Penggusuran PKL di Purwokerto diwarnai tangis

Ditulis 08 Agu 2009 - 19:04 oleh Banyumas1

pklSetelah diwarnai histeria dan tangis sejumlah pedagang kaki lima (PKL) akibat penggusuran paksa yang dilakukan oleh satuan polisi pamong praja (Satpol PP) pihak kepolisian dan anggota TNI dari Korem 071 Wijayakusuma, 89 PKL di jalan Jendral Sudirman untuk sementara bersedia direlokasi ke jalan DI Panjaitan.

Penggusuran dilakukan pada Sabtu (8/8) sejak pukul 05.00 WIB dan sempat membuat suasana panik dan tegang karena saat itu sejumlah pedagang tengah menyiapkan barang dagangan mereka.

Saat berlangsung dialog kepala Satpol PP Pemkab Banyumas Nungky HR berjanji untuk menyampaikan keinginan pedagang kepada bupati, dia menjelaskan dua opsi yang ada saat ini adalah merelokasi PKL agar tetap dapat berjualan menjelang lebaran ke jalan DI Panjaitan atau jalan MT Haryono.

“Apakah di jalan DI Panjaitan bisa atau tidak, Insya Allah hari senin depan akan kami rapatkan secara formal, sehingga semua pihak bisa sharing karena yang terjadi sejak awal rencana relokasi dua belah pihak saling menaruh curiga, semoga tidak ada masalah dan pedagang disana mau menerima,” jelas Nungky.

Mungky kemudian menegaskan setelah lebaran usai PKL Jendral Sudirman akan direlokasi ke tempat yang telah ditunjuk dan disepakati yakni di pasar wage atau lantai dua kompleks pertokoan kebondalem.

Sementara Seno Purwata sekretaris paguyuban PKL Jendral Sudirman mengatakan seluruh pedagang akan menunggu janji yang diucapkan kepala satpol PP tersebut, dia mengungkapkan keinginan terbesar mereka adalah dapat bertemu dengan bupati.

Seno mengakui usul pemindahan tempat berdagang ke jalan DI Panjaitan bisa diterima karena sejak tahun 2001 mereka juga terbiasa berdagang di sana , tepatnya sepuluh hari menjelang lebaran.

“Kami akan terus berjuang agar mendapatkan tempat berdagang yang layak, dan akan menolak jika harus berjualan di pasar wage atau lantai dua kebondalem, dampak dari penggusuran ini selama satu minggu pedagang tidak mendapatkan penghasilan sama sekali,” ujarnya.

Sementara Sri Jumiati, seorang penjual baju yang tempat usahanya ikut tergusur menyesalkan tindakan yang dilakukan pemerintah, dia pun kebingungan mencari uang untuk membiayai sekolah anaknya yng duduk di bangku sekolah dasar.

“Penolakan kami tidak sembarangan, alasannya anggaran untuk pembangunan jalan Jendral Sudirman saja belum disahkan oleh anggota dewan, kemudian lokasi di kebondalem atau pasar wage sangat sepi pembeli, sebagai masyarakat asli Purwokerto tentunya saya ingin wilayah ini maju dan menjadi besar,” kata dia. (banyumasnews.com/lin)

Tentang Penulis

Leave A Response