Saein, Dari Sawah Menuju Istana

Saein menunjukkan pupuk organik dan varitas padi mutiara temuannya di lahan sawah miliknya di Desa/Kecamatan Bukateja, Purbalingga. (BNC/tgr)

PURBALINGGA – Jerih payah Saien (42) seorang Tenaga Harian Lepas –Tenaga Bantu (THL-TB), yang getol menggerakan petani dengan meninggalkan bahan kimia, ternyata membuahkan hasil. Alumni Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) 1995 ditetapkan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional. Atas prestasinya itu, Saein diundang ke istana negara di Jakarta untuk mengikuti serangkaian acara dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-67.

Saein akan berangkat ke Jakarta, Senin (13/8) mendatang, kemudian mengikuti serangkaian kegiatan pemberian penghargaan dari Meteri Pertanian dan rangkaian kegiatan HUT RI di Jakarta mulai 14 – 17 Agustus. Salah satunya menghadiri silaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saein ke Jakarta bersama seorang warga Purbalingga lainnya, yakni Tejo, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sari Asih Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet yang keluar sebagai  Gapoktan Berprestasi Tingkat Nasional

”Saya tak mengira, jika akhirnya saya menjadi penyuluh  teladan tingkat nasional. Sejatinya, saya mengamalkan ilmu yang diperoleh kepada para petani sebagai ibadah,” ujar Saein  saat ditemui di sawah yang menjadi lahan garapannya setiap hari di Desa/Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Kamis  (9/8/2012).

Saein yang ayahnya seorang petani ini pulang kampung membangun bidang pertanian di desanya, sejak tahun 1998. Ia rela meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai tenaga kontrak pada Balai Penelitian Padi (BPP) Sukamandi, Bogor, Jawa Barat. Tak banyak memang, sarjana yang berpikiran seperti Saein. Berkat kegigihannya memobilisasi sekitar 800  petani di desanya untuk kembali ke pertanian organik yang ramah lingkungan, serta tekun melakukan serangkaian penelitian di lapangan, maka layak jika ia mendapat penghargaan.

Lelaki berpenampilan sederhana ini setiap hari  menyambangi sawah para petani di 14 desa di Kecamatan Bukateja, Purbalingga, dengan sepeda motor bututnya. Saat musim panen hampir tiba, ia memeriksa langsung kualitas padi miliknya yang ditanam para petani.

Petani intelek ini mengaku tak terlalu bergantung pada bantuan pemerintah atau asing. Ia merogoh koceknya sendiri yang tak seberapa untuk riset pupuk dan pestisida organik, serta  juga bibit padi berkualitas nomor wahid.

Bagi Saein, segala karya dan temuannya dicurahkan sepenuhnya untuk para petani di kampungnya. Saein berupaya mengembangkan pertanian ramah lingkungan, dengan membuat pupuk dan pestisida organik.Para petani di Bukateja pun kini mengijuti langkahnya, dan mulai meninggalkan bahan kimia.

Untuk mempercepat penyebaran informasi kepada petani, Saein kerap memberikan materi kepada penyuluh lapangan Dinas Pertanian, lengkap  dengan praktiknya. Kini, sudah 30 hektare sawah digarap secara organik.

Tak hanya pupuk dan pestisida alami, prestasi lain petani peraih Kehati Award 2009 dan  penghargaan kategori Inovasi Liputan 6 Awards 2011 itu,  adalah menemukan varietas baru bernama padi “Mutiara”. Varietas Mutiara temuan Saein ini memiliki sejumlah keunggulan. Yakni sangat hemat pupuk, tahan penyakit busuk daun, butiran berasnya tidak mudah patah, tahan wereng dan rasa nasinya pulen serta rendemannya tinggi.Untuk tingkat rendeman tinggi ini, jika diselep di mesin penggilingan padi, gabah 1 kuintal dari varietas padi “Mutiara” bisa menghasilkan 65-67 kg, “Keunggulan lain varitas Mutiara produksinya tinggi , yakni rata-rata 6,7 ton per hektar dan produksi tertinggi 8,4 ton/hektar,” ujar Saein. (tgr)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.