<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Setelah 30 tahun, puisi dari Banyumas</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 21:20:10 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Mr Banyumas</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/comment-page-1/#comment-401</link>
		<dc:creator>Mr Banyumas</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 14:38:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4734#comment-401</guid>
		<description>Salah satu hal yang membuat &quot;mandek&quot;-nya sebuah dialog kritis dan cerdas adalah adanya &quot;keberpihakan&quot; pengelola &quot;media dialog&quot;.
Sudah menjadi isu lama dan bukan rahasia lagi bahwa tidak semua &quot;tanggapan&quot; atas sebuah ide atau tulisan di sebuah media, khususnya media cetak, akan dimunculkan oleh redaktur media bersangkutan.
&quot;Keberpihakan&quot; redaktur sebuah media massa untuk memunculkan atau tidak memunculkan tulisan tertentu di halaman yang dia kelola minimal disebabkab oleh:
1. Keterbatasan halaman media.
2. Penilaian &quot;baik-buruk&quot; tulisan itu oleh si redaktur.
3. Keterbatasan &quot;anggaran&quot; media untuk membayar penulis yang tulisannya muncul sebagai sebuah &quot;counter article&quot;.
- Keterbatasan space media, menyebabkan redaktur lebih selektif untuk memuat sebuah tulisan.
- Penilaian &quot;baik buruk&quot; menyebabkan si pengelola hanya menurunkan tulisan-tulisan yang dia anggap baik dan mencampakkan tulisan yang dia anggap &quot;buruk&quot;, meski oleh penulisnya tentu dianggap &quot;baik&quot;. Kadang, sebuah tulisan muncul di media massa hanya karena ada kedekatan emosional antara penulis dan redaktur. Tidak tergantung pada &quot;kualitas&quot; sebuah tulisan.
Ketika penulis menyadari hal itu, mereka kadang sudah berprasangka ketika akan memualai sebuah tulisan &quot;ah ngapain capek-capek, paling juga enggak dimuat&quot;...alih-alih jadi mengirim tulisan ke media, bahkan menulis saja enggak jadi.
- Sementara itu masalah anggaran media untuk membayar para penulis kolom/artikel dsb juga sangat terbatas (dibatasi). Akibatnya, redaktur harus tahu diri untuk menurunkan tulisan-tulisan &quot;produksi sendiri&quot; yang tentu saja tidak menuntut media bersangkutan mengeluarkan &quot;biaya tambahan&quot;.
Saya kebetulan lebih dari 20 tahun berkecipung di media cetak dan karenanya tahu persis bagaimana kondisi psikologis redaktur ketika memutuskan apakah sebuah tulisan &quot;laik&quot; turun atau tidak.
Barangkali itu sekadar &quot;sebuah catatan&quot; dari satu sudut pandang yang bisa jadi tidak tepat atau malah melenceng sekali.
Salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang membuat &#8220;mandek&#8221;-nya sebuah dialog kritis dan cerdas adalah adanya &#8220;keberpihakan&#8221; pengelola &#8220;media dialog&#8221;.<br />
Sudah menjadi isu lama dan bukan rahasia lagi bahwa tidak semua &#8220;tanggapan&#8221; atas sebuah ide atau tulisan di sebuah media, khususnya media cetak, akan dimunculkan oleh redaktur media bersangkutan.<br />
&#8220;Keberpihakan&#8221; redaktur sebuah media massa untuk memunculkan atau tidak memunculkan tulisan tertentu di halaman yang dia kelola minimal disebabkab oleh:<br />
1. Keterbatasan halaman media.<br />
2. Penilaian &#8220;baik-buruk&#8221; tulisan itu oleh si redaktur.<br />
3. Keterbatasan &#8220;anggaran&#8221; media untuk membayar penulis yang tulisannya muncul sebagai sebuah &#8220;counter article&#8221;.<br />
- Keterbatasan space media, menyebabkan redaktur lebih selektif untuk memuat sebuah tulisan.<br />
- Penilaian &#8220;baik buruk&#8221; menyebabkan si pengelola hanya menurunkan tulisan-tulisan yang dia anggap baik dan mencampakkan tulisan yang dia anggap &#8220;buruk&#8221;, meski oleh penulisnya tentu dianggap &#8220;baik&#8221;. Kadang, sebuah tulisan muncul di media massa hanya karena ada kedekatan emosional antara penulis dan redaktur. Tidak tergantung pada &#8220;kualitas&#8221; sebuah tulisan.<br />
Ketika penulis menyadari hal itu, mereka kadang sudah berprasangka ketika akan memualai sebuah tulisan &#8220;ah ngapain capek-capek, paling juga enggak dimuat&#8221;&#8230;alih-alih jadi mengirim tulisan ke media, bahkan menulis saja enggak jadi.<br />
- Sementara itu masalah anggaran media untuk membayar para penulis kolom/artikel dsb juga sangat terbatas (dibatasi). Akibatnya, redaktur harus tahu diri untuk menurunkan tulisan-tulisan &#8220;produksi sendiri&#8221; yang tentu saja tidak menuntut media bersangkutan mengeluarkan &#8220;biaya tambahan&#8221;.<br />
Saya kebetulan lebih dari 20 tahun berkecipung di media cetak dan karenanya tahu persis bagaimana kondisi psikologis redaktur ketika memutuskan apakah sebuah tulisan &#8220;laik&#8221; turun atau tidak.<br />
Barangkali itu sekadar &#8220;sebuah catatan&#8221; dari satu sudut pandang yang bisa jadi tidak tepat atau malah melenceng sekali.<br />
Salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
