Keterwakilan Perempuan di Legislatif Memprihatinkan

Ditulis 24 Okt 2011 - 12:23 oleh Banyumas1

PURBALINGGA (BNC) – Keterwakilan perempuan di legislatif baik secara kuantitatif maupun kualitatif, masih memprihatinkan. Masih banyak pemilih perempuan yang meragukan kapabilitas dan kompetensi calon-calon legislatif (caleg) perempuan. Sementara, para anggota legislatif perempuan terpilih juga belum mampu menunjukkan eksistensinya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Menurut Data KPUD Purbalingga, jumlah pemilih perempuan seimbang dengan jumlah pemilih laki-laki, yaitu sebesar 50%. Dalam Pemilihan Anggota Legislatif Tahun 2009 lalu, jumlah caleg perempuan mencapai 112 orang.

“Jika slogan ‘Perempuan Memilih Perempuan’ terealisasi, seharusnya saat ini terdapat minimal 22 anggota legislatif perempuan. Kenyataannya, di DPRD Kabupaten Purbalingga hanya ada 10 anggota legislatif perempuan,” ujar Ketua KPUD Purbalingga Heri Sulistiono ST saat memberikan sambutan dalam Pendidikan Pemilu Untuk Perempuan di Purbasari Pancuranmas, Sabtu (22/10).

Heri menambahkan secara umum angka partisipasi perempuan dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 jauh lebih baik dari tahun 2004. Pada tahun 2004, jumlah calon tetap perempuan hanya mencapai 71 orang dan tahun 2009 meningkat hingga 112 orang. Namun secara prosentasi keterwakilan atau perbandingan jumlah calon terpilih dengan calon tetap justru menurun. Jika tahun 2004 prosentase keterwakilan perempuan mencapai 11,27% tahun 2009 menurun hingga 8,93%.

Ada satu daerah pemilihan (dapil) yang selama dua kali pemilu tidak terdapat calon legislatif perempuan, yaitu Dapil – 5 yang mencakup Kecamatan Mrebet, Bobotsari, Karangreja dan Karangjambu. Tapi ada juga Dapil yang daftar calon tetap perempuan relatif banyak selama dua kali pemilu, yakni Dapil – 3 (Kemangkon, Bukateja, Purbalingga) dan Dapil – 4 (Kutasari, Bojongsari, Padamara, Kalimanah).

“Faktanya, angka partisipasi perempuan di perkotaan relatif lebih baik dibandingkan di perdesaan. Mungkin karena di perkotaan, perempuan relatif memiliki banyak kesempatan mengakses beragam informasi dibandingkan yang berada di perdesaan,” imbuhnya.

Salah satu fasilitator kegiatan dari KPUD Brebes, Widyawati SP, menambahkan banyak perempuan belum memahami dan memanfaatkan haknya yang sejajar dengan pria dalam kehidupan berpolitik. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang telah duduk di posisi strategis, masih meragukan kemampuan dirinya sendiri.

“Untuk hal sepele, sering ibu-ibu itu masih sungkan berpendapat kalau ada rapat-rapat RT. Mau bilang tidak setuju takut dan ragu-ragu. Padahal, bisa jadi forum itu tidak mempermasalahkan apapun pendapatnya. Mungkin hal yang sama juga terjadi di legislatif,” jelasnya.

Widyawati menambahkan, sebenarnya perempuan memiliki potensi yang luar biasa dalam proses demokratisasi di negeri ini. Sebab, selain karena jumlah perempuan memang banyak, sifat dasar perempuan senang berkumpul dan mengobrol.

”Nah, kalau sudah ngumpul pasti ngrumpi. Kalau sudah begini ibu-ibu betah sekali berjam-jam. Daripada ngrumpi sesuatu yang tidak penting dan hanya bikin dosa, kenapa para ibu ini tidak memanfaatkan minatnya berkumpul dengan mengobrol tentang sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat seperti dalam forum diskusi dalam RT?” ujarnya. (BNC/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response