Peduli Kuatno, IMM Banyumas Serahkan Ribuan Pisang ke Polres Cilacap

Ditulis 08 Jan 2012 - 18:45 oleh Banyumas1

ilustrasi

CILACAP  – Kepedulian terhadap Kuatno (22),  seorang pemuda warga Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara,  Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang diduga  menderita keterbelakangan mental atau idiot namun menjadi tahanan polisi dan dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cilacap karena tertangkap basah mencuri buah pisang kepok, ditunjukkan oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Banyumas, dengan mendatangi Mapolres Cilacap, Sabtu (07/01). Mereka menyerahkan ribuan pisang sebagai bentuk protes terhadap langkah Polres Cilacap yang tetap memproses hukum pencuri pisang itu.

Aktifis demo datang sekitar pukul 14.30 dengan naik sepeda motor dan membawa serta sebuah mobil bak terbuka bertuliskan “Gerakan 1.000 Pisang untuk Kuatno”. Mobil tersebut mengangkut pisang berbagai jenis, yang dikumpulkan oleh  IMM selama dua hari sebelumnya, di sekeretariat IMM Banyumas, Jl. Dr Angka, Purwokerto. Selain mengumpulkan pisang, perwakilan juga mengunjungi keluarga Kuatno di rumahnya.

Koordinator aksi Erfan Faturohman mengatakan aksi ini bukan berarti mereka mendukung aksi pencurian, tetapi lebih menginginkan keadilan ditegakkan.  Menurutnya, Kuatno lemah mental sehingga  dia harus dibebaskan karena tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Saat aksi berlangsung tidak ada satu pun perwira polisi yang terlihat di Markas Polres Cilacap. Kendati demikian para aktivis IMM Banyumas tetap menyerahkan ribuan pisang yang telah mereka kumpulkan kepada dua PNS yang sedang jaga.

Kuatno dan 15 tandan pisang

Seperti diketahui, Kuatno bersama seorang kawannya, Topan (25), tertangkap basah mencuri buah pisang di Desa Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, Cilacap pada 11 November 2011 sekitar pukul 10.00 WIB. Saat ditangkap, polisi menemukan 15 tandan pisang di tempat kejadian perkara.

Akan tetapi berdasarkan pengakuan tersangka, mereka baru sekali melakukan pencurian dan hanya sebanyak sembilan tandan pisang. Setiap tandan pisang pisang akan dijual dengan harga Rp10 ribu dan uangnya untuk membeli rokok.

Kejaksaan Negeri Cilacap saat menerima pelimpahan tahap dua dari Polres Cilacap, segera melakukan pemeriksaan psikologi terhadap para tersangka, dengan mendatangkan dua psikolog dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap. Pemeriksaan psikologi ini dilakukan lantaran adanya berbagai pemberitaan yang menyebutkan jika Kuatno mengalami keterbelakangan mental.

Berdasarkan pemeriksaan psikologi tersebut, diketahui kedua tersangka mengalami retardasi mental (lemah mental). Oleh karena itu, Kejari Cilacap tidak bersedia menerima penyerahan tersangka dan barang bukti dari Polres Cilacap.

Terkait hal itu, Polres Cilacap mendatangkan psikolog dari Universitas Indonesia Prof Dr Sarlito Wirawan untuk memeriksa psikologi kedua tersangka. Hasilnya, kedua tersangka dinyatakan normal, sehingga Polres Cilacap pun menyerahkan para tersangka ke Kejari Cilacap.

Kendati sempat menolak, Kejari Cilacap akhirnya menerima pelimpahan tahap dua tersebut, tetapi kedua tersangka tidak ditahan selama menunggu proses hukum selanjutnya. Kepala Kejari Cilacap Sulijati mengatakan, pihaknya memiliki kewenangan untuk menghentikan penuntutan jika polisi tetap melimpahkan tahap dua.

Sementara, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Cilacap Eko Bambang Marsudi mengatakan, berkas perkara kedua tersangka akan diteliti dan dipertimbangkan apakah akan dilimpahkan ke pengadilan atau dihentikan. (BNC/ln/ist).

Tentang Penulis

Leave A Response