Kesadaran Sebagian Pendaki Rendah, Gunung Slamet Dipenuhi Sampah

Ditulis 29 Des 2013 - 16:00 oleh Yit BNC

PURBALINGGA (BNC) – Kesadaran sebagian pendaki Gunung Slamet dalam membuang sampah masih terbilang rendah. Sepanjang jalur pendakian melalui pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga (Jateng) masih ditemukan sampah. Kebanyakan sampah berupa bungkus permen yang berada hampir di setiap jalur, kemudian bekas bungkus mie instant dan botol bekas minuman air mineral.

            Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga,  Ir Prayitno, M.Si mengungkapkan, peringatan kepada para pendaki untuk membawa turun kembali sampah yang dihasilkan selama pendakian, tidak selamanya dipatuhi. Biasanya para pendaki pemula, bukan dari kelompok pecinta alam.

“Mereka mungkin masih beranggapan, jika hanya meninggalkan sedikit sampah tidak akan berpengaruh di pegunungan. Namun, jika banyak pendaki yang beranggapan demikian, tentunya sepanjang jalur pendakian akan dipenuhi sampah. Apalagi kebanyakan berupa sampah an-organik seperti plastik yang sulit terurai,” kata Prayitno disela-sela melakukan pemantauan pendakian di Posko Bambangan, Minggu (29/12/2013). Pos Pendakian Bambangan menjadi bagian dari pariwisata minat khusus yang dikelola Pemkab Purbalingga bersama Tim SAR desa setempat.

Dikatakan Prayitno, beberapa kelompok pecinta alam telah melakukan gerakan bersih gunung. Sebelumnya juga pernah dari anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang melakukan kegiatan itu. Pekan lalu, Forum Silahrutahmi Relawan Peduli Lingkungan yang bermarkas di Purwokerto melakukan gerakan bersih gunung. “Dalam kegiatan itu setidaknya dibawa turun 57 kantong trashbag berisi sampah. Setiap kantong rata-rata berisi 15 – 20 kilogram sampah. Sampah itu dibawa dari sepanjang jalur pendakian,” ujar Prayitno.  

Menurut Prayitno, sampah yang dibawa para relawan peduli lingkungan kebanyakan berasal dari pos pendakian I, Pos V dan Pos VII.  Relawan tersebut juga terpaksa membongkar tempat sampah sederhana dari bambu yang berada di pos I. Keberadaan tempat sampah di jalur pendakian sama saja mengijinkan pendaki membuang sampah disitu, padahal yang diharapkan Gunung Slamet harus bersih dari sampah. Sampah itu juga tidak ditimbun, karena justru bisa mencemari tanah.

“Sampah yang terkumpul di pos Bambangan memang harus dibawa turun ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kami akui, di pos Bambangan belum ada tempat sampah permanen dalam ukuran besar untuk menampung sampah yang dibawa pendaki. Biasanya setelah terkumpul banyak, baru dibuang ke TPA dengan menggunakan kendaraan,” ujarnya.

Prayitno mengatakan, banyaknya sampah di jalur pendakian Bambangan karena jalur ini merupakan jalur favorit bagi pendaki pemula maupun pendaki ulung. Semakin ramainya wisata minat khusus pendakian gunung Slamet melalui jalur ini tentunya berdampak pada meningkatkan volume sampah yang dihasilkan.

“Aktifitas vandalisme atau perusakan lingkungan dengan membuang sampah tentunya menjadi penyumbang kerusakan lingkungan di Gunung Slamet. Memang tidak semua pendaki membuang sampah, dan mereka memilih menyimpan sampah di ransel untuk dibawa turun. Namun, komposisi pendaki yang peduli lingkungan, dibanding pendaki yang tidak peduli, atau belum peduli jumlahnya, jumlahnya jauh lebih sedikit,” katanya.

Dikatakan Prayitno, jalur Bambangan menjadi favorit karena merupakan jalur pendakian dengan medan yang relatif mudah dibanding jalur pendakian Baturaden, jalur Guci Tegal maupun jalur pendakian melalui wilayah Pemalang. Jalur Bambangan akan semakin ramai pada waktu tertentu seperti malam pergantian tahun, saat HUT RI pada Agustus atau musim liburan kuliah atau sekolah. “Pendaki pada malam pergantian tahun baru, seperti tahun lalu, bias mencapai 1.000 pendaki. Jika cuaca bersahabat dan tidak turun hujan lebat atau badai, pada pergantian tahun 2014 pekan depan diperkirakan juga ramai pendaki,” kata Prayitno.

Prayitno menambahkan, Relawan Peduli Lingkungan yang beranggotakan sejumlah komunitas pecinta alam dan pendaki dari Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Banyumas dan sejumlah wilayah lain, sudah menginformasikan akan banyak pendaki yang akan naik ke puncak Gunung Slamet (3.428 meter diatas permukaan laut), pada malam tahun baru 2014.

“Bahkan ada dua pendaki dari Kanada yang akan dipandu oleh relawan tersebut untuk menuju puncak. Selain itu, pada 11 – 12 Januari 2014 juga akan dilakukan kembali kegiatan bersih gunung,” tambahnya. (BNC/tgr)

relawan peduli lingkungan bersihkan sampah gunung Slamet

Ket foto :

PEDULI SAMPAH : Forum Silahturahmi Relawan Peduli Lingkungan di depan pondok pemuda Pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, sesaat sebelum mendaki Gunung Slamet untuk membersihkan sampah. (Dok : Relawan Peduli Lingkungan)

Tentang Penulis

Leave A Response