Komunitas sastra ‘Hujan Tak Kunjung Padam’

logo HTKPBANYUMAS – Kabupaten Banyumas boleh berbesar hati karena memiliki komunitas sastra Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP), yang mengklaim sebagai kelompok independent karena tidak berada di bawah naungan instansi manapun.
Komunitas yang terbentuk pada 3 April 2005 tersebut digawangi oleh lima sastrawan muda asal Banyumas yakni Agustav Triono, Ari Purnomo, Aliv V Esesi, Ayatullah Muhammad dan Yudistira Jati.
Agustav Triono atau akrab dipanggil Gustav saat ditemui banyumasnews.com di base camp HTKP kompleks Perumahan Kedungwringin, Blok A No 25, Banyumas mengatakan jika terbentuknya komunitas tersebut secara tidak disengaja.
“Ceritanya saat itu kami sedang dalam proses penggarapan pentas teater dan dua hari tidak pulang ke rumah masing masing, saat hendak pulang huja turun begitu deras dan tidak berhenti, akhirnya saya nyeletuk hujan tak kunjung padam, dan secara spontan rekan rekan langsung mengamini kata kata tadi sebagai nama komunitas ini,” ungkapnya.
Sejak awal terbentuknya komunitas hingga saat ini, mereka setia memegang ikrar untuk mengembangkan dunia sastra di Kota Satria serta memilih sastra dan segala kemungkinan penjelajahannya baik sastra tulis maupun lisan dalam mengembangkan kreatifitas.
Gustav yang juga aktif sebagai anggota teater Tubuh mengatakan kegiatan yang dilaksanakan adalah diskusi rutin antar anggota komunitas, meski beberapa bulan vakum di tahun 2009 ini, mereka berencana mengadakan sejumlah kegiatan.
Vakumnya aktivitas HTKP dikarenakan beberapa anggotanya telah bekerja, dan mereka ingin memberikan kebebasan untuk seluruh anggota untuk bekarya dan berkspresi di luar HTKP.
Saat ditanya sejak kapan mereka menyukai sastra, dua orang anggota HTKP, Gustav dan Ayatullah Muhammad memberikan keterangan yang berbeda, Gustav mengaku sudah menggeluti dunia sastra sejak SMA, sementara Ayat mengaku setelah beberapa tahun kuliah di jurusan Biologi Unsoed, sebelumnya dia dikenal sebagai perupa.
Mereka mengatakan dunia sastra di Banyumas mulai bergeliat, jika dulu Banyumas lebih banyak melahirkan penyair, sekarang di Banyumas mulai bermunculan karya karya sastra yang beragam, semacam cerita pendek dan novel.
Meski tingkat apresiasi terhadap karya karya sastra di kalangan masyarakat Banyumas belumlah tinggi, mereka terus berupaya mencari ruang untuk berkspresi dan menyampaikan karya mereka maupun karya karya sastra klasik kepada masyarakat.
“Setiap ada diskusi sastra orang orang yang dating hanya itu itu saja, meski hal tersebut belum bisa dijadikan parameter, ke depan kami akan mencoba memasyaratkan sastra khususnya naskah naskah klasik di ruang ruang publik seperti supermarket, toko buku dan sebagainya,” kata Ayat menambahkan
Apapun dilakukan untuk memperkenalkan sastra ke masyarakat, seperti yang dilakukan Aliv misalnya, dia mengaku sempat membaca puisi saat berlangsung hajatan yang diadakan oleh anggota masyarakat asal Patikraja beberapa waktu lalu. (banyumasnews.com/lin)

foto HTKP
Beberapa kerja sastra lisan yang dilaksanakan :
Pementasan monolog prita istri kita (September 2005)
Parade teater remaja (September 2006)
Pementasan teater durasi panjang (5 jam) menunggu godot (September 2007)
Pesta monolog orang orang tak terkenal (Desember 2007-Januari 2008)
Pementasan naskah kolosal Faust (durasi 7.5 jam) Agustus 2008

Mereka juga telah menerbitkan beberapa karya sastra cetak meliputi
Jejak tapak langkah calon sastrawan Purwokerto, antologi cerpen dan puisi (2005)
Banyumas dalam tanda kutip (antologi cerpen 2005)
“CPNS” Calon Penyair Negeri Sastra (kumpulan puisi 2006)
Bangka kumpulan naskah drama (2006)
Orang orang tak terkenal, kumpulan naskah monolog (2008)
Kumpulan pusi pribadi pendiri HTKP (2008)

5 Comments

  1. gustav karo mayat, kepriwe kabare rika? esih kemutan apora gemiyen pungkang pungking nggoleti tungau? heheh komik sing sekang rika esih tek simpen lho…

  2. yah lumayan, banyumas memiliki beberapa pegiat seni, dari pada tidak ada sama sekali. semoga tetap semangat dan pantang menyerah. maju terus.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.