Gunung Slamet kembali ’batuk’, pendakian ditutup

Setelah tenang selama hampir setengah bulan, Gunung Slamet kembali ‘batuk’. Gunung terbesar di Pulau Jawa ini mengeluarkan dentuman keras sedikitnya dua puluh kali dalam sehari. Sementara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Pemkab Purbalingga masih menutup jalur pendakian melalui pos Bambangan di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja.

Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Purbalingga, Achmad Sobari membenarkan kondisi Slamet itu. Rabu (12/8) kemarin, ia menghubungi posko pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan Pemalang. “Puncak Slamet masih mengeluarkan lava pijar dan semburan kerikil sehingga tidak aman untuk pendakian,” kata Sobari.

Pemkab Purbalingga masih tetap menutup jalur pendakian gunung Slamet. Kepastian ini ditetapkan berdasarkan hasil konsultasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) dengan Petugas Pos Pengamatan Gunung Slamet Gambuhan Pemalang dan Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terhadap kondisi Gunung Slamet itu.

“Selasa siang kemarin kami telah berkonsultasi dengan Posko Gambuhan dan Badan Vulkanologi dan Mitgasi Bencana Geologi. Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi tidak memberi rekomendasi terhadap pendakian di Gunung Slamet. Karena itu, demi keamanan, kami juga tidak memberi ijin terhadap para pendaki untuk naik ke Slamet ,” tutur Achmad Sobari.

Ahmad Sobari menjelaskan, faktor keamanan para pendaki menjadi pertimbangan yang utama dalam menentukan ditutupnya jalur pendakian tersebut. “Kami sebenarnya telah melakukan pembenahan sarana wiata pendakian dengan membangun shelter di pos II. Tapi sesuai keterangan dari Badan Vulkanologi, puncak Slamet belum aman. Disana masih mengeluarkan lava pijar dan semburan kerikil. Jika mengenai anggota badan bisa melepuh,” tambahnya.

Disbudparpora menyatakan tidak bertanggungjawab apabila ada pendaki yang memaksakan diri naik ke Puncak Slamet pada Peringatan Hut RI ke-64 ini. “Kami tidak bertanggungjawab. Jika ada yang memaksa, resiko ditanggung sendiri,” tandasnya.

Sobari menjelaskan, menjelang Peringatan HUT RI ke-64, sejumlah pendaki dari luar daerah telah banyak yang menanyakan kepastian dibuka atau tidaknya pendakian di Gunung Slamet. Apalagi, sejumlah gunung berapi di Jawa seperti Semeru juga masih dalam kondisi aktif. “Biasanya ada sekitar 2000 pendaki yang ramai-ramai memperingati detik-detik proklamasi di Puncak Slamet. Tahun ini, kami tidak mengijinkan karena cukup berbahaya,” tambahnya.

Ditutupnya jalur pendakian itu secara otomatis mengurangi pendapatan Pemkab purbalingga dari sektor wisata alam pendakian gunung Slamet. Namun, hal itu tidak terlalu bermasalah karena pertimbangan keamanan pengunjung. “Keamanan pengunjung menjadi pertimbangan utama kami,” katanya.
914424094-gunung-slamet-mulai-keluarkan-suara-dentuman
Seperti diketahui, belum lama ini, Gunung Berapi terbesar di Pulau jawa itu berstatus siaga. Baru sekitar satu bulan yang lalu, Badan Vulkanologi telah menyatakan Gunung Slamet kembali normal. Meski demikian, sejumlah warga di lereng Slamet seperti di Desa Serang dan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja kerap mendengar suara dentuman di puncak Slamet yang diikuti dengan mengepulnya asap hitam tebal. (banyumasnews.com/pyt)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.