno, yang juga merupakan peraih beasiwa Sarjana Mbagun Desa (SMD), Rabu (19/8) mengatakan kepada banyumasnews.com jika peternak sangat merindukan kegiatan semacam itu.

“Kegiatan semacam ini sangat diperlukan karena selain mendapat teori, peternak juga bisa praktek secara langsung, seluruh ilmu yang didapat nantinya akan kami tularkan kepada kelompok ternak Maju Jaya di Tukigedong, Kecamatan Puri, Kebumen,” ungkap lulusan Fakultas Peternakan Unsoed itu.

Seorang peserta memberi makan jerami amoniasi

Seorang peserta memberi makan jerami amoniasi

Seluruh materi yang disampaikan oleh ahli ahli dari Puslit maupun PATTRA Unsoed menurut, Mukirno sangatlah menarik, khususnya materi mengenai Pemberdayaan Kelompok, serta motivasi untuk perubahan nasib.

Dia menjelaskan kelompok ternaknya kini sedang menerapkan pola manajemen pembibitan sapi, dan rencananya juga akan membuat sistem pengelolaan limbah kotoran sapi seperti menjadi biogas, pupuk organik maupun pupuk cair.

“Hampir 80 persen warga di daerah saya sekarang menjadi peternak, jika dulu beternak sebagai usaha sampingan, sekarang menjadi pekerjaan utama, karena beternak lebih menguntungkan, sapi baru berumur 100 hari pun sudah banyak yang berminat, harga seekor sapi jenis PO dengan umur yang sama kini mencapai Rp 5 juta,” jelasnya.
Sementara ketua kelompok ternak Sidoayem, Kecamatan ambal, Najihil Kowim menjelaskan dulu sebelum mendapatkan pelatihan sejenis, peternak di daerahnya selalu menyia nyiakan limbah tongkol jagung.

peserta antusias mendengarkan penjelasan tim puslit

peserta antusias mendengarkan penjelasan tim puslit

“Dari 50 ekor sapi Brahman Cross yang kami peroleh tahun 2008 tahun lalu setelah, menerapkan pola pemeliharaan dan pemberian pakan secara benar jumlah totalnya kini menjadi 93 ekor,” kata Najihil Kowim.
Peserta semakin antusias tatkala, panitia mengajak mereka ke experimental farm Fakultas Peternakan Unsoed, karena di sana mereka diajari cara membuat pakan alternative menggunakan teknik amoniasi jerami padi.

Dosen peternakan, Andri Setianto mengatakan proses amoniasi jerami padi merupakan suatu upaya untuk menghadapi kurangnya pakan hijauan di musim kemarau, bahannya berupa jerami yang dicampur dengan cairan limbah pabrik tebu, limbah tapioka atau onggok.
“Selama ini kendala di kalangan peternak adalah minimnya ketersediaan bahan pakan bagi ternak mereka, sehingga mereka tidak mampu memelihara ternak dalam jumlah banyak, maksimal dua hingga lima ekor, dengan amoniasi jerami padi diharapkan pakan selalu tersedia setiap saat,” jelas Andri.

Bahannya pun cukup murah dan tersedia di mana saja, untuk satu truk jerami padi, Andri mengatakan harganya mencapai Rp 400 ribu dan bisa digunakan berbulan bulan, sementara limbah lainnya bisa diperoleh di pabrik. (banyumasnews.com/lin)

praktek memerah susu sapi

praktek memerah susu sapi

Tentang Penulis

Leave A Response