35 Napi Peroleh Remisi, 5 Langsung Bebas

Ditulis 17 Agu 2012 - 19:08 oleh Yit BNC

BANJARNEGARA-Dalam Rangka HUT RI ke 67 , Sebanyak 35 Narapidana hari ini menerima remisi  dari menteri hukum dan Hak asasi manusia (Ham). Dari jumlah itu 30 diantaranya mendapat remisi umum dan 5 orang mendapat remisi langsung bebas.

“Remisi diberikan kepada narapidana yang telah memenuhi syarat berdasarkan keputusan presiden RI nomor 174 tahun 1999 tentang remisi, dalam kepres tersebut disebutkan narapidana dan anak pidan yang menjalani pidana penjara sementara dapat diberikan remisi apabila yang bersangkutan berkelakuan baik selama menjalani pidana dan memenuhi syarat-syarat lain yang di tentukan,” kata Kepala Rutan Banjarnegara Widiarto.

Widiarto menambahkan saat ini jumlah narapidana dan tahanan yang ada di rumah tahanan Negara Banjarnegara berjumlah 104 orang. 64 orang merupakan Narapidana dan 40 orang merupakan tahanan.

“Di rutan ini bekerjasama dengan Dinas dan Instansi terkait serta ormas islam kami melakukan pembinaan kepada Narapidana dan tahanan berupa pembinaan mental, Ketrampilan, Kegiatan Usaha, Pembinaan olah raga dan kesenian, Hiburan serta pembinaan kemasyarakatan,” lanjut Widiarto.

Lebih lanjut widiarto mengatakan hingga tanggal 17 agustus 2012 ini yang sudah terealisir mendapatkan pembebasan bersyarat berjumlah 4 orang, cuti menjelang bebas 3 orang, cuti bersyarat 2 orang, sedangkan dalam proses pengusulan  pembebasan bersyarat berjumlah 4 orang dan cuti bersyarat 3 orang.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo dalam amanatnya membacakan sambutan menteri Hukum dan Ham mengatakan salah satu hak yang dimiliki oleh pelanggar hukum (narapidana) adalah ,mendapatkan pengurangan masa menjalani pidana (remisi).

“Remisi merupakan hak yang telah diatur secara tegas dalam pasal 14 ayat (1) undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, dimana setiap narapidana mempunyai hak untuk mendapatkan pengurangan masa menjalani pidana,” kata Sutedjo.

Dalam falsafah pemasyarakatan,pemberian remisi bagi narapidana adalah upaya untuk sesegera mungkin mengintegrasikan narapidana dalam kehidupan masyarakat secara sehat. Sehingga mereka dapat segera melanjutkan kehidupannya secara normal dan mampu mengemban tanggung jawab sebagai anak, orang tua maupun anggota masyarakat.

“Pemberian remisi juga sebagai upaya untuk mengindarkan dampak buruk pemenjaraan, karena diakui maupun tidak  pemenjaraan memberikan dampak buruk bagi setiap orang yang menerima,” lanjutnya.

Pemberian remisi lanjut Sutedjo jangan diartikan upaya memanjakan narapidana, namun harus dipahami dari sisi kemanusiaan pada dasarnya pemberian remisi merupakan wujud kepedulian untuk menjaga agar narapidana mampu menjadi manusia seutuhnya. (BNC)

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response