Bendung Peninggalan Belanda Dibangun Kembali

PURBALINGGA – Pembangunan bendung Slinga di desa Slinga kecamatan Kaligondang Purbalingga dimulai September mendatang. Tidak kurang dari Rp 25 miliar digelontorkan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

“Sumber dana dari APBN. Masing-masing Rp 700 juta untuk menyusun DED (detail engineering design). Rp 4 miliar untuk pembebasan tanah dan Rp 18 miliar untuk konstruksi fisik. Pemkab hanya menyediakan tempat dan data pembebasan tanah, teknis dan waktu pelaksanaan seluruhnya diatur pusat,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Purbalingga, Ir Setiyadi Msi, Jum’at (14/8).

Setiyadi menyebutkan saat ini, tengah dilakukan review terhadap DED tersebut. Segera setelah review selesai, pembangunan konstruksi bendung selinga itu bisa dimulai. “Perhitungan kami September 2009 bisa dimulai membangun bendung Slinga,” ujarnya.

Pembangunnya bendung itu untuk menjaga pasokan air irigasi sawah seluas sekitar 1.600 hektar di wilayah kecamatan Kaligondang dan Kemangkon. Di Kaligondang saja, lahan yang membutuhkan pasokan air dari bendung Slinga seluas 480 hektar, tersebar di enam desa.

“Intake (pintu pengambilan air) yang lama akan diganti yang baru dengan posisi sekitar 500 meter hingga seribu meter dari intake lama. Digantinya Intake lama karena sudah tidak mampu lagi memanfaatkan muka air sungai. Imbasnya, air tidak sampai masuk ke saluran air yang tersedia,” ujar Setiyadi.

Saluran irigasi di Slinga dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1920. Semula, sebagian air sungai Klawing mengalir lewat saluran itu dan memasok air ke areal persawahan di kecamatan Kaligondang. Rusaknya lingkungan sungai itu membuat permukaan air sungai Klawing terus menurun sehingga lebih rendah dari dasar saluran irigasi tersebut. Akibatnya, ratusan hektar sawah di dua kecamatan itu tak lagi mendapat pasokan air. Pembangunan bendung Slinga diperlukan untuk mengangkat permukaan air Sungai Klawing, agar bisa mengalir ke saluran irigasi yang sudah ada.

Wacana membangun bendung Slinga sudah muncul sejak awal tahun 2000-an. Karena dana yang dibutuhkan untuk mewujudkannya terlalu besar dan tidak bisa ditampung pada APBD kabupaten Purbalingga, selama bertahun-tahun pembangunan bendung Slinga hanya mejadi wacana. (Banyumasnews.com/pyt)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.