Memey Penderita ODHA : Saya Tak Ingin Kehilangan Anak

Ditulis 26 Des 2013 - 19:16 oleh Yit BNC

memey2

Pada dasarnya semua semua orang di dunia ini beresiko untuk terkena HIV AIDS (ODHA), dari anak-anak sampai orang dewasa, tidak juga pejabat ataupun rakyat jelata, ibu rumah tangga dan seorang dokter karena  virus HIV-AIDS itu tidak pernah pandang pilih. Suatu gambaran seorang ibu rumah tangga, yang taat, menanti suaminya pulang, namun ibu tersebut dapat terjangkit, karena suaminya sering bertindak,  “sering berpergian jajan dan membawa oleh-oleh virus”. Atau sebaliknya suaminya yang setia dan bekerja diluar kota, dan jarang pulang untuk menafkahi keluarganya, ternyata istrinya dirumah selingkuh. Ataupun bayi yang terkena HIV yang menyusu ibunya yang positif HIV, diakibatkan karena bapaknya yang jajan disembarang tempat.  Dan itu merupakan gambaran bahwa semua orang beresiko tertular HIV AIDS.

Sepengal paragraf diatas merupakan gambaran kenapa semua orang bisa terkena virus HIV AIDS, dan tidak semua orang dengan ODHA berprilaku tidak baik, contohnya seperti ibu-ibu yang taat, dan anak-anak yang tak berdosa, dan termasuk saya sendiri ungkap Memey salah seorang ODHA asal Kabupaten Temannggung pada saat memberikan testimoninya pada acara memperingati Hari AIDS se dunia (1/12)

Memey adalah satu dari sekian ribu orang Indonesia yang menjadi korban penjualan manusia (human trafficking) yang dijual, dan dilacurkan yang akhirnya menjadi penderita ODHA. Memey sebagai penderita ODHA diawali oleh cerita yang sangat memperihatinkan.  Memey dilahir pada tanggal 17 Juli 1984, dia adalah anak ketiga dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat kekurangan, orang tuanya dengan susah payah berjuang menghidupi keenam orang anaknya. Melihat kondisi tersebut Memey memutuskan tidak untuk bersekolah dan hanya lulus sekolah dasar. Berbekal ijasah SD, Memey memberanikan dirinya untuk merantau ke Jakarta menjadi pembantu rumah tangga. Pada waktu itu masih sangat kecil, sekitar umur 12-an tahun, dan keinginan ini merupakan gugahan seorang anak  untuk bisa membantu orang tua dan membiayai adik-adik saya untuk bisa bersekolah.

Tahun 2004 menurut Memey merupakan awal kehidupan yang sebenarnya, pada tahun ini dirinya menikah dengan orang Surabaya. Namun kebahagiaan hidup berumah tangganya tidak berlangsung lama, pada usia kehamilan umur enam bulan suami yang dicintainya meninggalkannya karena tergoda dengan eloknya rumput tetangga.  Dalam situasi hamil besar kemudian Memey pulang ke orang tua dan melahirkan tanpa suami.

Dengan situasi keluarga tidak mampu dan mempunyai anak,  membuat Memey tidak bisa berdiam diri, dan kepengin bekerja lagi. Suatu ketika ada sesorang menawarkan pekerjaan untuk bekerja diluar negeri dengan tangan terbuka dia pun menyambut gembira. Dalam hatinya bertekad membantu kedua orang tua dan membesarkannya buah hatinya, dan alhasil Memey pun bisa berangkat ke luar negeri yakni ke Kuching, Malaysia. Namun apa yang terjadi? Bukannya bekerja sebagai pembantu rumah tangga namun Memey dijadikan PSK.  “Saya dijual, saya dilacurkan, saya disiksa secara bathin dan lahir, secara fisik dan psikologis, dan itu membuat saya tidak percaya diri dan batinku hancur.” isak Memey

Pada tahun 2006, Memey diselamatkan oleh sebuah lembaga IOM (International Organization for Migration), pada saat itu juga dia  diminta untuk tes HIV dan hasilnya adalah adalah positif. Pada saat divonis positif HIV, dalam hati Memey ada perasaan untuk berontak, protes dengan yang menciptakannya, Memey berteriak di depan dokter yang membuka hasil tesnya. “Kenapa harus saya? kenapa bukan yang lain?” teriaknya.

“Saya ihklas ketika saya dilahirkan dari keluarga tidak mampu, saya ihklas ketika kehilangan masa kecil saya untuk bekerja membantu orang tua, dan saya ihklas ketika menikah dan saya ditinggalkan oleh suami ketika pada situasi hamil. Dan saya pun masih ihklas ketika saya masih dijual, seperti binatang, dilacurkan, tapi satu hal yang saya menolak dalam diri saya  kenapa  saya harus pulang,  tertular infeksi virus HIV  dimana letak kesalahan saya ya Allah yang saya katakana pada saat itu. Apakah saya salah ketika saya harus memutuskan untuk berbakti kepada orang tua saya, apakah salah seorang ibu meninggalkan anaknya demi untuk menghidupi anaknya.” Kata Memey dengan penuh penyesalan

Hampir 2 tahun Memey menyimpan erat-erat status ODHA dari orang lain termasuk kedua orang tua pun tidak tahu. Namun pada suatu ketika kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan muncul dalam diri nya yakni pada saat memandangi anak pertamanya,  naluri seorang ibu membawanya tidak boleh menyerah. “Jika saya menyerah dan anak saya yang sudah kehilangan ayahnya, masa mau kehilangan ibunya juga”. Dari itu mulai Memey mulai bangkit, untuk mencari informasi tentang HIV, tak mengenal capai bolak-balik ke salatiga. Karena pada tahun 2006 di Kabupaten Temanggung belum ada layanan untuk ODHA, belumada kelompok pendampingan serta kepedulian masyarakat belum ada.

“Pada saat inilah saya mulai merasakan, kekuatan Allah yang maha kuasa yang telah memberikan ujian kepada saya dan itu yang membuat saya dewasa dan agar mampu menghadapi kehidupan kedepannya.” sambil menghela nafas  

Semenjak aktif mengikuti pelatihan-pelatihan, kemudian mulai banyak lembaga-lembaga yang peduli dan mulai mengikutsertakan Memey pada kegiatan pelatihan, semina-seminar dan sebagainya.  Pada tahun 2008 Memey mencetuskan untuk membentuk sebuah kelompok dukungan sebaya di Temanngung yang beri nama smile plus. Dari komunitas ini langkah memey semakin nyata untuk membantu, merangkul, membangkitkan, memotivasi, mendampingi ODHA untuk mendapatkan hak pelayanan bahkan sampai mereka melahirkan dan sampai ada yang meninggal dalam situasi sakaratul. “ Dari kegiatan komunitas ini semakin tumbuh rasa percaya saya kepada Allah bahwa saya harus melewati ujian-ujian tersebut,  saya mulai mulai mengerti, dan saya merasa dipilih agar bisa bermanfaat untuk orang lain”

Kiprah Memey dalam memperjuanghkan ODHA bukan hanya sebatas di komunitas saja, namun lewat gerakan menuntut pemerintah Kabupaten Temangung untuk membuka layanan bagi penderita ODHA dan pada tahun 2009 Pemkab Temanggung membuka pelayanan ARM dan sampai saat ini pelayanannya telah menjadi klinik percontohan di Jawa tengah.

Lewat kiprahnya pula pada tahun 2011 yang lalu Memey menjadi nominasi penghargaan ODHA yang paling aktif dan bisa memberdayakan orang lain, ODHA mampu berdiri tegak, dan mengatakan bahwa dia ODHA dan membuktikan bahwa ODHA mempunyai kesempatan  yang sama dengan yang lainnya. Dan pada tahun 2012 Memey  mendapat penghargaan  sebagai duta trafick king dan HIV AIDS dalam forum PPB di Vina Austria. Dari pengalaman nya yang tragis ini kemudian di buatkan Film dan telah di lounching di tahun 2012.

“Suatu kebanggaan dan saya mulai bersyukur dengan adanya Virus dalam tubuh saya, saya menjadi paham arti kehidupan, lebih bisa menikmati indahnya berbagi, dan saya berpesan kepada semua orang yang telah melakukan hubungan yang beresiko agar bisa sedini mungkin untuk memeriksakan diri agar tidak sampai jatuh sakit atau menularkan kepada orang-orang yang kita cintai” pungkas Memey  (BNC/dy)

Tentang Penulis

Leave A Response