Pembangunan Cenderung Abaikan Fungsi Lingkungan

Ditulis 17 Jul 2012 - 10:52 oleh Banyumas1


PURBALINGGA (BNC) Pembangunan fisik kota yang gencar dilakukan cenderung mengabaikan fungsi lingkungan hidup. Pembangunan terkesan pesat dan bras-bres tanpa memikirkan kelestarian lingkungan. “Jika hal itu terus dilakukan, maka anak cucu kita akan merasakan dampak kerusakan lingkungan di kemudian hari,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Purbalingga Imam Subijakto, S.Sos, M.Si.

Imam mengemukakan hal itu mewakili Bupati Heru Sudjatmoko saat membuka sosialisasi Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) Kabupaten Purbalingga di Andrawina Convention Centre, Owabong Cottage, Senin (16/7).

Imam mengakui pembangunan lingkungan seolah tidak strategis, tidak seperti pembangunan fisik yang terlihat hasilnya. “Namun, dampak kerusakan lingkungan baru bisa diketahui dimasa mendatang. Belajar dari pengalaman masa lalu, maka Purbalingga menyelaraskan antara pembangunan  fisik dan pelestarian lingkungan,” kata Imam Subijakto.

Main Tebang Pohon

Imam juga mengingatkan kepada pelaku pembangunan dan warga masyarakat untuk tidak asal menebang pohon-pohon besar. Imam mencontohkan penataan trotoar antara Kedungmenjangan – Kelurahan Bojong, yang banyak pohonnya harus tetap dipertahankan. “Tidak ada alasan demi keindahan maka pohon ditebang. Pokoknya bagaimana caranya, agar pepohonan di tepi jalan yang rimbun, tetap dipertahankan dan tidak ditebang,” kata Imam Subijakto.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Kepala Bappeda Ir Setiyadi, M.Si mengungkapkan, isu permasalahan lingkungan yang lebih penting adalah membangkitkan kesadaran  dan tindakan bersama dalam menjaga kualitas lingkungan. “Pembangunan tetap menitikberatkan ekonomi, tetapi tetap memperhatikan aspek pembangunan berkelanjutan. Wujudnya dengan mendorong tersedianya ruang terbuka hijau privat dan publik untuk menjaga kualitas ekologi kota,” kata Setiyadi.

RTH

Dijelaskan Setiyadi, berdasarkan Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Perda nomor 5 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Purbalingga, luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30 persen dari luas wilayah kota. Dari luasan prosentase tersebut, terdiri 20 persen RTH publik dan sisanya RTH privat. ”Dari total luas perkotaan Purbalingga 2.705,65 hektar, telah memiliki RTH publik dan privat seluas 1.485,96 hektar atau 54,9 persen dari luas kota,” jelas Setiyadi.

Partisipasi Mulai dari Hal Kecil

Tim Ahli P2KH bidang pemberdayaan masyarakat   Ir Mila Karmilah MT mengungkapkan, partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kota hijau perlu dimulai dari hal yang kecil. Misalnya, menggunakan transportasi yang tidak menggunakan bahan bakar seperti sepeda, memilah dan membuang sampah pada tempatnya dimulai dari skala rumah tangga, membiasakan menggunakan listri, air Ac dengan hemat. Sedapat mungkin bangunan dibuat dengan hemat cahaya buatan, perbanyak ventilasi.

Kemudian partisipasi bisa dilakukan dengan ikut organisasi yang peduli lingkungan sehingga memiliki rasa handarbeni terhadap lingkungan. “Sedapat mungkin setiap rumah terdapat sumur resapan, baik komunal ataupun individu (sistem biopori),” kata Mila Karmila.

Partisipasi masyarakat, tambah Mila Karmilah, juga harus diikuti kebijakan pemerintah untuk mendukung kota hijau. ”Kebijakan yang diambil antara lain yang mendukung perilaku hijau masyarakat, memperbanyak RTH, dan menyusun masterplan kota hijau,” tambahnya. (BNC/tgr)

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response