Tradisi Membodohi Penonton Sinetron Kita

Ditulis 23 Mar 2012 - 11:43 oleh Banyumas1
Oleh : Nanang Anna Noor

PERNYATAAN Ratna Sarumpaet dalam sebuah wawancra  dengan sebuah infotainment, bahwa Sinetron kita memang menyedihkan adalah sangat tepat. Karena untuk sekedar mengejar pasar, terjadi pembodohan disana sini yang berlangsung secara konstan.
 Kita bisa lihat dalam sehari hampir separoh tayangan di televis menyuguhkan sinetron / film kejar tayang yang memamerkan  karakteristik kontra produktif dengan budaya kita.  Bisa kita hitung dengan jari  sinetron/film yang memberi pencerahan.
Hal yang paling menonol dan kentara adalah tradisi ‘latah’ sinetron kita. Ketika satu sinetron tengah booming,maka production house (PH) lain saling berebut penonton. Sehingga sinetron lahir dengan tema tema sama,monoton dan terkesan dipaksakan.
Saat yang satu dianggap laris karena tema bayi tertukar, manusia kembar dan insomnia. Maka yang lainpun buru buru mengekor. Dianggap strategi pasar yang pas buat melayani penonton yang sudah terlanjur di ‘bodohi’.
Konflik dan kekerasan selama ini juga menjadi salah satu tren sinetron kita.Sepertinya ada kegagapan para pembuatnya saat menciptakan Character development dalam suatu sinetron. Padahal ini merupakan salah satu bentuk komunikasi kontemporer yang menjadi poin penting dalam sebuah cerita .
 Beberapa tahun lalu saya mengikuti seminar tentang Potret Buram Sinetron Indonesia, Kampus Paramadia. Dalam acara yang melibatkan banyak pekerja film ini tersimpul pertanyaan-pertanyaan misalnya tentang kandungan kekerasan, seks, mistis, dan adegan yang tidak sesuai dengan norma dalam sinetron remaja.
Temuan lain tentang motif kekerasan disengaja,bentuk kekerasan anak sama seperti orang dewasa. Artinya, anak-anak bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan, mencambak, menghardik, bahkan rencana untuk membunuh. Kartunisasi manusia, meski korban sudah dianiaya sedemikian rupa tetap selalu akan sehat kembali
Contoh lain temuan tentang seks. Dalam sinetron kita seolah anak-anak SMP sudah pacaran.Pacaran di kalangan remaja dianggap bisa diterima di masyarakat. Perempuan kerap menjadi pelaku pelecehan seksual dan ironisnya tanpa rasa berdosa menyuguhkan remaja perempuan mengekploitasi seksualitas.
Menjadi tragis, ketika penonton keliru mendefinisikan diri mereka sendiri dan dunia sekitar, saat sinetron yang merupakan bagian dari produk budaya populer ini mendominasi pengertian penontonnya.Karena tontonan ini merupakan budaya mediasi kontemporer yang tidak lebih dari sekadar daur ulang konstan atas citra-citra yang semula diangkat media.
Tentu saja tak semua sinetron atau film televis sebegitu parahnya. Setidaknya muncul film televisi atau dikenal dengan FTV menjadi alternativ untuk memperbaiki citra perfileman kita. Sejumlah rumah produksi yang menggarap FTV ternyata lebih hati hati menjaga kualitas. Ini bisa menjadi harapan banyak pihak agar tujuan utama tak sekedar tontonan , tetapi bisa menjadi tuntunan .

 Nanang Anna Noor,Pesinetron,Reporter Teve Indosiar dan Penyair Indonesia . Film terakhirnya FTV Undangan Kuning SCTV, Produksi Citrasinema , produser Dedy Mizwar

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Wanto Tirta 04/12/2013 pukul 14:25 -

    gambaran semacam itu, menunjukkan antara si pembuat dan penonton sinetron sama-sama “sakit”…. maka dinbutuhkan orang mau berbagi dengan indealisme. bagaimanapun juga sinetron kita dibutuhkan masyarakat. tp seperti apakah idealnya sinetron kita? Bung Nanang Anna Noor, Daffa,Rahma, atau Bung M. Koderi, bisa memberikan alternatif jawabannya…

  2. daffa ra 23/05/2012 pukul 11:58 -

    Saya sependapat dengan Mas Nanang, bahwa sinetron saat ini sangat amat tidak bermutu, membodohi dan lebih banyak hal negatif yang dapat disimak oleh pemirsa terutama untuk anak-anak dan remaja dari pada sisi positifnya.
    Keterlibatan anak-anak dalam sinetron atau FTV laga, misteri, keluarga atau percintaan sepertinya sudah diluar batas kewajaran. Kita ambil salah satu contoh sinetron yang sangat jelas mengajarkan pada anak-anak tentang kekerasan. coba kita telaah atau kita kaji bagaimana isi sinetron “Tendangan Si Madun”. Bagaimana sekelompok anak merencanakan balas dendam, membentuk gang, pengeroyokan dan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh anak-anak meski format tayangnya dbalut dengan alasan olahraga sepak bola yang sangat digemari anak-anak indonesia. Mari kita kilas balik dengan kasus kekerasan anak yang terjadi sebelumnya. Anak SD yang berkelahi menirukan adegan Smack Down, tawuran antar gang Anak SD, Pemalakan Anak SD dan masih banyak lagi fenomena yang miris akibat dari sinetron yang over load, kejar tayang tanpa ada proses sensor sama sekali dari pihak terkait. Siapa yang akan dan mau disalahkan ?

  3. m. koderi 09/04/2012 pukul 13:12 -

    Namun kembali lagi ke pemirsa atau penonton, kalau penonton menurun rating makin drop otomatis produser pun tidak menayangkan lagi. Harapan masyarakat hendaknya para produsen sinetron tampilkan yang terbaik buat bangsa ini yang mengandung nilai edikatif, mengajak kepada yang baik dan menjauhkan hal-hal yang merusak moral bangsa. jadikanlah tontonnan yang mengandung tuntunan.

  4. m. koderi 05/04/2012 pukul 13:59 -

    Apa yang diceritakan Kang Nanang bener banget. saya pernah mewawancarai salah satu artis sinetron Putri Yang Ditukar, katanya PH hanya memandang dari segi bisnis, mengejar rating. selagi rating masih tinggi shooting jalan terus. kalau tiba-tiba drop ya sudah berhenti. artis sering kali tidak tahu apa jalan cerita yang akan dimainkan. Cerita keluar begitu saja. bahkan kadang-kadang sampai di lokasi artis baru tahu apa yang harus diperankan. Jadi sinetron sekarang tidak mendidik, tidak punya nilai edikatip. sebaliknya, yang dipertotonkan, berantem, kekerasan, pacaran sampai melanggar batas norma. lingkupnya hanya pacaran – berantem – kecelakaan – rumah sakit – polisi – penjara, monoton dan membosankan.

  5. rahma 25/03/2012 pukul 08:56 -

    teruskan kang…………. mantap

Leave A Response