Diknas Banyumas perluas MBS di enam kecamatan

Ditulis 12 Agu 2009 - 18:37 oleh Banyumas1

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Purwadi Santoso, Rabu (12/8) mengatakan dengan Managemen Berbasis Sekolah (MBS) rencana program sekolah lebih transparan, terpajang dan partisipatif.PICT0171
“Selain itu RPS dan RAPBS lebih mengacu pada peningkatan mutu sehingga memiliki efek positif yakni program dari tahun ke tahun mengalami pengembangan dan sisiwa menjadi berani bertanya dan menjawab” Ujar Purwadi saat menghadiri advokasi dan pameran MBS SD/MI di balai desa Karangmangu Banyumas.

Tahun 2009 hingga tahun 2010 menurut Purwadi, dinas pendidikan akan memperluas penerapan MBS ke enam kecamatan yakni Gumelar, Lumbir, Somagede, Ajibarang, Kebasen serta Purwodadi.

Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep desentralisasi pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan dan akses pendidikan dasar serta memberikan wewenang kepada masyarakat dan sekolah untuk mengelola sumberdaya sendiri

Program MBS dilaksanakan dengan beberapa langkah diantaranya manajemen kepala sekolah yang transparan dan penciptaan pembelajaran yang aktif dan kreatif.

“Selama ini terdapat beberapa permasalahan terkait pelaksanaan MBS di wilayah Banyumas yakni pengawas kurang memahami supervisi kritis serta pendampingan kepada guru dalam melakukan pakem serta rolling kepala sekolah serta mutasi,” jelasnya.

Strategi yang akan diterapkan menurut Purwadi yakni dengan membentuk tim Pembina guru, memberikan pelatihan, workshop bagi pengawas.

Sementara Bupati Banyumas Marjoko usai menyerahkan surat pernyataan kesanggupan pelaksanaan program MBS kepada Purwadi menegaskan sekolah perlu menerapkan pelajaran budi pekerti untuk pembentuk karakter siswa.

“Saat ini dibutuhkan pembentukan attitude, behavior sehingga siswa lebih responsif dan sangat toleran karena yang berkembang sekarang adalah sikap sikap yang sangat vulgar,” ungkapnya.

Perwakilan UNICEF Jawa Tengah Dr Taruno yang hadir pada kesempatan itu menjelaskan kerjasama antara UNICEF dan Indonesia terkait MBS akan berakhir pada tahun 2010 mendatang dan tidak ada tanda tanda positif program akan dilanjutkan.

“Indonesia dalam pandangan UNICEF sudah merupakan Negara berpenghasilan menengah karena telah mencapai U$$ 2.000, namun UNICEF tidak serta merta meninggalkan Indonesia melainkan fokus untuk mengembangkan program di wilayah timur seperti Nusa Tenggara dan Irian,” ungkapnya.

Program MBS di tahun 2010 menurut Taruno akan lebih difokuskan pada persoalan monitoring bekerja sama dengan pemerintah daerah, selanjutnya UNICEF akan mundur secara teratur.

Selain diskusi dan penjelasan kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB tersebut juga menampilkan hasil karya guru dan murid dari sekolah sekolah yang menjalankan program MBS serta pertunjukkan seni dari siswa siswi SD Karangmangu dan SD Cilongok (banyumasnews.com/lin)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. pietra 19/08/2009 pukul 16:56 -

    seneng rasanya klo ada program baru…..namun kemudian pekerjaan rutin yang manjedi kewajiban masih keteteran…dan sdm yang perlu dibenahi di dalam dinas sendiri, mohon kinerja aparatur dindik di tingkatkan dalam segala hal. Dan mohon beberapa Pekerjaan Rumah yang pantas di kerjakan di selesaikan…..gimana kaki ..tangan…dan anggotanya bisa maju klo “kepala “Pusing melulu. Dan tolong benahi mental pungli di dindik…yang masih meraja lela…bahkan subur…menjamur.

Leave A Response