Pendidikan Karakter,..Mengapa Sekarang?

Ditulis 26 Feb 2012 - 19:13 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
44
Dalam Tag

 

“What is happening to our young people? They disrespect their elders, they disobey their parents.  They ignore the law.  They riot in the streets inflamed with wild notions.  Their morals are decaying.  What is to become of them?” – Plato, 4th Century BC.

 

Membaca kutipan paragrap dari sebuah artikel yang mengangkat tulisan tentang pendidikan karakter di atas, angan kita melayang membayangkan kebenaran dari tulisan itu, melalui realita yang tiap hari kita hadapi.  Tak harus realita yang kita temukan langsung di dunia pendidikan, bahkan seluruh sendi kehidupan masyarakat kita teramat dekat dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut.  Apalagi, perkembangan teknologi di bidang informasi mengalir bak badai yang tak dapat dibendung, semakin membuat nyali kita menciut, karena langsung atau tidak langsung semua paket yang dibawanya memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembang kepribadian seseorang.  Sebuah keprihatinan yang bukan hanya menjadi perhatian Indonesia semata, tetapi bahkan menjadi prioritas perhatian dunia.

Mengapa demikian susah mengurai akar masalah yang membelit bangsa ini (dan juga bangsa-bangsa lain) bertahun-tahun lamanya, sementara gegap gempita pencanangan pendidikan karakter telah sekian lama kita kita jalani?  Setiap hari kita disuguhkan realitas karakter anak bangsa yang memprihatinkan, bahkan adakalanya juga memalukan, sekalipun di tengah-tengah prestasi sebagian dari mereka yang sangat membanggakan.

Kita tahu, sukses itu bukan lahir dari kerja sendiri, melainkan sebuah kolaborasi cantik banyak pihak untuk kehidupan yang lebih baik.  Bahkan Doni Koesoema (2007) berpendapat, “Sekolah bukanlah tempat penyembuh segala luka kemanusiaan”.  Artinya, masing-masing dari kita (apapun profesi dan lembaga yang menaungi pelayanan kita) mempunyai tanggung jawab untuk ikut terlibat dalam pembangunan karakter generasi muda yang berkepribadian Indonesia.  Each person involved in the development of young people, has a personal responsibility for what they teach by reason of who they are and what they believe and value.

Pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan kita mengingat berbagai macam perilaku yang non-edukatif kini telah merambah dalam lembaga pendidikan kita, seperti fenomena kekerasan, ketidakjujuran, pelecehan seksual, korupsi, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di lingkungan sekolah.

Tanpa pendidikan karakter, kita membiarkan campur aduknya kejernihan pemahaman akan nilai-nilai moral dan sifat ambigu yang menyertainya, yang pada gilirannya menghambat peserta didik untuk dapat mengambil keputusan yang memiliki landasan moral kuat.  Pendidikan karakter akan memperluas wawasan para peserta didik tentang nilai-nilai moral dan etis yang membuat mereka semakin mampu mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan.

Sejauh ini, banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.  Melalui dunia pendidikan, keharusan untuk memasukkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam  Lesson Plan yang disiapkan guru sudah dilaksanakan beberapa tahun yang lalu.  Tampak jelas, setiap tahap dari proses pembelajaran di kelas, guru menyertakan unsur pendidikan karakter.   Terukur, dengan harapan perilaku siswa didik yang mengarah pada karakter yang positif lebih mudah untuk diidentifikasi.

Ujung tombak dari implementasi pendidikan karakter di sekolah adalah guru.  Guru memang berbeda dengan profesi lainnya, karena mempunyai keunikan tugas yang dekat dengan generasi muda, siswa didik, yang tiap saat mengisi hari-harinya.  Maka, unsur pendidikan karakter yang tertuang di dalam Lesson Plan guru mestinya bukan sekedar tulisan tanpa makna, lebih tepatnya guru juga harus siap memperbaharui karakternya sebelum mendidik dan mengajar siswanya, dan senantiasa siap menjadi teladan bagi peserta didiknya, dalam hal apapun juga.  Tentu saja, dalam setiap perjumpaan dengan peserta didik, lembaga pendidikan (sekolah) akan semakin efektif menerapkan pendidikan karakter ketika sekolah mampu mengajak orang tua siswa dalam bekerja sama sebagai rekan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.  Komunikasi dua arah yang harmonis dan saling mendukung antara pihak sekolah dan orang tua siswa adalah kekuatan luar biasa untuk mewujudkan implementasi pendidikan karakter di sekolah.

Proses pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas merupakan momen pendidikan karakter yang sangat strategis.  Di dalam kelas, guru tak ubahnya seorang manajer yang mengendalikan dan mengarahkan lingkungannya.  Dalam perjumpaan inilah terjalin proses penanaman nilai secara lebih nyata.  Maka, guru senantiasa harus mengupayakan hal-hal berikut untuk membangun suasana belajar yang mengarah pada implementasi pendidikan karakter yang baik (Doni Koesoema, Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, 2007).

Pertama, guru bertindak sebagai pengasuh, teladan, dan pembimbing.  Sudah seharusnya kita memperlakukan siswa dengan penuh cinta dan rasa hormat, mengkondisikan terciptanya keteladanan yang baik, mendukung perilaku sosial yang positif, memperbaiki perilaku yang merusak, entah karena perilaku individu atau kelompok, melalui pendampingan yang sifatnya personal dan individual, tahap demi tahap dengan penuh kesabaran, dan mengangkatnya menjadi kepihatinan  seluruh kelas.

Kedua, menciptakan sebuah komunitas moral.  Guru semestinya membantu setiap siswa untuk dapat saling menghargai satu sama lain, memandang yang lain sebagai pribadi yang unik, memiliki rasa hormat, saling mengasuh satu sama lain, dan merasakan diri mereka sebagai bagian dalam dan bertanggung jawab atas kelompok.  Lingkungan komunitas moral yang baik tidak akan memunculkan perasaan ketidakadilan yang dialami siswa oleh sikap dan tutur kata yang dilakukan oleh guru.

Ketiga, menegakkan disiplin moral melalui kesepakatan yang telah ditentukan sebagai aturan main bersama.  Disamping tata tertib sekolah (yang biasanya dalam penyusunannya tidak melibatkan siswa), setiap kelas hendaknya memiliki kesepakatan bersama untuk menciptakan suasan belajar yang kondusif, yang mereka rumuskan bersama-sama, sehingga siswa pun menyadari bahwa peraturan itu mengikat mereka, tetapi tidak membatasi kebebasan mereka.  Sebaliknya mereka memahami bahwa hidup bersama membutuhkan penghayatan akan kebebasan yang bertanggungjawab bagi yang lain, sebab dengan cara inilah mereka dapat menghargai satu sama lain.

Keempat, menciptakan sebuah lingkungan kelas yang demokratis, dengan cara melibatkan siswa dalam mengambil keputusan dan bertanggungjawab bagi terbentuknya kelas sebagai tempat belajar yang menyenangkan, bukannya yang menyeramkan sehingga siswa enggan untuk masuk sekolah, atau sengaja menghindar dengan membolos apabila hari-hari tertentu dia akan bertemu guru yang menurutnya teramat menyebalkan.  Kelas yang dinamis adalah kelas yang berpenghuni siswa yang siap belajar dengan siapa pun juga, karena mereka punya keyakinan bahwa sosok guru yang hadir di kelasnya adalah sosok yang berkarakter baik dan konsisten.

Kelima, mempergunakan metode pembelajaran melalui kerja sama agar siswa semakin mampu mengembangkan kemampuan mereka dalam memberikan apresiasi atas pendapat orang lain, berani memiliki pendapat sendiri, mampu dan mau bekerja sama dengan yang lain demi berhasilnya tujuan bersama.  Melibatkan sebanyak mungkin peran siswa dalam proses pembelajaran adalah kesempatan emas untuk mengeksplorasi soft skills siswa yang mengarah pada terbentuknya karakter-karakter yang baik.

Keenam, membangun sebuah rasa ‘tanggungjawab bagi pembentukan diri’ dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kesediaan para siswa untuk  belajar, menyemangati kemampuan mereka untuk dapat bekerja keras, memiliki komitmen pada keunggulan, dan penghayatan akan nilai kerja yang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain.  Guru harus konsisten dan obyektif dalam memberikan rewards and punishments.

Ketujuh, mengajak siswa berani mimikirkan dan mengolah persoalan yang berkaitan dengan konflik moral, melalui bacaan, penelitian, penulisan esai, kliping koran, diskusi, debat, apresiasi film, dll.

Kedelapan, melatih siswa untuk belajar memecahkan konflik yang muncul secara adil dan damai tanpa kekerasan sehingga para siswa memperoleh ketrampilan moral esensial ketika harus menghadapi persoalan serupa di dalam hidup mereka.  Perlu dilatihkan kepada siswa bagaimana mereka terampil berperan sebagai mediator, penengah, dan pemecah konflik, sehingga konflik yang mengarah pada perpecahan selalu bisa dihindari.

Pertanyaannya adalah, “Sudahkan kita menjadikan semua tersebut di atas sebagai bekal saat kita mengambil peran menjadi seorang fasilitator di dalam kelas?” Tak perlu merasa sendiri, sebab apa yang tertulis tersebut adalah nilai-nilai yang sangat mungkin untuk diterapkan di rumah.  Karena bagaimanapun keluarga adalah unit sosial terkecil yang berpotensi besar untuk membentuk karakter siswa didik, menuju karakter-karakter baik atau sebaliknya, kitalah yang memegang peranan tersebut.   Keyakinan bahwa perbuatan baik sekecil apapun yang kita lakukan pastilah memberikan sumbangan besar bagi perubahan dan kebaikan dalam dunia kita, paling tidak bagi kita sendiri, sebab kita dapat menemukan makna dari setiap tindakan yang kita lakukan.  Mengubah dunia dengan memulainya dari diri kita, itulah awal setiap pendidikan karakter.***

 (Yohana Kristianti, S.Si

Pendidik di SMP Negeri 1 Purbalingga)

 

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response