Korban Tewas Penambang Emas Gumelar terus Berjatuhan, Aparat Tutup Mata?

Ditulis 24 Jan 2013 - 03:02 oleh Nanang BNC

BANYUMAS (BNC): Lagi-lagi penambangan emas di Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas , Jawa Tengah memakan korban. Kali ini korban bernama Sudarwo (22) warga Rt 03/ 04 Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar. Korban tewas dalam perjalanan menuju RSUD Ajibarang.

Menurut keterangan, korban saat itu , Senin (22/01) sedang menambang emas di lubang milik Usmar. Belum diketahui secara pasti, tiba tiba terdengar suara minta tolong dari korban yang sedang berada di lubang. Korban kemudian dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit.

Terjadi ketegangan antara keluarga korban dengan aparat saat korban akan dioutopsi. Keluarga menolak di visum, namun aparat tetap melakukannya karena untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

” Sudah menjadi tradisi mas, kalau ada korban tewas pihak keluarga langsung menutup-nutupi, pihak keluarga mungkin takut sama pemilik lubang,” ujar sumber di Paningkaban .

Kematian Sudarwo merupakan yang kesekian kalinya menjadi korban atas penambangan emas ilegal di desa tersebut> Meski begitu, hingga kini tak ada upaya apapun baik dari pemerintah maupun aparat terkait mengatasi hal tersebut. Selain memakan korban, penambangan emas dianggap telah merusak lingkungan dan mengancam longsornya tanah di areal lokasi tersebut.

seperti diketahui sebelumnya pada Senin 03 Serptember 2012 kecelakaan juga  menimpa Warsono (34) warga Rt 06 Rw 08 Dusun Ratadawa Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar. Korban tewas tertimbun tanah galian yang hendak diangkat ke atas. Saat itu korban baru saja menyelesaikan galian dan memasukannya ke dalam karung.

Saat karung di kerek ke atas, korban mengikuti naik. Tiba tiba karung pecah dan tanah tersebut menimpa korban hingga akhirnya korban terjatuh ke dalam lubang. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Ajibarang. Namun pihak rumah sakit setempat tak sanggup karena luka yang parah di bagian kepala dan leher belakang. Pria yang telah memiliki dua anak dan baru bekerja sebagai penamabnag selama sebulan ini dilarikan ke RSUD Margono Soekaryo Purwokerto. Namun dalam perjalanan korban menghembuskan nafas terakhir.

Menurut warga pada beberapa pekan sebelumnya seorang penambang bernama Narso (43) warga Dusun Karangalang Desa Paningkaban . ” Korban tidak tewas tertimbun, namun diduga karena kelelahan. Begitu naik ke atas merasa pusing pusing dan meninggal secara mendadak, ” ujar seorang warga setempat. Beberapa waktu sebelumnya Sabtu 04 Desember Tahun 2011 Taryono (34) seorang penambang tewas di dalam lubang galian. Korban diduga mengihirup racun yang ada di lubang sedalam 25 meter tersebut.

Menurut keterangan sejumlah warga, lubang galian emas tersebut sudah dua pekan ditutup, karena pemilik sedang menggelar hajatan. Saat kegiatan penambangan akan dimulai lagi, seorang pekerja berusaha membersihkan air dan tanah yang ada di dalam lubang tersebut. Namun tanpa diduga, tiba tiba korban pingsan dan tak sadarkan diri. Sejumlah warga berusaha menolong namun gagal karena korban keburu menghembuskan nafas terakhir. ” Kita tak sempat menolong, karena korban terlalu lama berada di dalam,” ujar Tim SAR Polres Banyumas dan Ubaloka yang megevakuasi korban.

Menurut sejumlah warga, penambangan emas di Desa Paningkaban dan Cihonje Kecamatan Gumelar memang rawan kecelakaan. Meski begitu warga tetap melakukan aktivitasnya. Sejumlah wasrga pernah melakukan aksi protes dengan penambangan tersebut,karena selain mengancam longsornya rumah warga, limbah penambangan juga mencemari sungai yang mengalir sepanjang sungai Desa Cihonje. ” Kita memang sudah berupaya ke semua pihak untuk mempertimbangkan kembali keberadaan penambangan tersebut. Namun hingga kini suara rakyat disini tak pernah di dengar oleh pihak pihak terkait seperti bupati, ESDM dan aparat kepolisian,” ujar Wargo .

Ironisnya, meskipun sudah terjadi sejumlah insiden, pihak terkait seperti Pemkab atau ESDM khsusunya dan Polisi membiarkan penambangan liar tersebut terus berlangsung. Warga mencurigai, ada sesuatu dibalik keberadaan penambangan yang telah merusak lingkungan dan mengancam putusnya jalur utama Gumelar – Ajibarang tersebut (BNC/tni)

Tentang Penulis

Leave A Response