Novi Indriastuti ‘ Bersinar dalam Kegelapan’

Ditulis 01 Mei 2012 - 23:09 oleh Banyumas1

TETAP SEMANGAT: Novi (tengah) saat menunggu nunggu Angkot bersama temannya (foto:ebr/BNC)

SAYA percaya suatu saat saya akan sembuh. Saat waktu
itu datang, saya ingin saat itu saya telah sukses. Sehingga saya
mempunyai kemampuan untuk megupayakan kesembuhan penyakit mata saya.
Karena itu, mulai sekarang saya harus bekerja keras dengan cara
belajar keras. Demikian aku Novi Indriastuti, Siswi Berkebutuhan
Khusus kelas VIII B, SMP Negeri 1 Wanadadi, Selasa (01/05) saat
ditemui BNC di sekolahnya.

Sebagai anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya Ia bisa saja memilih
untuk sekolah di Sekolah Luar Biasa setingkat SMP yang memang
mengkhususkan untuk siswa seperti dirinya. Namun, semangatnya yang
keras mendorongnya untuk memilih sekolah di sekolah umum. “Saya
memilih sekolah di sekolah umum karena di sekolah umum saya terpacu
untuk berkompetisi dengan teman-teman lainnya yang tidak memiliki
kekurangan seperti halnya saya. Ini menjadikan saya terpacu untuk
selalu belajar” katanya.
Tekadnya itu dibuktikan, jarak 14 km dari rumah ke sekolahnya,
ditempuh naik angkot sendiri, dibantu adik kelas yang juga tetangganya
Latifa. Setiap jelang jam enam pagi, Latifa akan menjemputnya dan
membantunya berjalan hingga naik angkot dan sampai sekolah. Begitu
juga pulangnya.
Novi, putra Bapak Suroso dan Ibu Sumarni, warga Dusun Blabar, Desa
Kecepit, Kecamatan Punggelan pun konsekuen dengan tekadnya tersebut.
Hal itu ditunjukan oleh remaja putri yang bercita-cita menjadi dosen
ini dengan sejumlah prestasi akademik dan non akademik yang diraihnya.
Sejak kelas V SD saat penyakit dideritanya merengut total kemamuan
penglihatannya, justru saat itu menjadi titik balik remaja yang
menyukai pelajaran matematika dan IPS ini untuk meraih prestasi
cemerlang. Dari kelas V sampai lulus, Novi selalu meraih peringkat I
di kelasnya. Ini makin diperkuat dengan prestasinya meraih peringkat
II UASBN se Kecamatan Punggelan.
Prestasi akademiknya ini terus berlanjut, saat Ia menjadi siswa SMP N
1 Wanadadi, sekolah umum yang dipilihnya. Sejak kelas VII Novi selalu
meraih predikat peringkat 1 di kelasnya. Pada tahun akademik tahun
2010/2011 kemarin rata-rata kelas yang diraihnya 9,2. Untuk rangking
paralalel diantara 188 siswa kelas VIII, Novi menduduki peringkat 4.
“Nilai Novi hanya kurang di mata pelajaran olah raga dan mata
pelajaran PKK yang memang membutuhkan nilai untuk kemampuan
keterampilan praktek” kata Guru BK pendampingnya Retno, S. Pd..
Dalam bidang akademik ini, lanjutnya, Novi juga pernah meraih juara II
tingkat Propinsi lomba cerdas cermat MIPA. Sedangkan untuk bidang non
akademik prestasi yang diraih novi banyak, namun yang paling menonjol
adalah dalam bidang olah vocal.
“”Pada kegiatan Gebyar dan Festival Kreasi Siswa Pendidikan Khusus dan
Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK), Lomba Siswa Cerdas Istimewa dan
Bakat Istimewa (CIBI) dan Lomba Siswa Inklusi tingkat Nasional yang
dilaksanakan di Yogyakarta oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus
dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (PPK-LK Dikdas) pada tanggal 12-14
Oktober 2011 yang lalu Novi meraih juara I untuk lomba vocal” kata
guru yang setia mendampingi Novi saat berlomba.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP N 1 Wanadadi, Ngaliman, S. Pd.,
menambahkan bahwa Novi memungkinkan sekolah di sekolah umum seperti
halnya SMP N 1 Wanadadi karena sekolahnya merupakan sekolah inklusif.
Dimana untuk sekolah kategori ini memungkinkan untuk menerima siswa
berkebutuhan khusus, diantaranya adalah siswa tuna netra. “Di
Kabupaten Banjarnegara ada dua sekolah umum yang menerima sekolah
inklusif, selain SMP N 1 Wanadadi juga SMP N 3 Purworejo Klampok”
katanya.
Bagi siswa berkebutuhan khusus ini, lanjutnya, dalam proses belajar
mengajar sehari-hari secara umum tidak ada perbedaan. Hanya saja dalam
mata pelaran tertentu, memang siswa dikenalkan dengan alat peraga,
misalnya globe timbul, alat peraga kotak, kubus, dan sebagainya. Hal
tersebut dimaksudkan untuk membantu siswa berkebutuhan khusus dalam
menerima pelajaran. “Novi ini termasuk anak cerdas, Ia mengikuti
pelajaran mengandalkan pada pendengarannya. Namun prestasinya mampu
mengguguli teman-teman lainnya” katanya.
Sedangkan dalam hal ujian sekolah, kata Ngaliman, untuk novi
dilaksanakan di tempat khusus. Dimana guru membacakan soalnya dan Novi
menjawab dengan lembar jawaban braile. “Untuk ini, pihak sekolah
bekerja sama dengan SLB yang ada di Banjarnegara untuk mengoreksi
lembar jawabannya” katanya.
Melihat bakat, prestasi, kemauan dan tekad anak ini, kata Ngaliman,
saya berharap untuk kelanjutannya nanti di sekolah lanjutan jenjang
berikutnya, Ia berharap sekolah mau menampung Novi dan mau memahami
kekurangan Novi. Harapan saya ini beralasan, lanjutnya, karena saat
awal Novi mendaftar di sekolah ini juga hampir semua guru menolak. Hal
itu lebih karena semua guru merasa tak ada yang punya kemampuan untuk
mengajar siswa berkebutuhan khusus. Karena dukungan orang-orang di
sekitar Novi, akhirnya sekolah mau menerima. Dan ternyata, Novi memang
istimewa meski dengan kekurangannya itu.
“Sungguh saya berharap Sekolah manapun bersedia memberi kesempatan
yang sama untuk siswa-siswa berbakat seperti halnya Novi ini” katanya.
Musibah yang mengubah
Menurut Suroso, ayahanda Novi, kebutaan mata yang dialami anaknya
berawal dari gangguan penglihatan pada kedua matanya saat duduk di
kelas II SD N Kecepit. Mulanya gadis kecil yang biasa duduk di bangku
sekolah paling belakang ini mengalami kesulitan penglihatan. Karena
masalahnya itu, tempat duduknya pun dipindah oleh guru di bagian
tengah. Setelah dilakukan pengobatan, ternyata tidak sembuh juga,
justru makin kabur pandangan matanya. Sampai akhirnya Novi pindah
duduk di bangku paling depan karena pandangannya sudah benar-benar
kabur.
Berbagai upaya untuk menyembuhkannya telah ditempuh oleh orang tuanya,
namun bukannya sembuh, gangguan penglihatan pada kedua matanya justru
semakin parah. Pada akhirnya Novi betul-betul mengalami kebutaan total
saat duduk di kelas V SD. Sejak saat itu, dunia betul-betul gelap dari
penglihatannya. “Kata dokter, kebutaan Novi ini dikarenakan syarat
mata yang terhubung dengan otaknya terganggu sehingga mengakibatkan
kebutaan” katanya.
Saat hal itu terjadi, Suroso dan Sumarni kedua orang tua Novi pun
betu-betul down melihat anaknya mengalami kebutaan total. “Saya
nelangsa memikirkan masa depan anak saya nantinya” katanya.
Saya tidak tahu betul bagaimana perasaan Novi saat itu, imbuh Sumarni
ibunda Novi, karena seingat saya waktu itu hanya tangisan Novi untuk
tetap sekolah. Ia tidak mau tertinggal dari teman-temannya. Ia tidak
menangisi kebutaannya, tapi menangisi jangan sampai Ia tertinggal
kelas dibanding teman-temannya. “Karena itu kami bertemu dengan pihak
sekolah agar tetap memberi kesempatan kepada Novi untuk sekolah.
Berapapun nanti hasil nilai sekolahnya, kami minta untuk tetap ikut
dinaikan. Saya tahu anak saya, Ia akan sangat terluka bila sampai
tidak naik kelas” katanya.
Peristiwa tersebut memang sempat menguncang keluarga kami. Namun kami
tidak mungkin membiarkan peristiwa itu terus melemahkan kami. Ada
kehidupan yang haru terus kami jalani, yaitu hidup kami sekeluarga.
Dari peristiwa kebutaan Novi tersebut, kami masih melihat yang tersisa
dari anak kami Novi, yaitu semangatnya dalam melawan keterbatasan. Ia
tidak menyerah untuk terus belajar meskipun kini Ia buta. Semangatnya
itu menjadikan kami orang tuanya berubah. Kami orang tuanya memutuskan
dengan segala upaya yang kami punya akan mendukung sekuat tenaga tekad
anak kami. Perhatian kami terhadap anak-anak menjadi lebih besar.
Sejak itu, antara saya dan ayahanda Novi pun berbagai tugas. “Setiap
hari saya membacakan semua materi pelajaran yang diterimanya, dan
setiap hari pula ayahnya mengantar Novi ke sekolah” katanya.
Upaya kami ini pun rupanya gayung berbalas, kata Sumarni, pihak
sekolah mau memahami kekurangan Novi. Tanpa terasa sekian bulan
menjalani hal baru, lanjutnya, kami jadi terbiasa dengan keterbatasan
itu. Namun ada hal yang lebih menggembirakan, ternyata seiring dengan
perkembangan waktu, kami melihat ada yang berkembang luar biasa dari
Novi, yaitu kecerdasan dan bakatnya. “Sejak kelas V SD itulah prestasi
akademik dan nyanyinya muai berkembang dengan cepat” katanya.
(BNC/ebr)

Tentang Penulis

Leave A Response