Kegagalan panen di Purbalingga capai 11,64 Persen

Akibat penanganan pasca panen yang kurang baik, tingkat kehilangan hasil panen padi masih terbilang tinggi. Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Purbalingga mencatat, tingkat kehilangan ini mencapai angka 11,64 persen. Selain persoalan kehilangan hasil panen ini, permasalahan lain yang muncul dalam budidaya pertanian yakni kekeringan dan serangan hama penyakit tanaman.Panen perdana dilakukan oleh Bupati drs H Triyono Budi Sasongko, M.Si.

Kepala Dispertanhut Purbalingga Ir Lily Purwati disela-sela panen padi perdana pada Kelompok Tani Dwi Waringin, Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Sabtu (1/8). mengatakan.persoalan kehilangan hasil panen ini akan terus ditekan serendah mungkin dengan melakukan perbaikan penanganan pasca panen antara lain melalui pemberian bantuan terpal plastik,” kata

Persoalan yang masih dihadapi petani saat ini adalah dampak kekeringan. Meski secara keseluruhan kekeringan belum mempengaruhi produksi pertanian khususnya padi, namun persoalan ini menjadi ancaman dan harus segera disikapi. ”Untuk tanaman yang puso atau rusak akibat kekeringan kami atasi dengan melakukan rehabilitasi tanaman, dan
disisi lain dengan meminta dukungan dana melalui bantuan bencana alam,” kata Lily tanpa menyebut berapa luas lahan sawah yang mengalami kekeringan.

Data di Dispertanhut menyebutkan, sasaran produksi padi di Purbalingga pada tahun 2009 ini sebanyak 191.057 ton
dengan produktifitas 60,14 ton per hektar. Sasaran produksi jagung sebesar 43.862 ton dengan produktifitas 45,90 kuintal/ha, dan sasaran produksi kedelai 984 ton dengan produktifitas 15,42 kuintal per hektar.

Upaya untuk mencapai sasaran ini dicapai melalui dukungan anggaran APBN, Sekolah Lapang
Pengendalian Tanaman Terpadu (SL-PTT) khususnya untuk padi non hibrida seluas 11.040 hektar yang tergabung dalam 368 unit,

kemudian bantuan langsung benih unggul padi hibrida untuk lahan seluas 700 hektar, dan dukungan APBD provinsi untuk padi non hibrida seluas 1.000 hektar, padi hibrida 900 hektar, dan jagung hibrida 150 hektar” tambah Lily.

Sementara itu Bupati Drs H Triyono Budi Sasongko, M.Si usai melakukan panen padi perdana menyampaikan
apresiasinya atas jerih payah petani yang disebutnya sebagai  pejuang pangan bangsa Indonesia. Keberadaan petani semakin hari semakin penting karena memegang kekuatan pangan di Indonesia. Oleh karenannya, kalangan generasi muda perlu meneruskan pendahulunya bertani dengan menerapkan teknologi pertanian yang maju.

Dalam kesempatan panen padi tersebut, Bupati Triyono memberikan bantuan uang tunai untuk koperasi kelompok Dwi
Waringin sebesar 4 juta, bantuan kepada grup musik calung dan band di desa Toyareka masing-masing Rp 1 juta. Secara spontan pula Bupati memberikan hadiah uang tunai kepada lima orang pemenang yang menebak tepat hasil ubinan panen padi tersebut masing-masing Rp 100 ribu

Bupati Triyono juga mengakui, lahan pertanian produktif semakin hari semakin berkurang seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan bergesernya sektor pertanian ke sektor industri. ”Pemkab akan selektif memberikan ijin pengalihan lahan produktif untuk kepentingan lainnya misalnya perumahan dan bangunan pabrik. Selektifitas ini bisa diwujudkan panen padi toyareka4pula dengan pemberian kompensasi membangun jaringan irigasi baru untuk membuka lahan pertanian yang hanya mengandalkan air hujan,” kata Bupati Triyono(banyumasnews.com/pbg)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.