PNS Diminta Seperti ”Teken Janggut, Suku Jojo”

Ditulis 31 Okt 2011 - 21:59 oleh Banyumas1

PURBALINGGA (BNC) – Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus bekerja dengan totalitas dan loyalitas yang tinggi kepada negara. Falsafah Jawa ’Teken Janggut, Suku Jojo” seharusnya mampu menginspirasi PNS.

”Seperti kisah seorang senopati dalam pewayangan, saat berjuang membela negaranya, meskipun tangan dan kakinya terluka sehingga berjalanpun dengan dada dan bertongkatkan dagu. Ini wujud loyalitas dan totalitas yang luar biasa, bisa menjadi inspirasi kita semua,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Purbalingga Ir Sigit Subroto MT saat bertugas memberikan amanat dalam Upacara Luar Biasa Hari Senin (31/10) di Halaman Pendopo Dipokusumo.

Sigit juga mengingatkan para peserta Upacara yang terdiri dari PNS perwakilan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), tentang Prasetya ketiga dalam Panca Prasetya KORPRI berbunyi ”mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan”. Prasetya ketiga ini sangat jelas bagaimana totalitas dan loyalitas kerja seorang PNS dituntut lebih kepada kepentingan negara dan masyarakat.

”Memang ada kalanya dalam situasi tertentu, kita sebagai PNS harus mengurus kepentingan pribadi saat jam-jam kerja, misal mengurus keluarga yang sakit, mengurus anak sekolah. Tapi, yang harus diperhatikan, jangan sampai kepentingan pribadi itu mengganggu pekerjaan,” ujarnya.

PNS dan ’Tangan’

Dalam amanatnya, Sigit juga menyampaikan wejangan unik hubungan antara PNS dengan ’Tangan’. Yang pertama, ’jabat tangan’. Jika PNS saling bertemu biasanya jabat tangan yang menunjukkan upaya memperkuat persaudaraan. Kedua, ’tanda tangan’. Maksudnya, setiap PNS disodorkan untuk tanda tangan, sebaiknya membaca dulu apa yang ditanda tangani, karena setiap tanda tangan mengandung konsekuensi.

Ketiga, ’buah tangan’. Sudah selayaknya PNS hati-hati menerima buah tangan dario pihak-pihak yang berurusan dengannya karena hal ini bisa berakibat fatal terkait dengan aturan gratifikasi dalam kasus suap-menyuap.

Keempat, ’cuci tangan’. Jangan sampai PNS ketika menghadapi situasi yang rumit tidak mau bertanggung jawab dan memilih cuci tangan. Kelima, ’angkat tangan’. PNS sebaiknya tidak menolak tugas dari atasan kecuali tugas itu melanggar aturan perundang-undangan. Keenam, ringan tangan. Sudah seharusnya PNS ringan tangan dalam bekerja. Diberi tugas sesuai tupoksi oleh pimpinan harus langsung mengerjakan. Ketujuh, yang paling celaka kalau PNS sudah tersangkut masalah dan tak mampu membela diri, akhirnya hanya mampu ’sorong tangan’ untuk diborgol.

”Kalau sudah begini, paling-paling kita hanya bisa ’menengadahkan tangan’ sambil menyeka air mata dengan ’sapu tangan,” pungkasnya. (BNC/cie)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Alaa 07/02/2012 pukul 08:06 -

    Tahniah MRY!Kejayaan anda amat mbknaeggaman dan seharusnya menjadi ikutan saintis-saintis muda yang lain.

Leave A Response