Kota Ramah Investasi jadi Komitmen Purbalingga

Ditulis 17 Jul 2012 - 09:38 oleh Banyumas1

PURBALINGGA (BNC)- Purbalingga menegaskan kembali komitmennya sebagai kota ramah investasi. Kebijakan Pemkab tetap pro investasi. Namun, investasi yang disyaratkan tidak akan mematikan produk lokal dan lebih banyak mendatangkan kesempatan lapangan pekerjaan.

“Kebijakan Pemkab Purbalingga sudah jelas, untuk saat ini kami tidak memberikan ijin pendirian mini market baru, bahkan mall. Kami tidak ingin, investasi yang ditanamkan malah akan mematikan Pedagang Kaki Lima (PKL), atau menggeser produk lokal yang kebanyakan diproduksi masyarakat bawah,” tegas Bupati Purbalingga Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si, Sabtu (14/7).

Penegasan Bupati Heru Sudjatmoko disampaikan saat membuka  Gelar Karya dan Pameran Produk Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan /BKM Expo 2012 di halaman parkir Gelora Goentoer Darjono.  Gelar karya dan pameran yang berlangsung Sabtu – Senin (14/16/7) diikuti oleh 44 BKM dari Kecamatan Kalimanah, Padamara, dan Purbalingga.

Bupati Heru mengaku banyak menerima pertanyaan dan SMS (Short Message Service) soal kebijakannya menolak pendirian mall. Dalam SMS itu disebutkan, jika menolak pasar modern, berarti kotanya akan sepi, tidak ada gemebyar dan kotanya tidak berkembang cepat. Heru mengakui kondisi ini, yang tentunya berdampak pula pada kepopuleran seorang pemimpin.

“Kalau kotanya tidak maju, bupatinya dinilai tidak populer, karena tidak bisa membuat kota menjadi gebyar. Kalau ditanya apa bupati tidak butuh populer, ya tetap butuh juga. Tetapi untuk mencapai populer itu, saya tidak akan mengorbankan masyarakat kecil, khususnya para pedagang,” kata Bupati Heru.

Menurut Heru, jika Pemkab memberikan ijin pendirian pasar modern seperti mall, maka bisa diprediksi dua atau tiga tahun kemudian setelah pendirian mall itu akan membuat pasar tradisional, dan pedagang kecil akan mati perlahan-lahan. Heru juga mengaku prihatin, dengan kondisi banyaknya komoditas buah impor yang masuk ke Indonesia termasuk Purbalingga, sudah mempengaruhi para petani buah. Saat ini, lanjut Heru, pedagang buah di pinggir jalan saja, sudah menjual banyak buah impor. “Hampir 70 persen produknya yang dijual dari impor, lalu bagaimana dengan petani kita. Jika kebijakan kami mengkampanyekan konsumsi buah impor, mohon jangan diprotes para pedagang buah impor,” kata Heru setengah bertanya.

Heru menegaskan, kebijakan Pemkab yang ramah investasi akan diikuti dengan membangun infrastruktur pendukung dan ijin yang tidak berbelit. Pemkab memberikan kemudahan pada pendirian warung kecil. ”Pendirian wrung tidak perlu ijin, jika ketentuan ada persyaratan perijinan, tentunya juga jangan dipungut biaya perijinannya,” kata Heru.

Dibagian lain Heru juga meminta masyarakat untuk lebih banyak mengkonsumsi produk lokal. Jika ada tetangga kita yang menjual jajanan lokal, mari kita berdayakan. Mulailah mencintai produk tetangga, kemudian cintai produk Purbalingga dan yang lebih besar mencintai produk Indonesia. ”Kegiatan pameran dari BKM inilah sebagai salah satu upaya untuk mencintai produk-produk lokal kita,” kata Heru.

Produk lokal, lanjut Heru, ternyata sudah pula bergeser diproduksi oleh pasar modern. Seperti halnya jajanan di sebuah mall terbesar di Yogyakarta, disana sudah dijual keripik, ketela goreng , rujak dan lainnya. ”Itukan dagangan masyarakat kecil kita yang seyogyanya tidak dijual di mall besar,” kata Heru.

Sementara itu Ketua panitia BKM Expo 2012 Suyatno mengatakan, kegiatan gelar karya dan pameran dimaksudkan untuk meningkatkan eksistensi dan kemandirian BKM melalui pembelajaran pemasaran sosial dan menjalin kemitraan konkret dengan berbagai pihak. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response