Paseduluran Tanpa Tepi, Membangun Persaudaraan Tanpa Batas

Paseduluran tanpa tepi6

PURBALINGGA – Berawal rasa kerinduan akan kebersamaan yang tidak dibatasi apapun, lahirlah sebuah perkumpulan yang disebut sebagai ‘Paseduluran Tanpa Tepi’. Tidak ada batasan siapa yang mau bergabung dengan komunitas ini. “Siapapun boleh ikut bergabung, tidak ada batasan warna kulit, suku, agama, ras, dan pandangan politik. Yang penting bisa saling menghargai dan menghormati untuk membangun persaudaraan bersama,” ujar Drs Jarot Sopan Riyadi, Sabtu (14/12/2013) malam di pendapa Dipokusumo.

            Pertemuan putaran kesembilan, Paseduluran Tanpa Tepi, terasa lebih istimewa. Selain digelar di Pendopo dengan dihadiri Wakil Bupati Sukento Ridho Marhaendrianto, dan jajaran Muspida, pertemuan kali ini sekaligus untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-183. Tema yang diangkat ‘Memperteguh Keindonesian Kita, Mulai dari Purbalingga;.

            Jarot yang memulai mengantarkan pertemuan itu mempertegas, Paseduluran Tanpa tepi digagas di Pondok pesantren Annakhal Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari, Purbalingga yang dipimpin Kyai haji Fikron Ali Sofyan. “Semangat yang kami bangun adalah semangat kebersamaan sesame maklhuk yang dilandasi kebhinekaan. Tidak ada ketua atau pengurus yang ditunjuk, pertemuan juga hanya berdasar kesepakatan. Intinya, untuk menjalin persaudaraan tanpa ada sekat-sekat suku, agama, ras, warna kulit atau pandangan politik. Semuanya satu kesatuan, satu persaudaraan, warga masyarakat Purbalingga,” ujar Jarot yang juga staf ahli Bupati Purbalingga bidang hokum dan politik.

            Wakil Bupati Sukento Ridho Marhaendrianto mengharapkan, Paseduluran Tanpa Tepi mampu mewarnai masyarakat Purbalingga dengan membrikan contoh suasana yang damai dan tenteram. Persaudaraan perlu terus dibangun, karena melalui persaudaraan mampu menciptakan rasa saling menghargai, memahami perbedaan, dan selanjutnya jika sudah saling menghargai maka akan bias saling bekerjasama.

“Jika saling menghargai, maka kita akan berpikir, berkata, bertindak, yang arif dan bijaksana dan selanjutnya akan membawa suasana aman dan damai di Purbalingga,” pinta Sukento.

            Sementara itu dalam dialog yang dipandu Drs Akhmad Khotib, M.Pd, mantan Ketua PCNU Purbalingga yang kini menjabat Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga menghadirkan pembicara Romo Dimas (Gereja Katolik), Pendeta Rudiarto Budi Prasetyo (Gereja Kristen Jawa), dan Kyai Haji Fikron Ali Sofyan. Peserta hadir dari berbagai lintas agama, penganut aliran kepercayaan, dan penganut Islam Aboge. Ikut menghangatkan suasana, paduan suara dari GKJ Purbalingga.

Kehidupan Semu

            Romo Dimas mengatakan, manusia yang hidup dalam suatu komunitas tertentu, seringkali tidak menghayatinya. Kehidupan berkomunitas jika dihinggapi rasa ketakutan, maka akan menjadi kehidupan yang semu. “Jika komunikasi kurang, maka yang ada rasa kecurigaan. Oleh karenanya, didalam sebuah komunitas harus dibangun dengan guyub (rukun), saling menghargai perbedaan, dan menjalin persaudaraan,” ujar Romo Dimas.

            Kyai Fikron mengungkapkan, melakukan pertemuan untuk menjalin persaudaraan sejatinya mengulang sebuah kebaikan. Ibarat seperti sumurm jika digali terus maka airnya akan mengalir, Kebaikan harus terus digali agar terus terjalin rasa persaudaraan. Membangun persaudaraan harus dimulai dari paseduluran. Kebaikan yang tidak berlanjut tetap jadi kebaikan, kejelekan yang tidak berlanjut justru akan menjadi kebaikan. “Sayangnya, di Indonesia yang lebih sering disorot justru hal-hal keburukan, ketimbang kebaikan,” kata Kyai Fikron.

            Sementara pendeta Rudiarto Budi Prasetyo mengatakan, Indonesia yang terdiri belasan ribu pulaum ratusan aliran, dan enam agama resmmi yang diakui pemerintah, haruslah berpegang pada Bhineka Tunggal Ika.Sejak abad 14 sudah muncul toleransi kehidupan beragama. “Namun, kenapa sekarang yang dirasakan justru kegalauan dalam kehidupan beragama, Ujar Rudiarto setengah bertanya.

            Rudiarto mengutip Kidung Pasamuan Kristen Anyar (KPKA) nomor 319 yang berjudul ‘Endahe Saduluran’ (Indahnya Persaudaraan). “Endahe saduluran manut rehing Pangeran, sami dene ngajeni, wah mbiyantoni nadyan beda agama wah beda golongannya tunggal rasa pambekan pri kamanungsan (Indahnya persaudaraan berasal dari Tuhan, saling menghargai, saling membantu meski beda agama, beda golongan. Satu rasa peri kemanusiaan). Keberagaman jika dilandasi rasa pengertian terhadap pihak lain, maka Indonesia akan damai,” ujarnya.

            Suasana malam pertemuan yang diwarnai hujan itu juga menyuguhkan lagu berjudul ‘Rebana” yang menggambarkan keberagamanm lagu ‘Suara Pengharapan’ , lagu pengharapan agar kita bias mencapai satu tujuan, meski kadang ada rasa kegalauan, tetapi tetap ada pengharapan. Dan Lagu Indonesia Jaya, yang menggambarkan jika kita hidup dilandasasi persaudaraan yang kuat, maka Indonesia akan terasa damai, dan Indonesia menjadi jaya.

            Acara diakhiri dengan melanjutnkan lagu Kemesraan sembari seluruh peserta bergandengan tangan. Tidak ada sekat antar agama, suku, rasa maupun golongan. Semua terasa semakin mesra. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.