Kakek 10 Cucu Baru Nikah Resmi di Usia 79 Tahun

PURBALINGGA (BNC)– Pasangan Wiarji (79) dan Rumi (59) warga RT 13/05 Desa Pandansari Kecamatan Kejobong, Purbalingga (Jateng), boleh berbahagia. Ia menjadi pengantin baru ketika sudah memiliki 10  anak dan 10 cucu. Lelaki kelahiran 1933 menjadi salah satu dari 54 pasangan pengantin yang mengikuti nikah massal, Kamis (13/12/2012).

Perhelatan nikah massal itu diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) bersama Pemkab Purbalingga dalam rangka peringatan hari jadi kabupaten itu ke 182. Akad nikah berlangsung di mesjid agung Darusallam, sedang resepsi digelar di Pendopo Dipokusumo.

Wiarji menuturkan, dirinya merasa senang karena bisa memiliki surat nikah resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Sejak bersama istrinya,  Wiarji sudah puluhan tahun menjalani hidup bersama. Wiarji mengaku, pernikahannya beberapa tahun silam dengan cara agama. “Kulo seneng saged nikah resmi (Saya senang bisa menikah resmi),” tuturnya.

Kebahagiaan juga terbersit dari pasangan Madrusdi (60) dan Sangini (56) warga RT 02/04 Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari. Madrusdi yang memiliki satu anak dan satu cucu ini mengungkapkan, dirinya seringkali datang ke pendopo kabupaten, namun kedatangan kali ini menjadi hal yang luar biasa. “Jan rasane semanger pisan, kepengin maning koh dadi penganten (Suasananya ramai sekali, jadi kepengin lagi jadi pengantin,” tuturnya saat ditanya soal perasaannya bisa menikah resmi dan melakukan resepsi nikah di pendopo kabupaten.

Peserta nikah massal lainnya, Asmawireja (73)  dan Niti (49) warga RT 02/04 Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, juga merasakan senang bisa menikah lagi secara resmi. “Nggih rasane pripun nggih, deg-degan maning (bagaimana ya rasanaya, degdegan begitu,” tuturnya.

Suasana pernikahan massal itu juga terlihat unik. Selain sejumlah  pasangan pengantin yang membawa anak dan cucunya, juga ada yang asih menyusui. Bahkan, sempat meminta ijin keluar dari  pendopo kabupaten dan menuju salah satu ruangan di peringgitan untuk sekedar menyusui bayinya yang berumur 4 bulan. “Saya maklum, saya lihat ada pengantin wanita yang sedang menyusui,” kata Bupati heru Sudjatmoko.

Bupati Heru juga mengungkapkan, para pengantin tentunya bisa beruntung dan berbahagia karena bisa mengikuti resepsi pernikahan di pendopo kabupaten. “Belum tentu, saya sebagai bupati juga menggelar pernikahan di pendopo kabupaten,” katanya.

Dibagian lain, Bupati Heru mengapresiasi panitia pernikahan massal yang bisa menggelar acara dengan baik. Namun, bupati berharap, tahun depan jumlah yang dinikahkan tidak malah bertambah banyak, tetapi harus berkurang. “Kalau yang dinikahkan massal semakin banyak, berarti banyak warga yang menikah secara siri, tanpa melalui KUA,” kata Bupati Heru.  Peserta nikah massal ini memang kebanyakan dari pasangan yang belum menikah secara resmi sesuai ketentuan negara.

Para pasangan pengantin semakin berbahagia karena mereka juga mendapat mas kawin berupa uang Rp 150 ribu, kemudian modal kerja Rp 500 ribu, dan uang kodangan dari bupati sebesar Rp 300 ribu.  Biaya nikah dan rias mereka juga ditanggung oleh panitia. (BNC/tgr)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.