Emansipasi Jangan Kesampingkan Keluarga

Ditulis 23 Apr 2013 - 16:52 oleh Nanang BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
87
Dalam Tag


PURBALINGGA (BNC) – Wakil Bupati Drs H Sukento Ridho
Marhaendrianto MM mengatakan Indonesia beruntung
memiliki sosok Kartini yang memperjuangkan emansipasi
perempuan. Tapi di sisi lain, Wabup juga prihatin jika
banyak anak kurang perhatian dan pengawasan orang tua
karena selain bapak, ibunya juga sibuk bekerja.
“Saya prihatin sekali membaca berita koran hari ini,
anak 15 tahun dari Candinata bisa mencabuli lima anak
di bawah umur. Saya menduga, anak ini banyak menonton
tayangan-tayangan porno tanpa sepengetahuan orang
tuanya,” tutur Wabup saat memberikan sambutan dalam
Peringatan Hari Kartini ke-134 di Puskesmas Bojongsari,
Senin (22/4).
Wabup mengatakan hal ini bukan serta merta karena
semakin meluasnya emansipasi perempuan. Tapi pihaknya
juga tidak menutup mata, besarnya pengaruh ibu dalam
perkembangan anak-anak. Sehingga, sangat berbeda
perkembangan anak yang mendapat pengasuhan ibu dengan
yang tidak.
“Kadang saya ingin sekali meminta perusahaan agar
pekerja perempuan di pabrik-pabrik itu jangan sampai
lembur. Agar anak-anak mereka mendapatkan haknya akan
kasih sayang ibunya,” jelasnya.
Tapi, pihaknya mengalami dilema. Di satu sisi, fenomena
pesatnya industri rambut dan bulu mata palsu
menimbulkan berbagai masalah. Salah satunya, semakin
minimnya anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan
kasih sayang ibunya. Di sisi lain, diakui atau tidak,
perkembangan industri cukup banyak membantu mengatasi
masalah kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran.
“Ada 60 ribu pekerja. Anggap setiap mereka bergaji 1
juta. Jadi setahun itu ada 720 triliun uang yang
mengalir dan berputar di Purbalingga. Hampir sama
dengan APBD Purbalingga. Saya agak khawatir, jika yang
720 triliun ini dihentikan, angka kemiskinan yang
tadinya sekitar 24 persen akan semakin naik menjadi
lebih dari 30 persen. Akan semakin banyak warga yang
kembali jatuh miskin,” ungkapnya.
Fenomena ibu bekerja di luar rumah, kata dia, memang
menjadi sesuatu yang kerap menjadi bahan diskusi. Anak
-anak bermasalah seringkali dikait-kaitkan dengan
minimnya perhatian dan kasih sayang kedua orang tua,
khususnya ibu. Peran ibu tak bisa dilepaspisahkan
dengan anak, karena ikatan emosional yang terjalin
sejak dalam kandungan dan masa menyusui.
“Ada fenomena menarik. Karena kesibukannya, seringkali
para orang tua yang merasa bersalah pada anaknya,
sellau berusaha memenuhi keinginan anaknya, termasuk
jika anak minta hp. Sayangnya, anak-anak ini kadang
memanfaatkan hp untuk menonton video porno,” ujarnya
prihatin.
Wabup meminta semua pihak untuk ikut mencari jalan
keluar dari persalahan yang saling berkaitan ini.
Bagaimana agar perempuan tetap bisa terpenuhi hak-
haknya, anak-anak juga terpenuhi hak-haknya, sehingga
kriminalitas dan pergaluan bebas di kalangan generasi
muda bisa diminimalkan. (BNC/ice)

Tentang Penulis

Leave A Response