Sungai Gumelar tercemar limbah Tapioka,pemerintah tutup mata

Ditulis 30 Jul 2009 - 18:42 oleh Banyumas1

Air sungai di Kecamatan Gumelar mengeluarkan bau tidak sedap yang menyengat. Kondisi tersebut, oleh warga dikatakan karena tercemar limbah industri tepung tapioka. Akibatnya, apabila warga menggunakan air untuk mandi, maka rawan mengalami penyakit kulit, khususnya gatal-gatal. Namun hingga kini pemerintah Kabupaten Banyumas seolah tutup mata melihat kondisi tersebut.

Menurut warga, pencemaran air sungai diakibatkan oleh aktivitas sebuah industri tepung tapioka yang berada di sejumlah desa di Kecamatan Gumelar. Seperti salah satunya di Desa Samudra Kulon dan Gumelar. Warga desa setempat merasa terganggu akibat limbah tapioka.
Padahal, kata warga, memasuki kemarau seperti sekarang ini keberadaan sungai itu cukup penting dalam memenuhi kebutuhan air bersih. “Kami sangat terganggu karena baunya sangat menyengat,” tutur Woyo Sungai Gumelar Tercemar Limbah Tapioka

warga setempat.

Dia menilai, karena menimbulkan bau tidak sedap, sungai di wilayah itu juga menjadi sarang nyamuk. “Bau tak sedap tercium sampai radius satu kilometer, terutama pada pagi hari. Baunya begitu terasa, bahkan sekarang yang kami keluhkan adalah banyaknya nyamuk,” ungkapnya.

Kades Samudra Kulon Sutaryo saat dikonfirmasi mengungkapkan, belakangan ini limbah tepung tapioka sangat mencemarkan lingkungan terutama mencemari sungai. Akibatnya, sungai tidak bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. “Sekarang airnya tidak bisa digunakan, karena kotor dan berwarna kehitam-hitaman,” ujarnya.

Selain itu, dia mengakui, dampak limbah tepung tapioka mengeluarkan bau yang menyengat. Hal ini sudah dirasakan warga hampir terjadi setiap kali memasuki kemarau. “Warga terganggu dengan bau tak sedap ini. Sehingga, mereka ada yang mengeluh, tapi ada juga yang tidak,” terang dia.

Permasalahan seperti ini sebenarnya sudah dirasakan warga sejak lama. Namun hingga sekarang belum ada penanganan serius untuk mencari solusinya. “Limbah tapioka ini masih dibuang ke sungai, sehingga mencemari air sungai,” kata Sutaryo.

Meski kerap menjadi permasalahan, keberadaan produksi tapioka ini memiliki dampak positif, yakni bisa meminimalkan angka pengangguran di desa setempat. Untuk itu, aparat desa mengharapan perhatian pemerintah untuk segera menangani dampak pencemaran lingkungan. Pemeritah setempat ingin ada tempat pembuangan limbah khusus. Sehingga, keberadaannya tidak mencemari lingkungan, disamping tidak menambah angka pengangguran karena warga disini bisa tetap bekerja (banyumasnews.com/pjl)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Bambang Sumarwoto 16/08/2009 pukul 14:49 -

    Coba kalau industri tapioka di Gumelar dilokalisir di suatu tempat tertentu, kemudian pemerintah membangun IPAL ( Instalasi Pengolahan Limbah ) disitu. Hampir semua sungai dan anak sungai di Gumelar sudah tercemar limbah industri Tapioka……

  2. Raden Pucuk Pinus 30/07/2009 pukul 19:25 -

    Ini memang masalah dilematis..namun pemda banyumas khusnya kecamatan GUmelar harus tegas mensikapi hal tersebut, dengan memberikan perhatian berupa insentif spt pemberian kredit lunak kepada pengusaha tapioka bila mereka melakukan pengelolaan limbah…..

Leave A Response