Game Online Turunkan Minat Baca Anak

Ditulis 29 Mei 2013 - 23:56 oleh Nanang BNC

PURBALINGGA (BNC) Playstation (PS) atau Game Online  yang sudah merambah sampai ke perdesaan semakin menurunkan minat baca anak-anak. Padahal, sebelum minat baca anak-anak memang sudah rendah.

“Kalau anak-anak SD itu masih senang membaca. Masuk SMP menurun, masuk SMA semakin menurun. Semua karena pergaulan. Anak-anak lebih suka main playstation dan game on line,” ujar Rr Hendarti SSos, seorang pustakawan Perpustakaan Desa Muntang Kecamatan Kemangkon usai mengikuti Pembukaan Bimbingan Teknis Bagi Pengelola Perpustakaan Desa di Graha Srikandi, Senin (27/5).

Untuk meningkatkan minat baca anak-anak di desanya, Juara 1 Pengelola Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten Purbalingga ini mengatakan pihaknya memberikan hadiah bagi mereka yang telah melakukan 10 kali kunjungan, 20 kali kunjungan hingga 100 kali kunjungan, tanpa harus meminjam.

“Kalau 10 kali kunjungan saya kasih bollpoint, 20 kali kunjungan saya kasih buku, 30 kali dapat penggaris 1 set, 40 kali kasu kaki, dan seterusnya sampai 100 kali saya kasih tempat pensil. Alhamdulillah cukup efektif. Tadinya pengunjung hanya puluhan per bulannya, sekarang bisa smapau ratusan per bulannya,” paparnya bangga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Imam Subijakto SSos MSi saat memberikan sambutan selaigus membuka bintek mengatakan pustakawan memang harus kreatif untuk turut meningkatkan minat baca terutama di kalangan generasi muda. Sebab, anak-anak Indonesia secara umum relative rendah kreatifitas dan intelejensia karena kurangnya membaca.

“Makanya pustakawan atau pengelola perpustakaan harus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan seputar perpustakaan. Sehingga perpustakaannya nyaman, mudah dalam mencari buku yang diinginkan. Promosi juga harus gencar. Ini memang tantangan berat bagi pengelola perpustakaan,” jelasnya.

Kepala Seksi Perpustakaan Mahmudah SPd MM mengakui menumbuhkan minat baca generasi muda memang tak mudah. Sejak perpustakaan daerah berdiri, pengunjungnya selalu saja orang –orang yang sama dari tahun ke tahun dan hanya berkisar ratusan kunjungan per bulannya. Bahkan jika pihaknya aktif menjemput pembaca dengan perpustakaan keliling ke perdesaan, tetap sepi peminat.

“Seperti dalam perekaman e-KTP beberapa waktu lalu. Itu kan banyak sekali orang ya. Tapi yang baca paling-paling cuma satu dua. Yang paling ramai kalau kita mengunjungi TPQ atau Madrasah Diniyah. Lah anak-anak kecil ini masih suka membaca,” katanya.

Untuk meningkatkan kualitas para pengelola perpustakaan, sejak 2009 tiap tahun Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) selalu menggelar bintek dengan sasaran yang berbeda-beda. Mulai dengan peserta dari kalangan pustakawan sekolah (SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA) hingga pengelola perpustakaan desa, seperti yang digelar kali ini di Graha Srikandi selama tiga hari berturut-turut dari 27 – 29 Mei 2013. Para pembicara selain dari KPAD, juga mendatangkan pakar dan praktisi dari provinsi dan dan akademisi.

Dalam kegiatan ini juga disampaikan penyerahan hadiah kepada para pemenang Lomba Pengelolaan Perpustakaan Desa Tahun 2013. Juara 1 dimenangkan oleh RR Hendarti dari Muntang Kemangkon, Uswatun Khasanah dari Kalitinggar Kidul dan Sudiyem dari Desa/ Kecamatan Kejobong. Masing-masing juara selain mendapatkan piala dan piagam, juga menerima uang pembinaan senilai Rp 2,5 juta untuk juara 1, 1,25 juta untuk juara 2 dan 750 ribu untuk Juara 3. (din)

Tentang Penulis

Leave A Response