Film ‘The Makelar’ masuk 10 Besar Lawang Sewu Film Festival 2012

Ditulis 01 Nov 2012 - 07:31 oleh Nanang BNC

BANYUMAS- ‘The Makelar’  sebuah film pendek besutan anak anak pegiat film asal Banyumas Jawa Tengah yang tergabung dalam Banyumas Motion Pictures Synd (BMPs) berhasil menyisihkan ratusan peserta lomba film pendek yang digelar Komunitas Sinema Semarang (KSS).

Film berdurasi 12 menit yang berisi kritik terhadap kejahatan pencaloan di negeri ini masuk 10 besar. Kini film tersebut tengah dalam penjurian terakhir oleh dewan juri yang terdiri dari Aditya Gumay,Haryanto Corakh dan Teguh Esha.

” Ini film fiksi kita yang penggarapannya lumayan melelahkan. Karena kita memang tidak mau main main dalam sebuah karya,” ujar Direktur BMPS, Eska Jatmiko.

The Makelar berceritera tentang potret sehari-hari masyarakat saat ini. Ini sejenis film realis, sehingga yang ditampilkan adalah fragmen-fragmen tentang topik yang diangkat yakni praktik perantara transaksi jual-beli.

Film ini mengajak penonton melihat kenyataan tentang absurdnya praktik makelar. Bagaimana detailnya cara para makelar mengupayakan transaksi agar berhasil. Upaya yang dilakukan adalah rekayasa atau dramaturgi kehidupan.

Film berdurasi 12 menit ini juga berisi fragmen tragic makelar seperti kebanyakan nasib rakyat negeri ini. Kekalutan financial dan tekanan sistem. Akhirnya film ini berisi catatan bahwa makelarisasi tidak hanya terjadi dalam dunia jual beli semata, tapi banyak praktik ini berlaku di proyek-proyek. Jargon ‘wani piro’ adalah ekspresi verbal praktik ini.

Menggandeng aktor Nanang Anna Noor dan sejumlah pegiat teater kampus film ini menjadi menarik untuk ditonton.  Ide cerita
dan naskah oleh Eska Jatmiko, sutradara Nanang Anna Noor dan penata gambar Syndu Hanif.

Proses pembuatan film tidaklah mudah, beragam kendala menghadang kami. Mulai dari hal-hal teknis sampai konsep cerita yang
harus disesuaikan. Film ini digarap hanya dalam waktu satu bulan. Efek dan soundtrack dalam film ini original. Paska produksi digarap di Kibonkart Pictures Studio.

Sementara Nanang Anna Noor yang menjadi sutradara sekaligus aktor utama dalam film ini mengatakan, yang terpenting seorang sineas tak boleh dibebani dengan target tertentu. ” Kita ini yang penting terus berkarya, memotret keunikan hidup ini dengan konsep dasar berkesenian yang tulus,” ujar Nanang.

Di tempat terpisah salah seorang juri, Aditya Gumay mengaku banyak film yang masuk ke lomba ini dengan penggarapan yang sudah profesional. ” Kita patut bangga karena film film  yang masuk ke LSFF 2012 ini sudah sangat serius penggarapannya. Bahkan beberapa pemain yang terlibat dalam satu film pendek ini sudah menunjukan kelasnya,” ujar Gumay (BNC/wiwin lestari)
Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Mufid Al-Majnun 15/11/2012 pukul 06:17 -

    emang garapane mas nanang keren2. salut lach untuk mas nanang dan crew nya.
    semoga cinema lovers banyumas semakin banyak berkarya. tidak kalah sama kabupaten sebelah.

    kalau bisa membuat film fiksi di perdesaan, saya kira gerakan desa membangun siap mensupportnya. seperti desa pancasan dengan kontroversi genteng dan dreamland nya. maturnuwun.

Leave A Response