Hari Jadi Purbalingga ke-181 : Dari Tahun Keprihatinan Menuju ke Tahun “Dandan-dandan”

Ditulis 18 Des 2011 - 19:26 oleh Banyumas1

MEMASUKI penghujung tahun 2011, tepatnya Minggu (18/12) usia Kabupaten Purbalingga genap 181 tahun atau hampir dua abad. Berbagai capaian pembangunan telah diraih. Meski masih ada kekurangan namun raihan ini patut disyukuri.

Pembangunan Purbalingga tahun 2010 – 2015 yang disemangati dengan visi : “Purbalingga yang maju, mandiri, dan berdaya saing menuju masyarakat sejahtera yang berkeadilan dan berakhlak mulia”, saat ini telah memasuki tahun kedua.

Seperti diketahui, duet Bupati Heru Sudjatmoko dan Wakil Bupati Sukento Ridho Marhaendrianto dilantik oleh Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Selasa (27/7/2010) silam.

“Ketika awal menjabat, pertengahan 2010 saya sebut tahun pertama sebagai tahun keprihatinan. Itu karena minimnya anggaran pembangunan sehingga perlu adanya berbagai efisiensi pada pos-pos belanja tertentu,” ujar Bupati Heru Sudjatmoko.

Memasuki tahun kedua, 2011, Heru menyebut sebagai tahun “Dandan-dandan” atau tahun perbaikan. Utamanya, perbaikan infrastruktur untuk meningkatkan perekonomian, kenyamanan, keselamatan dan keamanan masyarakat. Dan berkat kerja keras duet Heru Sudjatmoko yang dikenal sebagai birokrat ulet dan Sukento sebagai mantan pejabat di Bank Mandiri–keduanya putra daerah—kini pembangunan Purbalingga mulai membuahkan hasil signifikan, seiring kenaikan aliran dana ke Purbalingga.Yakni meliputi kenaikan Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Alam dan berbagai dana lainnya. Kemajuan Purbalingga pun terus menggeliat.

Tengoklah dalam hal produktivitas pertanian, patut disyukuri bahwa sepanjang tahun 2011 Purbalingga masih dianugerahi curah hujan yang cukup, sehingga tidak terlalu mengganggu produktivitas hasil pertanian. Produksi padi sebagai salah satu komoditas pangan utama masyarakat, terus meningkat.

Sampai pertengahan tahun 2011 luas areal tanaman padi 17.724 hektar menghasilkan produksi beras sebanyak 59.444 ton. Surplus beras di Purbalingga mencapai 17.045 ton. Kondisi surplus beras semakin memperkuat ketahanan pangan di purbalingga.

Peta ketahanan pangan Jawa Tengah menunjukan ada 30 kabupaten/ kota yang sangat tahan, dan 5 kabupaten yang masuk kategori tahan. “Kabupaten purbalingga termasuk salah satu dari 30 kabupaten/kota yang sangat tahan terhadap ketahanan pangan,” ujar Heru Sudjatmoko.

Demikian pula ekonomi purbalingga juga mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Tahun 2010, ekonomi Purbalingga tumbuh sebesar 5,85 persen. Tahun 2011, kondisi hingga bulan juni pertumbuhan ekonomi naik menjadi 6,2 persen.

Dibidang investasi, Kabupaten Purbalingga masih dinilai menarik bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya.Purbalingga menyumbangkan 56,10 persen investasi industri se-Indonesia dengan nilai U$ 19.033.000 dari total U$ 4 21.985.000 dalam skala nasional.

“Investasi tertinggi disumbang dari sektor rambut dan bulu mata palsu. Seperti diketahui, Purbalingga sebagai pusat manufaktur rambut dan bulu mata palsu terbesar kedua di dunia, setelah Guangzhou, China,” ujarnya.

Pada pertengahan tahun 2011, jumlah Penanaman Modal Asing (PMA) di bidang rambut dan bulu mata palsu ini sebanyak 18 perusahaan dengan nilai investasi mencapai Rp. 184.681.742.560,-, dan jumlah PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) sebanyak 14 perusahaan dengan nilai investasi mencapai Rp 46.732.499.000,-. Total investasi swasta ini mengalami peningkatan sebesar 3,9 persen dibanding tahun 2010 sebesar Rp. 177.821.742.560.

Di bidang pembangunan kesehatan menunjukkan kinerja yang semakin baik, dan bahkan melampauai target pembangunan kesehatan secara nasional dan target Milennium Development Goal (MDGS). Dalam hal ini, angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2010 sebesar 11 per 1.000 kelahiran, sementara target nasional 24 per 1.000 kelahiran. Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 98 per 100.000 kelahiran, sedang target nasional 2014 sebesar 118 per 100.000 kelahiran. Untuk cakupan imunisasi balita telah mencapai 100 persen, sementara secara nasional pada tahun 2014 baru mentargetkan 90 persen.

“Keberhasilan ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan angka indeks pembangunan manusia atau IPM,” ujar Heru Sudjatmoko.
Semakin meningkatnya pelayanan kesehatan diindikasikan dengan semakin membaiknya derajat kesehatan masyarakat, yang antara lain ditandai dengan meningkatnya usia harapan hidup. Usia harapan hidup pada akhir tahun 2010 adalah 69,7 tahun.

Tak kalah pentingnya, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan sarana irigasi yang saat ini sudah, sedang dan terus dilanjutkan, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. “Keluhan masyarakat soal infrastruktur khususnya jalan yang rusak, yang membanjiri lewat SMS di koran-koran, sedikit demi sedikit kami perbaiki, tentunya dengan mengedepankan skala prioritas dan kemampuan keuangan yang ada,” ujarnya.

Untuk pembangunan infrastruktur dalam skala besar, lanjut Heru Sudjatmoko, juga terus diupayakan dengan dukungan dana dari Pemerintah Provinsi Jateng maupun Pemerintah pusat. Infrastruktur yang kini tengah dibangun yakni Bendung Slinga yang menelan dana APBN Rp 47.373.616.602.

Diharapkan, bendung slinga akan selesai pada tahun 2012 dan akan mampu mengairi lahan sawah seluas 6.727 hektar di wilayah Kecamatan kaligondang dan sekitarnya, sehingga akan meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Bendung slinga juga akan membuka aksesibilitas wilayah Kaligondang dengan Bojongsari melalui jembatan yang dibangun sepanjang 110 meter.

Pada tahun 2012, juga tengah diupayakan pembangunan jembatan di bagian hilir sungai klawing yang menghubungkan wilayah desa Kedungbenda, Kecamatan kemangkon Purbalingga dengan Desa Petir Kecamatan Kalibagor Banyumas. Jembatan yang diberi nama “Linggamas” telah disepakati antara Pemerintah Kabupaten purbalingga dengan Kabupaten Banyumas. Dua kabupaten telah mengalokasikan anggaran pada APBD 2012 masing-masing Rp 7,5 milyar, atau total Rp 15 milyar. Sementara biaya total pembangunan diperkirakan Rp 20 milyar. Kekurangannya akan dimintakan ke Pemprov Jateng.

Diharapkan, pembangunan jembatan ini akan mampu membuka jalur ekonomi baru dan meningkatan kesejahteraan masyarakat kedua Kabupaten, terutama Purbalingga.

Sesungguhnya, di luar capaian pembangunan dan berbagai penghargaan itu, Kabupaten Purbalingga ke depan masih menghadapi tantangan , utamanya pengangguran.Saat ini, dari 18 PMA dan 44 PMDN yang bergerak di sektor rambut, dengan serapan tenaga kerja lima puluh ribu lebih, 90 persennya adalah tenaga wanita. Akibatnya, banyak tenaga kerja pria yang mengganggur.

Jumlah penganggur itu diprediksi akan bertambah, seiring dengan terjadinya krisis ekonomi global yang melanda dunia saat ini. Tentu, ini pekerjaan rumah (PR) tersendiri bagi pengambil kebijakan di Purbalingga, untuk segera mengatasi masalah pengangguran. Dirgahayu Purbalingga ! (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response