PURBALINGGA – Menyusul pengakuan batik sebagai ‘Indonesia Intangible Cultural Heritage’ atau warisan budaya yang diakui secara dunia melalui lembaga dunia Unesco, kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di jajaran Pemkab Purbalingga diwajibkan mengenakan pakaian batik untuk hari Kamis hingga Sabtu. Sebelumnya, pakaian batik hanya dikenakanpada hari Sabtu. Menyusul kebijakan ini, para perajin batik lokal mulai banjir pesanan.
Kepala Bagian Humas Setda Djoko Triwinarso, Kamis (1/10) mengatakan, kebijakan mengenakan batik juga dimaksudkan dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan produk-produk tenun tradisional khususnya batik khas daerah. “Disamping itu juga untuk mencirikan kekhasan daerah sekaligus untuk meningkatkan daya saing daerah,” kata Djoko.
Djoko menjelaskan, sosialisasi kebijakan mengenakan batik juga telah disampaikan kepada para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) melalui surat Sekda nomor 800/3144 tertanggal 11 September 2009. Dalam surat tersebut dirinci penggunaan pakaian batik untuk pria yakni pakaian atas baju lengan pendektenun tradisional/batik khas daerah dengan motif, warna maupun model bebas dengan memperhatikan etika dan estetika sertalengkap dengan mengenakan atribut kedinasan. Sedang pakaian bawah, celana panjang warna gelap dan memakai sepatu warna hitam.
Untuk karyawati, lanjut Djoko, pakaian atas baju lengan pendek atau panjang tenun tradisional/batikkhas daerah dengan motif, warna maupun model bebas dengan memperhatikan etika dan estetika serta atribut kedinasan. Bagi yang mengenakan kerudung atau berjilbab mengenakan baju lengan panjang dan warna kerudung yang disesuaikan. “Untuk pakaian bawah wanita, mengenakan rok gaun panjang atau celana panjang warna gelap danmemakai sepatu hitam,” jelas Djoko.
Sementara itu menyusul kebijakan penambahan hari pemakaian batik khas lokal, sejumlah counter batik lokal mulai kebanjiran pesanan. Seperti halnya yang dialami counter batikPrada Praba dan Griya Batik Tarto’s di jalan A Yani Purbalingga, serta counter batik Dekranasda di kompleks pasar Segamas. Selain itu, pengrajin batik juga merasakan hal yang sama. Perajin batik di Desa Limbasari, Dagan Kecamatan Bobotsari, serta perajin batik Galuh Kecamatan Bojongsari mulai menambah produksi (banyumasnews.com/tgr)











